[Oneshoot] I Know… I’m Late…

I know,, I'm Late Cover

Tittle          : I Know… I’m Late…

Author       : BaekMinJi93

Genre       : School Life, Bullying, Romance, Angst

Ratting      : PG-15

Main Cast  :

– Park Chan Yeol,

– Choi Min Ji (OC),

– Oh Se Hun

Support Cast :

– Byun Baekhyun,

– Jung Han Na (OC),

– Shin Ah Rim (OC),

– Im Min Ah (OC)

Disclaimer  : All things related in this post, is the right of mine .. Including OC and EXO Hehehe 😀

Summary                                 :

Seperti halilintar, aku terlalu terlambat

Dan sekarang akhirnya aku melihatmu

Aku terlambat ketika aku memanggilmu

Sekarang aku tahu, dan sekarang aku jatuh cinta padamu…

(EXO – Thunder)

“A-aku menyukaimu, Sunbae-nim. A-aku ingin Cha-Chanyeol sunbae menjadi… kekasihku”

Seorang gadis dengan penampilan yang sangat tidak meyakinkan sedang menyatakan perasaannya pada seniornya. Tidak meyakinkan? Bagaimana tidak, gadis dengan name tag ‘Choi Min Ji’ itu memakai kacamata bulat dan besar, rambutnya yang diikat menjadi seperti ekor kuda, jas serta kemeja seragam sekolah yang terlihat longgar, dan juga rok dengan panjang dibawah lutut. Sangat berbeda dengan cara berpenampilan para siswi lainnya.

Saat ini ia sedang berada di kantin sekolah, dan disini ia sedang berhadapan dengan seorang namja yang merupakan siswa terpopuler di sekolahnya. Park Chan Yeol. Ya seperti yang dikatakan sebelumnya, Min Ji sedang menyatakan perasaannya pada namja itu. Ia meremas ujung kemeja seragamnya. Ia sangat gugup saat ini. Selama ini, Min Ji hanya berani mengungkapkan perasaan terdalamnya lewat buku diary nya dan terkadang ia juga sering mencuri-curi pandang saat ia berpapasan dengan seniornya tersebut.

Chanyeol melihat penampilan Min Ji mulai dari atas hingga bawah. ‘Benarkah gadis ini menyatakan perasaannya padaku? Apa dia sudah gila?’ Batin Chanyeol geli. Tanpa ia sadari, Chanyeol mengeluarkan tawa mengejek.

“Hai.. Apa kau serius dengan perkataanmu barusan? Kau pikir kau ini siapa? Lihatlah penampilanmu saat ini. Kalau aku boleh berkata jujur, sebenarnya kau jauh dari kata ideal type ku. Hm, mungkin kau bisa menyimpulkan sendiri jawabanku untukmu.”

Setelah selesai mengatakan hal itu, Chanyeol beranjak pergi dari tempatnya semula. Tetapi ia sempat menepuk pelan bahu gadis itu, dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya. “Hm, kupikir kau sedang tidak beruntung hari ini. Selamat mencoba di lain hari, ya.” Setelah itu, Chanyeol benar-benar menghilang dengan tawa puasnya.

Rona merah perlahan muncul di wajah Min Ji. Ia sangat malu hari ini. Gadis itu segera menundukkan kepala dan menggenggam kedua tangannya erat. Semua siswa yang ada di tempat itu seolah dikomando untuk berbisik dan menatapnya dengan tatapan meremehkan. Oh, jangan lupakan tatapan tajam dari siswi-siswi yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar Chanyeol. Tanpa terasa bulir-bulir kristal mulai jatuh menghiasi warna kulit putih wajahnya.

***

“Kulihat kau baru saja menolak gadis ‘Nerd’ itu ya? Siapa namanya? Minnie? Min Joo? Ah, entahlah. Aku tidak peduli” Baekhyun menekankan kata ‘Nerd’ ketika mengatakannya. Saat ini, ia dan Chanyeol sedang berkumpul di markasnya.

Byun Baekhyun. Siswa tingkat akhir Seoul International High School, yang merupakan satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Chanyeol. Dan yang dimaksud markas oleh mereka berdua adalah tentu saja ruang musik. Disana mereka dapat meluapkan hobi mereka –termasuk saat melakukan pelarian bolos pelajaran-. Jadi bisa dikatakan bahwa ruang musik bagi mereka adalah rumah kedua mereka selain rumah dalam arti yang sebenarnya.

Chanyeol menghentikan kegiatan memetik senar gitarnya kemudian ia menyahut perkataan sang sahabat. “Ya, bisa dibilang seperti itu. Aku bahkan tidak tahu siapa nama gadis ‘Nerd’ itu. Hm, kurasa aku baru pertama kali melihatnya tadi.”

Baekhyun membelalakkan matanya terkejut. “What?! Pertama kali melihatnya?!”

Chanyeol menganggukkan kepalanya pelan. “Wae?! Kenapa ekspresimu sangat heboh seperti itu?”

“Kau tidak pernah melihat gadis itu dibully oleh Jung Han Na di ruang loker?”

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Ani. Wae? Lagipula aku tidak peduli dengan urusan mereka.”

Baekhyun menggeleng-nggelengkan kepalanya heran. “Kau parah.”

Mendengar hal itu, Chanyeol hanya menampakkan senyum polosnya. Ia kembali memetik senar gitarnya dan memainkan nada lagu yang dinyanyikan oleh Bruno Mars, ‘Nothing On You’. Sesekali ia ikut bernyanyi pelan mengikuti nada lagunya, sebelum Baekhyun menggumamkan sesuatu yang mengejutkannya. Dan sontak ia menghentikan permainan gitarnya.

“Jika dilihat-lihat, kupikir gadis ‘Nerd’ itu terlihat manis.”

***

Bel pulang sekolah mulai berdering. Seperti biasa Min Ji segera membereskan barang-barang dan secepat mungkin pergi ke lokernya. Tepat saat ia menutup pintu lokernya, Min Ji dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang sangat familiar baginya. Jung Han Na, Shin Ah Rim dan Im Min Ah.

“Hai, kita bertemu lagi ‘Nerdy Girl’” Sapa Min Ah dengan nada manis yang sangat terlihat dibuat-buat.

Tanpa sadar, Min Ji memundurkan langkahnya. Melihat hal itu, ketiga gadis dihadapannya menatapnya marah. “Ya!, kenapa kau melangkah mundur? Kau takut?” Sekarang Ah Rim lah yang mulai bersuara.

Min Ji terus melangkah mundur. Ia terus menundukkan kepalanya. Ketiga gadis itu terus mengikutinya, sampai akhirnya Min Ji mulai terpojok ketika punggungnya terbentur dinding. Ketiga gadis itu tersenyum puas. Dan sang ketua –Jung Han Na- mulai melangkah maju menghampiri Min Ji.

“Hai… Kenapa kau menunduk. Angkat kepalamu dan tatap wajah kami” Terakhir, Han Na menyapanya dengan nada yang sok ramah.

Min Ji tetap pada posisinya semula, tidak berani hanya untuk sekedar melirik Min Ah, Ah Rim atau bahkan Han Na. Ia sudah menyangka sebelumnya, jika ia akan diperlakukan seperti ini seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan Min Ji pikir akan lebih parah dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia mengalami hal ini hanya untuk kesenangan para gadis-gadis itu, namun kali ini masalahnya sangat berbeda. Sudah bisa ia duga, hari ini Han Na akan membahas tentang…

“Apa yang kau lakukan pada Chanyeol oppa saat di kantin tadi?!”

‘Bingo! Sepertinya mulai hari ini, aku akan merubah profesiku dari seorang pelajar menjadi seorang peramal’ Ujar Min Ji dalam hati. Oh ayolah, ini sangat mendesak dan Min Ji masih sempat memikirkan hal yang tidak penting tersebut. Benar seperti dugaannya, Han Na akan membahas tentang sikap memalukannya siang tadi. Dan ia tahu, saat ini Han Na dibuat sangat marah olehnya karena hal itu.

“Kau pikir dengan cara tersebut, Chanyeol oppa akan menerimamu?!” Timpal Ah Rim sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Hei! Hal itu hanya ada dalam mimpimu” Min Ah menghela napasnya kasar dan memutar bola matanya malas. Sedetik kemudian, Min Ah mengubah ekspresi wajahnya seolah baru teringat akan sesuatu. “Oh, Han Na-ya. Kau tahu reaksi Chanyeol oppa pada gadis ‘Nerd’ ini?”

Min Ah melirik remeh pada Min Ji. Han Na yang mendengar itu merubah wajahnya seolah penasaran. “Aku tidak tahu. Memang kalian tahu reaksinya?”

Min Ah mengangguk mantap dan memberi kode pada Ah Rim untuk mengatakan jawabannya bersama. “Chanyeol oppa menolaknya dan mengatakan bahwa ‘Nerd’ ini bukanlah tipenya.”

Setelah mengatakan hal ini, ketiga gadis itu tertawa puas bersama. Mereka menganggap hal ini sangatlah lucu. Han Na menghentikan tawanya dan tersenyum angkuh. “Jadi…” Han Na menggantungkan perkataannya dan mengangkat dagu Min Ji. “Kau sudah tahu kan? Chanyeol oppa tidak akan pernah menerimamu. Hm.. apa kau pernah merasa Chanyeol oppa melirikmu sedikit saja? Kurasa tidak. Dan satu hal lagi yang perlu kau tanamkan di pikiranmu baik-baik. Berhentilah mengharapkan hal yang sangat mustahil itu!”

Min Ji masih tidak mengatakan apa-apa. Di pelupuk matanya sudah ada benda bening yang ingin mendesak untuk keluar dari sarangnya. Matanya berkaca-kaca. Han Na dan teman-temannya yang melihat reaksi Min Ji kembali tertawa.

“Uuuh, kau ingin menangis ‘Nerdy Girl’? Kau ingin mengadu pada siapa? Semua siswa sudah pulang sejak tadi. Dan sekarang kau SENDIRIAN. Haha.”

Ah Rim menekankan kata SENDIRIAN saat mengatakannya. Hal itu berhasil membuat hati Min Ji mencelos. ‘Benar, aku sendirian selama ini. Semua orang berpikir, aku hanyalah seorang ‘Nerdy Girl’. Tidak lebih. Dan dengan bodohnya aku mengharap ada seseorang yang akan menolongku saat ini. Sadarlah Choi Min Ji! Sadarlah!’ Batin Min Ji mulai berkata lagi. Ia segera menyembunyikan wajahnya dan kembali menunduk.

“Hm, sepertinya ada yang kurang jika kita mengakhirinya sampai disini. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran untukmu, Nona Choi. Mengingat selama ini aku hanya mengejekmu dan terus mengejekmu tanpa melakukan apapun padamu. Aku bosan.”

Han Na berpura-pura mengerucutkan bibirnya. Mendalami perannya seakan ia benar-benar bosan saat ini. Tiba-tiba Han Na menyentak rambut lurus milik Min Ji, tentu saja sang korban mau tidak mau harus memekik tertahan. Bahkan tidak hanya itu saja, Han Na mulai meraba saku rok seragamnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk lingkaran yang tidak sempurna –lebih ke berbentuk oval- dan berwarna peach. Sebuah telur ayam.

“A-apa yang a-akan kau lakukan, Han Na-ssi?!” Ucap Min Ji terbata. Han Na tertawa remeh mendengar pertanyaan Min Ji yang menurutnya sangat tidak penting untuk dijawab.

“Bukankah telur memiliki kandungan protein yang bagus untuk menutrisi kesehatan rambutmu, Nerdy Girl? Kupikir gadis pintar sepertimu sudah tahu. Daripada kau membeli shampoo dengan kandungan aroma telur didalamnya, ini lebih alami dan tentunya… GRATIS!”

Dapat Min Ji rasakan, perlahan tapi pasti Han Na mulai melepas ikat rambut Min Ji. Jemari lentik Han Na juga mengusap surai rambut Min Ji dengan lembut, bahkan gadis itu juga sempat memuji rambut halus milik Min Ji. Tetapi didalam hati kecil Min Ji, ia tahu itu hanyalah sebuah basa-basi dari mulut tajam milik Han Na.

‘Tuhan.. Lindungilah aku dari perbuatan-perbuatan jahat gadis-gadis ini. Aku mohon..’ Min Ji terus mengumamkan doa nya dari dalam hatinya.

Telur yang sedari tadi dipegang oleh Han Na tersebut akan berhasil dipecah tepat diatas kepala Min Ji, jika saja tidak ada suara seseorang dibelakang mereka yang menghentikan kegiatannya.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disana?!”

“Sial!” Umpat Han Na pelan. Ia segera menyembunyikan telurnya sebelum orang tersebut mengetahui niat jahatnya.

Terdengar suara langkah seseorang mendekati mereka. Ah Rim membalikkan badan lebih awal untuk berniat melihat orang yang mengganggu kesenangan mereka bertiga. Dan sedetik kemudian, ia membelalakan matanya terkejut.

“Ha-Han Na-ya. Berbaliklah sekarang!” Bisik Ah Rim dengan nada terbata.

Han Na menghempaskan tangannya kesal. “Aiish, aku malas sekali. Aku sangat malu saat ini.”

Dan sekarang Min Ah ikut membalikkan badannya, penasaran dengan alasan sahabatnya menjadi gugup seketika. Sedetik kemudian, reaksinya saat ini sama dengan Ah Rim. “Be-benar, Han Na-ya. Ka-kau harus berbalik sekarang juga!”

Min Ji yang merasa mulai ada hawa menegangkan di sekitarnya, mulai membuka kedua matanya. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tanpa sadar, ia ikut membelalakkan kedua mata yang sebelumnya terpejam itu.

Han Na yang mulai kesal karena kedua sahabatnya kompak menyuruhnya berbalik badan, akhirnya ia menuruti juga. Setelah sebelumnya sempat menggerutu. “Aiish, kalian ber-..”

“Ba-Baekhyun sunbae?!” Pekik ketiga gadis itu bersamaan.

***

Min Ji berjalan pelan menyusuri jalanan menuju rumahnya. Sesekali ia menjumpai kerikil-kerikil kecil yang menghambat langkahnya dan menendangnya. Didalam pikirannya masih terngiang kata-kata yang masih belum ia percayai bahwa perkataan itu bisa keluar dari mulut seorang Byun Baekhyun –yang ia ketahui adalah satu-satunya sahabat dari seseorang yang sangat ia puja-.

#Flashback On

“Benarkah kau yang menyatakan perasaanmu pada Chanyeol siang tadi di kantin? Kupikir Chanyeol menolakmu secara sepihak karena ia berpikir bahwa penampilanmu terlalu-…”

Perkataan tersebut terinterupsi karena Min Ji segera memotongnya. “Aku tahu, sunbae. Seharusnya aku lebih-..”

“Bu-bukan seperti itu maksudku. Yang kumaksud adalah.. Jika kau ingin mendekatinya, hm.. sebaiknya rubahlah.. rubahlah.. Ah, kurasa kau tahu apa yang ingin kukatakan” Baekhyun merasa tidak enak hati jika ia mengatakan hal itu secara langsung pada Min Ji.

Min Ji mengerutkan alisnya. “Apakah yang sunbae maksud adalah merubah penampilanku?” Tebak Min Ji asal. Sepertinya sedikit banyak ia sudah mengerti arah pembicaraan ini.

Baekhyun menganggukkan kepalanya antusias. “Ne! Kau pintar sekali menebak arah pembicaraanku. Yah, mungkin jika kau sedikit merubah penampilanmu yang err.. itulah. Kau sudah mengerti maksudku, kan? Mungkin itu sedikit banyak usahamu dalam mendekati Chanyeol akan berhasil. Selamat mencoba.”

#Flashback Off

‘Benarkah secara tidak langsung Baekhyun sunbae telah mencoba untuk membantuku? Apakah hanya itu satu-satunya cara untuk mendekatinya? Tapi jika Chanyeol sunbae benar-benar tidak menyukaiku bagaimana? Apakah usaha ini akan sia-sia?”

Batin Min Ji terus berperang antara merubah penampilannya yang sekarang atau tidak. Ia terus merenungkan hal itu dan tidak memperhatikan jalanan didepannya. Tanpa disadari dari arah berlawanan, terdapat seseorang yang mengendarai sepedanya dengan kecepatan mengayuhnya tinggi. Min Ji terus menunduk dan tidak mengetahui hal itu. Dan tinggal beberapa meter lagi sepeda itu dan tubuhnya akan… BBRRAAKK…

“Aaarggh, sakit sekali” Erang Min Ji pelan. Tanpa ia sadari ikat rambut dan kacamatanya telah terlepas dari tempatnya semula. Tergerailah sekarang rambut indah berwarna hitam sedikit kecoklatannya yang selama ini terus ia ikat kuda.

Seseorang juga bernasib sama seperti Min Ji, namun ia sedikit lebih parah darinya. Orang itu tertimpa sepeda kayuhnya. Dengan segera, orang itu berusaha untuk melepaskan diri dari sepeda kayuhnya. Ia mengambil kacamata dan ikat rambut milik Min Ji yang sebelumnya telah terlepas dari tempatnya. Dengan kaki yang tertatih-tatih, orang itu mencoba berjalan mendekati Min Ji.

“Maafkan aku sebelumnya, nona. Apakah nona baik-baik saja?” Tanya orang itu seraya mengulurkan tangannya berniat membantu.

Min Ji mengangkat kepalanya, sekilas berkibarlah rambut indahnya. Seseorang itu yang notabene adalah seorang namja, tersenyum sangat manis pada Min Ji. Kedua mata mereka sempat bertemu, sebelum akhirnya Min Ji menerima uluran tangan namja itu.

“Nan gwenchana. Terima kasih sudah membantu” Ujar Min Ji tersenyum simpul.

“Ah, seharusnya aku yang meminta maaf pada nona, bukannya nona yang malah berterima kasih padaku” Sahut namja itu masih dengan senyuman manis. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa, tiba-tiba ia sangat gugup saat ini dan ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang daripada sebelumnya.

Min Ji maupun namja itu sama-sama terdiam ketika melihat senyum yang dimiliki keduanya masing-masing. Bagi namja itu meskipun senyum Min Ji terkesan simpul, tetapi gadis itu tetap memancarkan aura manis dalam dirinya. Ah entahlah, ia sangat bingung untuk mendeskripsikannya saat ini. Yang terpenting baginya, gadis dihadapannya saat ini sangat manis dengan senyum yang dimilikinya itu.

Min Ji yang tersadar terlebih dahulu, segera mengalihkan pandangannya. Tanpa terasa, pipinya sudah mulai mengeluarkan rona yang sangat merah kali ini. ‘Kau ini kenapa, Ji-ya? Hanya bertatapan sekilas dengan orang ini saja, pipimu sudah terasa panas. Bagaimana jika Chanyeol sunbae yang menatapmu?’ Batin Min Ji terus memprotes reaksi Min Ji saat ini.

Namja itu berdeham pelan, menyadari kecanggungan yang terjadi diantara mereka. “Hm, apakah ini milikmu, nona?” Tanyanya seraya memberikan kacamata dan ikat rambut warna ungu milik Min Ji.

“Ne. Gomawo.” Min Ji menerima kedua benda itu dan memakainya. Ia bergumam pelan. “Kenapa kedua benda ini bisa lepas?”

“Hm, kupikir nona terlihat lebih cantik jika tidak memakai kedua benda itu” Ucap namja itu pelan, namun masih bisa didengar oleh Min Ji. Namja itu menunduk malu setelah menyadari apa yang telah diucapkannya barusan.

“Mwo? Kau mengatakan apa barusan?” Tanya Min Ji memastikan.

Namja itu menggelengkan kepalanya cepat. “Ah, ani! Aku tidak mengatakan apa-apa, nona. Hm, sebagai permintaan maafku. Apakah nona mau kuantar pulang? Kulihat kaki nona sedikit berdarah” Tawarnya sekaligus mencoba mengalihkan pembicaraannya tadi.

Tanpa bisa dikontrol sebelumnya, Min Ji terbelalak kaget. Ia sangat terkejut dengan yang dikatakan namja dihadapannya ini. ‘Belum genap satu jam aku bertemu dengannya, namja ini sudah berani menawarkan tumpangan gratis padaku dan mengantarkanku pulang? Tetapi, aku tidak mempunyai feeling buruk sedikitpun padanya. Bahkan saat ini, aku merasa aman dengannya. Ah, ada apa dengan pikiranmu saat ini, Choi Min Ji?!’ Batin Min Ji kembali berperang. Ia menatap namja itu dengan tatapan khas terkejutnya. Mata yang terbelalak dan mulutnya yang terbuka lebar.

‘Apa sebegitu terkejutnya ketika mendengarkan tawaranku padanya? Tetapi ia terlihat lucu dan manis dalam waktu bersamaan. Aiish, apa yang kau pikirkan, Oh Se Hun!’ Namja itu –Sehun- menggelengkan kepalanya pelan.

“A-aku bisa pulang sendiri. Gomawo sudah membantuku. Aku pergi dulu, ne. A-annyeong..” Min Ji mengucapkannya dengan gugup. Bahkan ia saja ikut bingung mengapa ia menjadi gugup mendadak seperti ini. Tapi ia juga merasakan ada hal aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang!.

Belum sampai 3 langkah Min Ji berjalan, ia kembali terhuyung. Tetapi belum sempat ia terjatuh, Sehun sudah menahan tangan kanannya. “Nona yakin bisa pulang sendiri? Tenang saja, aku akan mengantarmu pulang dengan selamat. Aku bukan orang jahat. Yah, meskipun sepedaku sedikit ada goresan kecil, kupikir itu tidak masalah” Sehun mencoba meyakinkan Min Ji kembali. Ia tidak tega melihat gadis yang terluka berjalan pulang sendirian.

Min Ji terdiam sesaat. Belum pernah ada orang yang sangat perhatian padanya selama ini. Yah, hal itu menjadi pengecualian untuk kedua orang tuanya dan kedua kakaknya. Mereka berempatlah yang selama ini selalu memanjakannya. Tetapi orang lain? Nope! Mereka tidak pernah menganggap Min Ji ada selama ini. Wajar saja jika terkejut saat ini. Ini baru pertama kali baginya.

“A-apakah tidak apa-apa jika aku merepotkanmu?” Tanya Min Ji ragu.

Sehun yang mendengarnya malah tertawa. Min Ji menatap bingung kearahnya. “Apakah ada yang salah dengan perkataanku?”

“Tidak. Tidak ada yang salah dengan perkataan nona. Hanya saja, biasanya jika orang ditawari tumpangan gratis oleh orang lain, mereka akan langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Tapi, nona lain daripada yang lain. Dan oh, apakah nona jika ingin membantu orang lain, nona merasa direpotkan oleh orang itu?” Min Ji menggeleng pelan. “Itu yang aku rasakan saat ini, nona. Ya sudah, nona tunggu disini. Aku akan mengambil sepedaku dulu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Min Ji, Sehun segera pergi mengambil sepedanya yang tergeletak tak jauh dari mereka. Tak butuh waktu yang lama, Sehun segera mengayuh sepedanya dan berhenti tepat dihadapan Min Ji.

“Kajja, nona. Kupikir kakimu terasa sakit jika nona kubonceng dibelakang, karena nona tahu sendiri kan, sepedaku ini tidak ada tempat duduk di belakangnya. Bagaimana jika nona duduk didepan saja? Jadi nona tidak akan merasa sakit ketika naik.”

Min Ji ragu sejenak. Tetapi setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan namja ini benar. Ia tidak perlu merasa sakit ketika naik di sepeda itu. Ia mengangguk menyetujuinya. Sehun yang melihat itu tersenyum lega, setidaknya pendapatnya kali ini disetujui oleh gadis itu.

Min Ji naik dan duduk di bagian depan sepeda dekat dengan setir. Ia menata duduknya senyaman mungkin. “Apakah nona sudah siap? Aku akan mengayuhnya sekarang. Pegangan yang kuat agar nona tidak jatuh.”

Min Ji menuruti ucapan Sehun dan meletakkan tangannya di bagian tengah setir. Sehun mulai menjalankan sepedanya. “Bisa tolong katakan dimana rumah nona?”

Min Ji memberitahukan alamat rumahnya pada Sehun. Dan Sehun hanya mengangguk saja tanda ia mengerti arah alamat yang diberitahukan oleh Min Ji. Sehun segera menjalankan sepedanya kearah rute yang telah diberikan oleh Min Ji sebelumnya. Didalam perjalanan, mereka tidak mengatakan apapun karena mereka sama-sama belum saling mengenal dan bahkan tidak ada yang perlu dibicarakan menurut mereka. Sesekali jika Sehun mengarahkan setir sepedanya untuk berbelok, tangan keduanya tersentuh satu sama lain.

“Mianhae” Ucap Min Ji pelan dan segera menjauhkan tangannya.

“Gwenchana nona” Sahut Sehun memakluminya.

Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di rumah Min Ji. Min Ji mengucapkan terima kasih pada Sehun karena sudah bersedia mengantarnya pulang dengan selamat. Dan Sehun segera pamit pulang dengan alasan hari sudah mulai larut. Benar seperti dugaan Min Ji, Sehun memang namja yang baik dan bertanggung jawab. Ia tersenyum simpul mengingat hal itu. Feeling kuatnya mulai muncul. Ia merasa akan bertemu dengan namja itu di lain hari.

***

Min Ji akhirnya berhasil memasuki ruang tahtanya –kamarnya- setelah berhasil meyakinkan kedua orang tua dan kedua kakaknya bahwa luka yang ada di kakinya saat ini tidak membuatnya harus diberikan pengobatan yang serius. Keluarganya terlalu memanjakannya, entah itu karena ia anak yang paling bungsu atau apa. Ia sendiripun tidak mengetahui alasannya.

Sejujurnya, Min Ji sangat senang –ah tidak, lebih tepatnya adalah sangat bahagia- memiliki keluarga yang dimilikinya saat ini. Dan ia juga sangat merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat perhatian dan sayang padanya. Min Ji tersenyum bahagia ketika mengingat hal itu.

“Aku menyayangimu appa, eomma, oppa dan eonnie. Tanpa kalian mungkin aku tidak bisa menjadi seperti saat ini. Hanya kalian satu-satunya orang yang selama ini menjadi semangat hidupku. Saranghae” Gumam Min Ji pelan. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes. Namun itu tak lama karena ia segera mengusapnya dengan jarinya.

Tak lama setelah mengatakan hal itu, Min Ji mulai menguap. Ia sangat lelah hari ini. Badannya terasa sakit semua, apalagi setelah ia jatuh tadi. Untung saja ia ada yang mengantarnya pulang. Jika tidak, mungkin saja ia bisa pingsan atau tertidur di jalanan. Oh tidak, itu terlalu berlebihan.

Min Ji segera melepas baju seragamnya dan pergi mandi. Setelah selesai ia menggantinya dengan piyama berwarna pink yang memiliki motif polkadot warna ungu muda. Dan ia juga membersihkan giginya sebelum tidur. Setelah semuanya selesai, ia segera membaringkan tubuhnya di singgasananya yang empuk dan menutupi badannya dengan selimut. Min Ji memeluk boneka teddy dan beruang kutub yang masing-masing berwarna coklat muda dan putih, setelah sebelumnya Min Ji telah menata kedua boneka itu tepat disamping ia berbaring. Ia mulai memejamkan matanya.

“Selamat malam, semuanya. Mimpi yang indah” Ucapnya sebelum ia benar-benar tidur. Tak butuh waktu yang lama setelah itu ia mulai menjelajahi alam mimpinya.

***

Min Ji terbangun dari tidur cantiknya. Ia melihat jam weker yang terletak diatas nakas tepat disamping tempat tidurnya. Saat ini masih pukul 6 pagi. Pantas saja ia belum mendengar suara berisik dari benda tersebut. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju cermin yang ada di meja riasnya.

“Sudah dua orang yang mengatakan aku lebih baik mengubah penampilanku yang sekarang. Sebenarnya aku juga ingin berpenampilan seperti yang lainnya. Tidak memakai kacamata dan menggerai rambutku. Ya, mungkin ini saatnya untuk aku merubah semuanya. Ji-ya, Fighting!” Ucap Min Ji menyemangati dirinya sendiri.

Saat ini yang ia butuhkan adalah eommanya. Ia tahu eommanya bisa membantu dalam hal ini –lebih tepatnya menjahit baju seragamnya agar terlihat lebih pas dengan tubuhnya-. Ia segera mandi dan pergi ke dapur untuk mencari beliau. Masih ada waktu 3 jam baginya untuk bersiap pergi ke sekolah. Setelah sampai di dapur terlihatlah eommanya yang sedang menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarganya.

“Eomma, kau sibuk?” Tanya Min Ji mencoba basa-basi. Sedangkan beliau hanya memberi reaksi tersenyum dan menggeleng tanda ia benar-benar tak sibuk hari ini.

“Eomma, bolehkah aku meminta tolong sesuatu? Bisakah eomma sedikit mengecilkan ukuran baju seragamku dan sedikit menaikkan rokku?” Lanjut Min Ji hati-hati. Ibunya mengernyit bingung.

“Kenapa kau tiba-tiba meminta hal itu?”

“Hm, sebenarnya aku ingin berpenampilan seperti siswi-siswi yang lainnya. Eomma bisa mengabulkan permintaanku, bukan? Kumohon, eomma” Min Ji mengatupkan kedua tangannya seolah memohon.

“Tapi, itu membutuhkan waktu yang panjang. Lagipula, eomma juga belum-…”

“Aku yang akan menyiapkan sarapan untuk pagi ini. Aku yakin eomma bisa mengerjakannya tepat waktu. Masih ada waktu 3 jam untuk aku berangkat ke sekolah. Eomma, please~” Min Ji mengeluarkan puppy eyes nya. Eommanya terdiam sejenak, sebelum akhirnya beliau mengangguk tanda menyanggupinya.

“Aku yakin eomma bisa. Saranghae, eomma” Gumamnya. Tanpa bisa dipungkiri ia tersenyum bahagia membayangkan keadaan sekolah berubah dari yang biasanya.

***

Seperti dugaan Min Ji sebelumnya. Eommanya dapat mengerjakan seragamnya tepat –oh bahkan lebih cepat dari waktu yang diperkirakannya-. Setelah selesai bersiap-siap, Min Ji segera beranjak dan meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berangkat sekolah. Ketika ia membuka gerbang rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tidak asing baginya.

“Hai nona” Ucap orang itu –yang ternyata adalah Sehun- dengan senyum yang mengembang. Min Ji tidak menjawabnya melainkan hanya tersenyum simpul. “Kau tampak berbeda hari ini, nona. Ah, aku tahu. Kau tidak memakai kacamata itu lagi dan sekarang kau menggerai rambutmu. Aku benar kan, nona?”

Min Ji yang melihat tingkah Sehun yang kekanak-kanakkan dan seolah telah mengenalnya lama, hanya tertawa geli. “Ne, kau benar sekali. Hm, kenapa kau disini? Memang rumahmu dimana?”

Sehun tersenyum polos. “Hanya beberapa blok dari sini. Hm, nona kau sekolah di Seoul International High School? Dan namamu adalah..” Sehun menggantungkan perkataannya, tetapi tatapan matanya beralih pada nametag yang tertempel di jas sekolah Min Ji. “Choi Min Ji. Aku Oh SeHun. Salam kenal, nona” Sehun mengulurkan tangannya.

“Ne. Kau bisa memanggilku Min Ji, Sehun-ssi. Salam kenal juga” Min Ji menerima uluran tangan Sehun. “Hm, kau sekolah dimana Sehun-ssi?”

Sehun menoleh kearah Min Ji, “Aku sekolah di Paran High School. Lagi-lagi jaraknya hanya beberapa blok dari sekolahmu, Min Ji-ssi.”

Min Ji mengangguk dan tiba-tiba tangannya menarik tangan Sehun mengajaknya berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Entah kenapa, lagi-lagi jantung keduanya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.

***

#Min Ji P.O.V

Ketika aku berjalan di koridor sekolah semua siswa yang awalnya sibuk dengan kegiatannya masing-masing beralih menatapku dengan tatapan heran, tidak percaya, dan kagum. Oh, mungkin kata terakhir itu berlebihan. Bahkan aku bisa mendengar bisikan-bisikan seperti, “Benarkah dia adalah Choi Min Ji si ‘Nerd’ itu?”, “Kenapa dia merubah penampilannya secara tiba-tiba?”, “Ternyata jika tidak memakai kacamata bodoh itu, dia terlihat manis” dan yang lainnya. Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan mereka sekarang. Yang ada dipikiranku hanyalah ‘Semoga Chanyeol sunbae melihat perubahanku’, karena itu merupakan tujuan utamaku. Aku terus berjalan menuju lokerku dan bersikap seolah aku masih manjadi gadis ‘Nerd’ yang biasanya.

Tiba-tiba langkahku terhenti ketika tiga orang yang bisa kutebak sebelumnya menghadangku. Mereka menatapku seolah mereka ingin memakanku saat ini juga. Yang bisa kusimpulkan dari tatapan mereka adalah ada raut kesal dan iri menjadi satu. Sebenarnya aku ingin tertawa saat ini juga.

“Ya! Apa yang kaulakukan hari ini, huh?!” Seperti biasa, Min Ah selalu menyapaku pertama kali. Semua siswa entah mulai sejak kapan sudah berkumpul membentuk lingkaran untuk melihat tontonan gratis hari ini.

Dan yang kedua adalah Ah Rim, “Apa kau ingin mencari perhatian seluruh siswa disini?!”

Terakhir sang ketua –Han Na- yang juga menyapaku, “Oh… atau kau ingin bermimpi lagi seperti kemarin?! Percayalah meskipun kau berubah seperti apapun, Chanyeol oppa tidak akan menyu-…” Entah kenapa perkataan Han Na terpotong oleh suara seseorang.

“Aku menyukainya” Ucap orang itu. Dari suaranya kupikir ia namja.

Tiba-tiba aku mendengar langkah seseorang mendekati kami. “Kau bisa mendengarnya kan, nona Jung? Atau perlu kuulangi lagi? Aku menyukai, Choi Min Ji! Kau puas?” Ternyata pelakunya adalah Chanyeol sunbae. Tunggu.. Chanyeol sunbae? Dan dia mengatakan jika ia.. menyukaiku? Seharusnya aku senang, tetapi ini…

Han Na hampir membalasnya, namun sudah dipotong kembali oleh Chanyeol sunbae. “Ah, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Ayo Min Ji, kuantar kau ke kelasmu.”

Lalu secara tiba-tiba Chanyeol sunbae menarik tanganku keluar dari kerumunan itu. Bisa kudengar pekikan tertahan dari penggemar Chanyeol sunbae dan tentunya pekikan kelompok Han Na lah yang paling keras. Aku hanya menundukkan kepalaku, tidak berani untuk sekedar melirik sekitar.

Saat aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba tatapan mataku bertemu dengan orang yang telah mengarahkanku untuk berubah seperti saat ini. Baekhyun sunbae. Ia menatapku seolah mengatakan ‘Benarkan ucapanku kemarin?’. Aku hanya menanggapinya dengan mengucapkan “Gomawo” tanpa suara.

Tiba-tiba ucapan Chanyeol sunbae menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata. “Dasar Bodoh! Seharusnya, kau melawan jika diperlakukan seperti itu oleh Han Na” Chanyeol sunbae mengusap kepalaku pelan dan tersenyum tipis. “Nanti ketika pulang sekolah, kau pulang bersamaku.”

***

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku segera merapikan buku-bukuku dan bergegas keluar kelas. Aku menghentikan langkahku sejenak, aku teringat Chanyeol sunbae mengajakku pulang bersama hari ini. Tapi mungkinkah..? Oh ayolah, mungkin Chanyeol sunbae mengatakan hal itu untuk basa-basi. Aku melangkahkan kembali kakiku. Belum sampai 3 langkah aku berjalan, terdengar seseorang memanggilku.

“Min Ji-ya!” Ternyata Chanyeol sunbae benar-benar menepati perkataannya pagi tadi. Ah kau terlalu percaya diri, Ji-ya. Belum ten-..

“Kau mau kan pulang bersamaku hari ini?” Aku terdiam mencerna kata-katanya barusan. Belum sempat aku menjawab, Chanyeol sunbae sudah menarik tanganku. “Diam kuanggap jawabanmu adalah iya”. Hei… ia memutuskannya secara sepihak.

Kami kembali menjadi pusat perhatian. Lagi-lagi, aku hanya bisa kembali menundukkan kepalaku malu. Di sepanjang koridor, kami hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya, Chanyeol sunbae sedang tidak ingin bicara banyak, begitupun aku. Dan lagi-lagi Chanyeol sunbae mengucapkan kata-kata yang membuatku terkejut. “Mianhae”. Aku menatapnya bingung seakan memintanya untuk melanjutkan perkataannya. Chanyeol sunbae menghela napasnya kasar. “Karena… aku sudah mengatakan hal yang buruk tentangmu. Kuyakin saat ini, kau-..”

“Gwenchana, sunbae” Potongku pelan. “Aku mengerti. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu kemarin. Itu merupakan hal terbodoh yang pernah kulakukan. Mianhae, sunbae.”

“Kau tidak membenciku?” Aku menggeleng pelan. “Kenapa kau meminta maaf padaku? Sudahlah, bagaimana jika kita memulai dari awal? Kau mau? Dan melupakan kejadian kemarin?”

Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk menyetujuinya. Chanyeol sunbae tersenyum senang melihat reaksiku. Tunggu, dia tersenyum padaku? Ah, kupikir itu akan menjadi khayalan semataku. Dan barusan dia tersenyum.. PADAKU? Ah, sepertinya aku harus mentraktir Baekhyun sunbae untuk rasa terima kasihku. Ah, mungkin lain kali saja. Lagipula, uang jajanku menipis akhir-akhir ini dan kuyakin Baekhyun sunbae akan memanfaatkanku untuk meminta hal yang aneh-aneh dan mahal. Ah sudahlah, mengapa aku malah berpikiran yang aneh-aneh?.

Kami sudah sampai di parkiran sekolah. Tetapi tatapan mataku tertuju pada seseorang dengan perawakan yang sudah kukenal akhir-akhir ini. Dia… Sehun! Untuk apa dia… Ah aku melupakan satu hal, AKU BERJANJI AKAN PULANG BERSAMANYA HARI INI. Ah, bagaimana ini? Di sisi lain aku ingin pulang bersama Chanyeol sunbae, tapi di sisi lain juga aku takut jika aku mengecewakan Sehun karena mengingkari janjiku padanya. Eomma… aku bingung. Kulihat Sehun masih setia menungguku di dekat pos satpam. Sesekali ia melirik jam tangannya. Aku tidak bisa menyembunyikan kegelisahanku, tanpa sadar aku menggigit kecil ibu jariku. Itu merupakan kebiasaan burukku. Tiba-tiba Chanyeol sunbae bersuara dan kupastikan ia melihat kebiasaan burukku. TIDAKK!!

“Min Ji-ya. Kau kenapa? Kenapa raut wajahmu seperti itu?”

Sepertinya aku harus mengambil keputusan. Dan keputusanku adalah…

“Hm, sunbae. Sepertinya kita tidak bisa pulang bersama hari ini. Karena.. aku sudah ada janji pulang bersama dengan temanku. Maafkan aku, sunbae” Ucapku hati-hati. Dapat kulihat raut wajah kecewa yang ditampilkan oleh Chanyeol sunbae. Tuhan, maafkan aku. Hari ini aku telah menyakiti hatinya. Kumohon maafkan aku.

Tepat setelah aku selesai mengucapkan doa tersebut, seperti ada mukjizat dari-Nya, Chanyeol sunbae menampakkan deretan gigi putihnya menjawab pertanyaanku. Jawaban pertanyaan itu sangatlah membuatku bernapas lega. Ia mengangguk.

“Kalau begitu aku pergi dulu ne, sunbae. Annyeong” Dan setelah itu aku berlari menuju Sehun yang kuyakin sudah lama menungguku.

“Sudah lama menungguku?” Tanyaku basa-basi saat aku sudah berada di dekatnya.

“Eoh, nona Minnie. Tidak, aku juga baru saja datang” Sahutnya yang kuyakin itu juga merupakan basa-basi darinya. Sehun menyambutku dengan senyuman khasnya. Aku mengernyit bingung. Minnie? Siapa Minnie? Hei, namaku Min Ji bukan Minnie.

“Minnie? Nugu-ya?” Tanyaku bingung.

Sehun tersenyum polos. “Tentu saja kau, nona. Aku pikir nama Min Ji sudah sering kau dengar. Jadi aku memanggilmu Minnie karena aku ingin berbeda dengan yang lain. Dan kupikir nama Minnie cocok untukmu karena nona terlihat imut dan sangat manis, persis seperti karakter Minnie Mouse yang ada di film kartun. Bolehkah aku memanggilmu seperti itu? Kumohon…” Ucap Sehun jujur dan tak lupa menampakkan puppy eyes nya.

Aku terdiam sejenak mendengar ocehan Sehun barusan. Minnie? Kupikir hal itu tidak buruk juga. Dan mendapat panggilan khusus dari seseorang rasanya membuatku sangat bahagia. Apalagi Sehun sangat-… Aiish, berhentilah berpikiran aneh-aneh, Choi Min Ji. Tak lama, aku kembali sadar setelah lama mendiamkan Sehun dengan ekspresi seperti itu, dan lagi-lagi aku hanya mengangguk. Ini sudah kedua kalinya aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari orang lain untukku.

Sehun tersenyum senang dan menarik tanganku tiba-tiba. “Kajja, Minnie-ya. Kita bisa kehabisan bus nanti.”

Dan aku? Aku hanya pasrah mengikutinya dari belakang. Tanpa kusadari, sebuah senyuman terukir di wajahku. Minnie. Mulai hari ini aku akan menggunakan nama panggilan itu hanya untuk Sehun. Dan kukatakan untuk sekali lagi. Kurasa ini tidak buruk.

***

Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Keadaan Min Ji sekarang dengan Min Ji yang dahulu sangatlah berbeda. Tidak ada Min Ji yang selalu memakai kacamata bulat dan seragam yang terlihat kebesaran dari ukuran badannya. Tidak ada Min Ji yang selalu di bullying oleh Han Na –yah, meskipun Han Na masih terlihat sering iri dengan Min Ji yang sekarang-. Min Ji yang sekarang sering terlihat di sekitar kantin dengan teman sebayanya dan juga sering terlihat pulang bersama dengan Chanyeol ataupun Sehun. Walaupun Chanyeol sudah selesai menamatkan sekolah menengah atasnya, tetapi ia masih sering berkunjung kesana hanya sekedar untuk menjemput Min Ji. Ah entahlah, mungkin itu hanyalah permainan waktu saja.

Hari ini hari Sabtu, waktunya untuk siswa seperti Min Ji mengistirahatkan pikirannya setelah lima hari lamanya ia menguras otak di sekolah. Tapi saat ini di dalam kamarnya, Min Ji terlihat seperti mengobrak-abrik isi lemarinya. Ia sedang mencari pakaian yang pas untuk dipakai nanti malam. Sesekali ia mematutkan diri di depan cermin dan menempelkan sebuah gaun selutut dan sedetik kemudian ia membuangnya entah kemana. Keadaan kamarnya saat ini persis seperti kapal pecah.

Di lain tempat, Chanyeol dan Baekhyun sedang berada di kamar Baekhyun. Mereka berdua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebelum akhirnya Baekhyun mengatakan sesuatu yang membuat Chanyeol terbangun dari acara berbaring di kasur empuk milik Baekhyun.

“Chanyeol-ah, kau sudah mengatakan perasaanmu selama ini pada Min Ji?”

Chanyeol menggeleng pelan. Baekhyun menghela napas. “Katakanlah. Sebelum Min Ji sudah menjadi-..”

Ucapan Baekhyun terputus saat Chanyeol mengambil ponselnya terburu-buru. Ia segera mencari nomor Min Ji dan meneleponnya. Setelah menunggu lama, akhirnya tersambung juga dengan Min Ji.

***

#Min Ji P.O.V

“Yeoboseyo? Ada apa Chanyeol oppa?”

Aku mengaktifkan fitur loudspeaker ponselku dan meletakkannya di meja belajar. Kedua tanganku sedang memegang kedua sisi gaun selututku yang berwarna pink soft, dan rencananya gaun ini akan kupakai nanti malam di acara kencan pertamaku dengan Sehun. Aku jadi tersenyum sendiri mengingat hal itu. Kami sudah berpacaran sejak 6 bulan yang lalu, namun Chanyeol oppa belum mengetahuinya. Aku takut jika mengatakannya itu akan menyakiti hatinya. Jadi aku lebih baik diam ketika ia mengajakku pulang sekolah bersama, untung saja Sehun mau mengerti alasanku. Aku tahu dari semua perhatian yang diberikannya padaku selama ini, sebenarnya Chanyeol oppa menyimpan perasaan padaku. Entah itu benar atau tidak. Aku berharap semoga itu hanya perkiraan konyolku saja.

“Hm… Min Ji-ya. Bisakah kita bertemu malam ini. Ada hal penting yang harus kukatakan” ucap Chanyeol oppa yang terdengar seperti gugup.

“Tapi, oppa. Hari ini aku ada-…” Ucapanku dipotongnya cepat.

“Kumohon”. Kali ini nadanya terdengar memelas, aku jadi tidak tega mendengarnya. Yasudahlah, mungkin dia bisa datang di waktu yang sama dengan acara kencanku nanti.

Aku menghela napas pelan. “Baiklah. Temui aku di Brown Restaurant nanti jam 7 malam” Ucapku pasrah.

“Ok. Sampai nanti” Tepat setelah itu kudengar sebuah suara tanda Chanyeol oppa telah memutuskan teleponnya. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang dan memejamkan mataku. Ya Tuhan.. Semoga keputusanku ini sudah tepat.

***

#Chanyeol P.O.V

Aku sudah bersiap-siap pergi ke Brown Restaurant saat ini. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 7 malam. Setelah sekali lagi aku memastikan penampilanku di cermin, aku segera keluar rumah dan menuju mobilku. Aku mulai menyalakan mesin dan menancap gas menuju Brown Restaurant.

Setelah 15 menit berlalu, aku sudah sampai di tujuan. Mataku menelusuri seluruh isi restaurant dan akhirnya aku bisa menemukan tempat Min Ji duduk. Ia tidak sendiri melainkan bersama seorang… namja?. Mungkinkah… Ah, sudahlah.

Aku berjalan menghampiri kedua orang itu. Kulihat senyum Min Ji terkesan bahagia ketika bersama namja itu. Dan sikap keduanya sangat dekat seperti…

“Chanyeol oppa, sini!” Ucap Min Ji sambil menunjuk kursi kosong di depannya tepat disamping kanan namja yang sedang bersamanya itu duduk. Aku tersenyum padanya dan mulai duduk. Kulihat namja itu melihatku dengan senyuman ramah. Aku membalasnya.

“Hm, Min Ji-ya. Dia siapa?” Bisikku pelan pada Min Ji. Min Ji terlihat tersentak dan berdeham sebelum menjawab pertanyaanku dengan gugup.

“O-oppa, kenalkan dia namjachinguku. Sehun. Dan kami memutuskan akan bertunangan bulan depan.”

Mataku terbelalak seketika mendengarnya. Namun aku segera mengontrol reaksiku. Namun tanpa bisa dipungkiri, masih ada sisa-sisa terkejut di raut wajahku. Kulihat namja yang disebut dengan nama Sehun oleh Min Ji tersebut menatapku heran.

“Tu-nang-an? Tapi bukankah kalian masih sekolah menengah?” Ulangku pelan seraya dengan tekanan di setiap suku kata. Min Ji mengangguk pelan.

“Ne. Tetapi orang tua kami sudah menyetujuinya” Sahutnya pelan. “Sehunnie, kenalkan dia kakak kelasku di sekolah. Chanyeol oppa” Lanjutnya.

Sehun mengulurkan tangannya padaku dan kembali tersenyum ramah. “Oh Se Hun.”

Aku menyambutnya dengan tersenyum terpaksa. “Park Chanyeol.”

Aku sudah tidak kuat jika masih berlama-lama disini. Tapi, aku harus mengatakan apa? Oh ya, hari ini bukankah hari ulang tahun Min Ji?

“Min Ji-ya. Saengil chukkae hamnida. Maaf aku tidak bisa memberimu hadiah apa-apa, hm mungkin lain kali. Tapi kuharap hubunganmu dengan Sehun selalu lancar dan semoga Tuhan selalu memberkatimu” Ucapku dengan senyum terpaksa. Jelas saja aku tidak membawa hadiah apapun untuknya. Semua ini tidak sesuai dengan rencanaku, dan bahkan aku lupa jika hari ini hari ulang tahun Min Ji.

Min Ji maupun Sehun tersenyum setelah mendengar perkataanku. “Gomawo, oppa” Sahut Min Ji tulus. Oh Tuhan… Ia menampakkan senyum manis itu lagi. Ah sudahlah, aku sudah terlambat. Ia sudah menjadi milik orang lain sekarang.

“Eoh, Min Ji-ya. Aku baru teringat jika eomma mengajakku pergi belanja hari ini. Jadi aku harus bergegas sekarang. Aku duluan ya” Ujarku seraya beranjak dari dudukku. Tapi sebelum itu Min Ji menahanku kembali.

“Tapi, bagaimana dengan-…”

“Aku harus cepat-cepat, Min Ji-ya. Baiklah. Annyeong, Min Ji-ya. Annyeong, Sehun-ssi” Pamitku.

Mungkin sikapku saat ini terlihat sangat pengecut, namun aku harus bagaimana lagi. Aku berjalan cepat meninggalkan Sehun dan Min Ji. Sekilas Min Ji menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ah entahlah, aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaan ini.

***

Di perjalanan pulang, aku terus merutuki kebodohanku selama ini. Apakah aku harus jatuh ketika aku baru merasakan apa yang dinamakan cinta?. Tiba-tiba aku menginjak rem mobilku tanpa kusadari. Mobilku berhenti mendadak tepat didepan taman bermain. Disana tak sedikit orang yang memadu kasih dengan pasangannya masing-masing. Andai saja waktu bisa diputar. Andai aku bisa memahami perasaanku dan mengatakannya lebih awal. Apakah aku dan Min Ji bisa menjadi bagian dari mereka?. Dan apakah aku bisa menggantikan posisi Sehun yang kuyakin saat ini menduduki tingkat awal di hati Min Ji?. Aku meletakkan kepalaku diatas kemudi. Disaat aku sedang menormalkan suasana hatiku, kudengar ponselku berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Aku segera meraihnya. Ternyata dari seseorang yang sedang ada di posisi teratas di pikiranku saat ini. Aku membuka isi pesannya.

From : Choi Min Ji

Oppa, maafkan aku. Mungkin selama ini aku sering menyakiti hatimu tanpa kau sadari. Sebenarnya, aku sudah tahu jika oppa menyukaiku. Semua itu bisa terlihat dari cara oppa memberikan semua perhatianmu padaku. Tapi, hatiku sudah terlanjur memilih Sehun untuk menjadi kekasihku. Dan jujur saja. Semua perasaanku pada oppa, itu hanyalah masa lalu. Sekali lagi maafkan aku, karena aku baru mengungkapkan yang sebenarnya padamu. Dan sebenarnya juga, aku ingin mengucapkan maaf padamu secara langsung. Mungkin oppa bisa menemuiku sekarang juga di taman bermain tempat oppa menghentikan mobil oppa sekarang. Sekali lagi maafkan aku dan terima kasih telah memberikan warna-warni dalam kehidupanku.

Sesaat setelah membaca pesan itu, mataku seperti dikomando untuk mencari keberadaan Min Ji di taman bermain. Mataku terhenti melakukan aktivitasnya ketika menemukan seseorang dengan perawakan yang kuyakini adalah Min Ji sedang duduk di sebuah bangku taman. Ia duduk membelakangiku.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah pelan mencoba menghampirinya. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang ketika melihatku.

“Oppa” Ujarnya pelan. Tanpa kusadari sebelumnya, tiba-tiba aku memeluk gadis itu. Aku memeluknya erat.

“Oppa mianhae” Suaranya bergetar. Kuyakin ia menangis. Aku terdiam tanpa berniat mengucapkan apapun. “Oppa kumohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk-..”

“Gwenchana. Kau tidak perlu meminta maaf lagi padaku. Dari awal aku lah yang salah. Mungkin jika aku lebih memahami perasaanku dan mengatakannya sejak awal, mungkin kejadiannya bisa lebih baik daripada ini.”

Aku melepaskan pelukanku padanya. Ibu jariku menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. “Mianhae” Ucapnya masih terus meminta maaf. Kepalanya tertunduk. Kupegang dagunya dan perlahan kuangkat wajahnya. Dapat kulihat matanya memerah karena menangis.

Kuusap pelan kepalanya dengan sayang. “Aku tahu. Aku telah terlambat untuk mengatakan hal ini padamu. Tapi izinkan aku untuk mengungkapkannya sekali ini saja. Aku mencintaimu.”

“Maafkan aku. Aku telah-…” Lagi-lagi ucapannya kupotong. Aku tak tega melihatnya terus merasa bersalah, yang sebenarnya semua ini adalah kesalahanku juga.

“Ssst, kau tidak perlu mengatakan maaf lagi padaku. Kuharap kau dan Sehun akan terus berdua selamanya tanpa ada yang mengganggu. Aku sangat menyayangimu.”

Kurengkuh kembali tubuh kecilnya. “Gomawo, oppa. Aku juga menyayangimu. Kau harus tahu itu. Semoga kau mendapatkan gadis yang lebih baik dan lebih manja dariku.”

Kami berdua tertawa geli karena ucapan terakhir Min Ji. Ya, aku tahu itu Min Ji. Dan aku hanya bisa berharap, jika Sehun akan menjadi pendamping terbaik dalam hidupmu selamanya. Ya, semoga saja. Amin.

—END—

Annyeong…. ketemu lagi di post ku yang kedua di WP ini…

Kali ini, aku nge post ff oneshoot pertamaku,, semoga kalian suka… 🙂

Ide FF ini terinspirasi dari lagunya EXO – Thunder, tapi mungkin kalian udah sering ketemu sama ff temanya kaya gini. Tapi jujur, ini semua 100% karyaku sendiri..

Oh ya, ff ini juga aku kirim ke EXO Fanfiction Indonesia buat ikutan EXOFFI Writing Contest (tapi, belum di mulai kontesnya… Mungkin sekitar pertengahan Februari di post… Tolong baca lagi ya,,, soalnya aku butuh komen dari kalian… :))

Be a good readers, guys… Ditunggu RCL nya~

Sampai jumpa di FF ku yang berikutnya….

Regard,

BaekMinJi93

Iklan

8 thoughts on “[Oneshoot] I Know… I’m Late…

  1. chanyeol kasiaan… *nangis cool*
    siapa suruh baru sadar! nyesel kan jadinya :/
    iya siih menyesal itu pasti belakangan 🙂

    ff ini bagus tau be. kok ga ada di SAY? pasti banyak yg baca

    Suka

      1. yasudah, terserah kamu saja. aku mah apa atuh bwahahaha XD *abaikan*

        aku doakan visitor kamu makin banyak & makin terkenal. jadi ga perlu di post di blog lain. amiiin!

        Suka

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s