[Oneshoot] An Actually I Don’t Know About Love

an-actually-i-don_t-know-about-love-by-eve

Tittle                : An Actually I Don’t Know About Love

Author             : BaekMinJi93

Genre              : Angst, Romance, Sad, School Life

Lenght             : Oneshoot

Ratting             : General

Main Cast        : – Park Chan Yeol (EXO), – Han Sa Rang (OC)

Support Cast   : – Choi Min Ji (OC), – Oh Se Hun (EXO)

Disclaimer       : This story from me to you. Happy Reading and don’t bashing this~

Credit Poster   : eVe

Summary         :

Mungkin aku tidak pernah membayangkan jika aku akan terjerat oleh kata manis itu.

Tapi, pernahkah kau membayangkan betapa sulitnya untuk lepas dari jeratan itu?

Bolehkah aku bertanya padamu apa perbedaan dari kata ‘Kagum’ dan ‘Suka’? Mungkin kau akan mengatakan jika kedua kata itu memiliki arti yang sangat jauh berbeda. Tapi bagiku kedua kata itu memiliki arti yang erat dan pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan kata lain yang menurut semua orang ada kesan manis yang melekat padanya. Kata itu adalah Cinta.

Aku benar bukan? Pada awalnya kita hanya akan mengagumi seseorang tanpa berharap lebih. Namun lambat laun rasa kagum itu akan menyamar dirinya dengan nama suka. Setelah lama kita terbiasa dengan kata-kata diatas, timbulah rasa lain yang menamai dirinya dengan nama cinta. Yah itu terdengar manis, bukan? I think so.

Tapi kali ini aku akan memperingatkanmu untuk berhati-hati jika kau sudah terjerat dengan ketiga kata tersebut. Ada dua akhir cerita pada rasa tersebut, happy ending and sad ending. Aku tidak bermaksud untuk menakut-nakutimu, hanya saja aku tidak mau jika kau mengalami apa yang seperti kurasakan saat ini.

Apakah ceritaku ini akan berakhir dengan sad ending? Atau malah sebaliknya? Tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang juga, kita lihat saja di akhir cerita dan kau akan bisa menyimpulkanya sendiri. Kau penasaran? Baiklah aku akan menceritakannya padamu sekarang.

***

Aku memasuki gedung sekolahku dengan langkah ringan. Kulihat raut wajah beberapa siswa yang berpapasan denganku, semua terlihat seolah malas jika hari ini datang. Jika boleh jujur padamu, aku juga merasakan hal itu. Merasakan rasa malas yang amat sangat karena sudah mulai terbiasa dengan perilaku ketika di hari liburan. Well, kau boleh berpikir jika aku ini adalah gadis pemalas, namun mau bagaimana lagi itulah kebenarannya. Aku jujur, bukan?

Aku terus berjalan menelusuri koridor sekolah menuju ke tempat dimana papan pengumuman dipasang. Aku yakin jika tempat itulah yang menjadi tempat teramai yang dikerumuni oleh siswa tingkat dua –sepertiku– untuk melihat kelas barunya. Baru membayangkan saja aku sudah bisa merasakan bagaimana pengapnya udara karena berdesakan, tapi apa boleh buat jika aku tidak mau berkorban dengan cara itu apa aku harus memeriksa satu per satu kelas dengan daftar nama yang tercantum namaku? Oh no! Itu lebih merepotkan daripada cara sebelumnya dan aku sama saja membuat image bodoh dalam diriku karena tingkah itu.

Belum sampai niat awalku terlaksana, aku mendengar sebuah suara yang memanggil nama lengkapku.

Yak! Han Sarang!”

Suara itu sangat familiar di telingaku dan dengan segera aku menoleh ke arah sumber suara. Dapat kulihat dua orang dengan senyum ramahnya sedang berdiri tak jauh di hadapanku saat ini. Aku membalas senyum mereka dan berlari kecil menghampirinya.

“Hai, Sarang. Bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu,” ujar salah satu diantara mereka berdua seraya memelukku secara tiba-tiba. Dia adalah Choi Min Ji, satu-satunya sahabatku di sekolah ini. Aku membalas pelukannya.

“Baik. Aku juga merindukanmu,” balasku. Tak lama kemudian gadis itu melepas pelukannya padaku. “Bagaimana denganmu? Apa Sehun menjagamu dengan baik selama liburan?”

“Tentu saja aku menjaganya dengan baik. Aku ‘kan sangat mencintainya. Itu benar ‘kan, Minnie?” sahut pemuda yang berdiri tepat disamping Minji, dia adalah Sehun. Sedangkan Minji hanya membalas perkataan Sehun dengan tersenyum manis.

Choi Min Ji dan Oh Se Hun, sepasang kekasih terpopuler di sekolahku. Tidak ada yang tidak mengenal keduanya. Baik Sehun ataupun Minji mereka sama-sama termasuk dalam kategori siswa yang memiliki otak diatas rata-rata. Meski begitu, Minji dan Sehun tetap bersaing dalam nilai akademik. Percayalah padaku, jika tahun sebelumnya yang mendapat peringkat satu seluruh sekolah adalah Sehun dan peringkat kedua adalah Minji, maka tahun ini kujamin peraih peringkat satu seluruh sekolah adalah Minji dan begitu sebaliknya. Tenanglah ini bukan lelucon belaka, aku sudah mengenal mereka sejak kami berada di sekolah menengah pertama dan hasilnya akan selalu begitu. Sungguh pasangan yang sangat cerdas, aku sungguh beruntung berada didekat mereka.

“Hei, kau tahu? Kau dan aku akan sekelas tahun ini!” ujar Minji girang seraya memegang kedua tanganku dan berlonjak seperti anak kecil.

Aku membelalakkan mataku tak percaya. “Jinjja?! Huaa.. asyik!!” aku mengikuti jejak Minji sebelumnya, berlonjak kegirangan.

Kami terus berlonjak sampai akhirnya sebuah suara datar menghentikan aktivitas kita saat ini.

Yeah… kalian berdua sekelas tahun ini bersama Chanyeol. Dan kau senang akan hal itu ‘kan, Minnie?”

Min Ji melepaskan tanganku dan berjalan mendekati Sehun, mencoba menenangkan hati pemuda itu. Yah, Sehun cemburu saat ini karena kami sekelas dengan Chanyeol tahun ini. Tunggu! Chanyeol?! Aku tidak salah dengar, bukan?

“Kau cemburu, Hunnie? Whoa… kau terlihat manis jika seperti itu,” goda Minji. Karena efek rayuan itu, pipi Sehun terlihat sedikit merona. Namun, pemuda itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikannya. Aku dan Minji terkekeh geli melihatnya.

“Ah, sudahlah! Sekali lagi kau menggodaku, aku akan memberikan hukuman padamu, Minnie.”

Namun bukannya takut dengan ancaman Sehun barusan, Minji malah menampakkan wajah menantang sekaligus mengejek. “I’m waiting your punishment, honey.

Entah mungkin karena malu atau bagaimana, Sehun segera berlalu meninggalkan kami setelah sebelumnya ia mengecup bibir Minji sekilas. Kini tinggal aku dan Minji. Tak lama setelah Sehun pergi, kami juga ikut memutuskan untuk pergi ke kelas baru kami.

***

“Sarang, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Minji memecahkan keheningan yang sempat terjadi pada kami berdua.

Beberapa saat lalu bel istirahat berbunyi, dengan segera hampir seluruh siswa dikelasku berlari menuju kantin yang hanya menyisakan diriku dan Minji. Aku menatap Minji dengan tatapan seolah mengatakan, ‘Ada apa?’

Lama Minji menatapku setelah akhirnya ia mulai membuka suara, tapi kali dengan suara bisikan. Ya benar, sekarang ia sedang berbisik padaku. Ucapan itu terdengar singkat namun sempat membuatku terpaku seketika. Entah kenapa, aku sendiri tidak tahu.

Mwo?! Apa kau sudah gila? Aku tidak mungkin menyukai pria sok populer itu,” elakku keras. “Dan bahkan aku terlalu cantik untuk sekedar menyukainya,” gumamku pelan.

Yak! Hati-hati dengan ucapanmu. Siapa tahu karma akan segera mendatangimu dan kau akan menelan sendiri ucapanmu barusan. Aku tidak mau ikut campur jika hal itu terjadi.”

Aku menatap Minji dengan tatapan remeh. “Hal itu tidak akan pernah terjadi. Dan aku jamin itu.”

“Benarkah seperti itu? Kita tidak bisa melawan takdir dan mari kita lihat akhir cerita ini, Rangiie~”

Minji menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam hatiku terbesit rasa takut jika benar hal itu akan terjadi, namun aku segera menepisnya jauh-jauh karena aku pikir bahwa aku sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya dan di akhir cerita aku tidak merasakan karma apapun yang mendatangiku.

***

Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah hampir setengah tahun aku duduk di bangku tingkat dua ini bersama Minji. Dan dengan perlahan aku juga sudah mulai mengenal satu persatu teman sekelasku. Yah meskipun tidak bisa dibilang akrab, tetapi setidaknya itu sebuah keajaiban bagiku karena mengingat sebelumnya aku sangat malas bergaul dengan teman sebayaku. Mungkin julukan ‘invisible’ tepat sekali untuk menggambarkan bagaimana karakterku di sekolah, ya aku akui itu.

Diantara semua siswa yang ada di kelasku aku bisa menghitung dengan jari siapa yang benar-benar dekat denganku, salah satunya adalah Chanyeol. Chanyeol?! Apa tidak salah aku menyebut nama itu? Benar, kau tidak salah dengar dengan ucapanku barusan. Aku memang dekat dengannya. Oh ayolah, maksud ‘dekat’ dalam ucapanku barusan adalah ‘dekat’ diantara teman bangku depan dan belakang, tidak lebih dari itu. Lagipula, Chanyeol juga pria yang baik, tidak ada salahnya bukan jika aku berteman dengannya?

“Chanyeol-ah, bisakah kau menggambarkanku prisma segi enam? Aku bingung bagaimana cara menggambarnya,” ujarku seraya mengajukan kertas ulangan pada pria yang saat ini sedang duduk di bangku tepat dibelakangku.

Chanyeol yang pada awalnya hanya terfokus pada kertas ulangannya, kini mengalihkan perhatiannya padaku. Dia mengambil kertas yang kuajukan dan mulai menjalankan permintaanku. Namun tiba-tiba aktivitasnya terhenti seketika. Ia menatapku lama dan aku hanya membalasnya dengan tatapan bingung.

“Bagaimana gambar bangun ruang prisma itu? Apakah seperti ini?” tanyanya sambil menggambar sebuah sketsa yang menurutnya adalah bangun ruang, tetapi pada kenyataannya ia sedang menggambar limas.

Aku mengambil pensil yang berada di tangannya. “Bukan seperti itu. Yang kau gambar saat ini adalah limas, bukan prisma. Bangun prisma itu seperti ini.”

Aku menggambar sketsa tipis di kertas ulanganku. Pada awalnya aku dengan mudah menggambar tutup dan sisi tegaknya, namun disaat untuk menggambar alasnya aku kembali bingung.

Aku menghela napas kasar. “Nah, aku merasa sulit ketika menggambar alasnya. Kau tahu bagaimana caranya?”

Chanyeol lama menatap kertas ulanganku, sesekali ia mencorat-coret tidak jelas. Tak lama kemudian ia mengembalikan kertas itu padaku. “Ini. Apakah ini yang kau maksud sulit?” tanyanya dengan tampang meremehkanku.

“Terimakasih. Tapi, bisakah kau mengajariku?” tanyaku memelas, sedangkan pria dihadapanku ini malah menampilkan senyum jahilnya dan kembali mengerjakan tugas ulangannya sendiri.

Yak! Apa kau mendengarku? Aku meminta tolong padamu!” gerutuku kesal karena ia tak menghiraukan pertanyaanku sebelumnya.

“Kerjakan sendiri. Bukankah kau termasuk murid pintar di kelas? Hanya menggambar mudah seperti itu saja, kau tidak bisa?”

Aku merasa tersinggung dengan ucapannya barusan. Hei, aku tahu dia bermaksud untuk menggodaku, namun menurutku ucapannya itu sangatlah frontal. Okay jika aku boleh mengakuinya aku memang lemah dalam pelajaran menggambar seperti ini, tapi meskipun begitu ia tidak perlu mengatakannya secara langsung dihadapanku. Aku mempoutkan bibirku kesal.

“Oh ayolah. Beritahu aku sekali ini saja, aku janji tidak akan bertanya lagi. Pleaseu~”

Aku memasang tampang memohon dihadapannya. Baiklah mungkin sikapku ini dengan segera membuat harga diriku jatuh seketika. Tapi aku tidak peduli, yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan ulanganku dengan cepat dan benar.

Chanyeol masih tidak menghiraukanku. Aku menarik lengannya. “Chanyeol…”

Akhirnya ia mengalihkan tatapannya kembali padaku. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Chanyeol segera mengambil kertas ulanganku. Dan dalam sekejap Chanyeol menyelesaikan tugas ulanganku tersebut. Ya kau benar, semua soal ulangan kali ini perintahnya adalah menggambar bangun ruang. Dan bingo! Semua itu adalah kelemahanku.

Whoagomawo, Chanyeol-ah. Kau memang baik.”

Setelah mengatakan hal itu, aku langsung mengumpulkan kertas ulanganku di meja guru. Namun tak lama ketika aku berjalan menuju bangku ku, terdengar seruan seongsangnim yang mengatakan jika waktu ulangannya hampir habis. Mendengar hal tersebut, secara cepat mataku mengarah pada meja Chanyeol. Dapat kulihat Chanyeol sedang sibuk mengerjakan ulangannya. Meskipun wajahnya terlihat tenang tetapi aku dapat melihat raut wajah panik didalamnya. Aku menghampirinya.

“Chanyeol, ada yang bisa aku bantu?” tanyaku pelan.

Kulirik sekilas sisa soal yang belum terjawab di kertas ulangan milik Chanyeol. Ada sekitar 3 soal yang belum terjawab. Eits.. jangan menganggap remeh 3 soal tersebut, semua soal itu berisi perintah untuk menggambar bangun ruang. Dan kau tahu sendiri bukan, jika soal menggambar itu lebih memakan waktu dari soal tulis?

“Tidak. Tidak ada,” sahutnya masih sibuk dengan soalnya.

Aku terus menatapnya dengan rasa bersalah. Dan sialnya, seluruh siswa sudah mulai mengumpulkan tugasnya dan yang tersisa saat ini hanyalah Chanyeol. Seongsangnim sudah memberi aba-aba pada Chanyeol untuk mengumpulkan soalnya dan dengan sedikit terpaksa, Chanyeol beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju meja guru. Dan saat ia sudah kembali di bangkunya, aku berucap lirih.

“Chanyeol, maafkan aku. Karena kau mengerjakan ulanganku, ulanganmu sendiri menjadi terbengkalai. Sekali lagi maafkan aku.”

Aku menundukkan kepalaku merasa bersalah. Aku takut untuk sekedar menatapnya. Aku takut dia marah padaku. Namun tanpa kuduga sebelumnya, sebuah usapan lembut terasa di puncak kepalaku. “Gwenchana. Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Sudahlah, berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”

Aku mengangkat kepalaku perlahan. Kutatap wajahnya yang tersenyum tulus dan aku membalasnya serupa.

Chanyeol, kau sungguh baik padaku.

***

Yak, Baekhyun-ah! Aku tahu kau sedang menyembunyikan buku diaryku. Cepat kembalikan padaku!”

Kedua tanganku terulur tepat pada wajah Baekhyun saat ini. Aku memasang wajah kesal menatapnya. Bukannya memberikan sesuatu yang kumaksud, Baekhyun malah melakukan hal yang tidak kuduga sebelumnya. Pria itu mencium punggung tanganku!

OH NOO!! WHAT ARE YOU DOING, STUPID?! WHY YOU KISS MY HAND?!” pekikku terkejut.

Baekhyun terkekeh melihat reaksiku. Sungguh aku ingin memukul wajah menyebalkannya itu saat ini juga.

Do you angry with me? Oh, I’m so sorry about this. Tetapi, aku senang bisa melakukan itu.”

Aku membelalakkan mataku tak percaya. “W-what?! Are you crazy?!”

Pria itu menampakkan senyum menyebalkannya. “Yes, I’m crazy because of you.”

Mendengar ucapan pria gila itu barusan, seluruh siswa di kelas berseru menggoda kami. Wajahku terasa sangat panas dan kuyakin seratus persen jika pipiku memerah saat ini. Aku menggeram kesal dan meremas telapak tanganku tepat didepan wajahnya seolah-olah ingin menghancurkan wajah pria gila itu sekarang juga.

Ish… Kau itu benar-benar-…”

Aku tak melanjutkan kalimatku dan berjalan kembali menuju bangkuku. Aku benar-benar kesal saat ini. Sekilas dari arah sudut pandanganku, sepertinya Minji sedang berjalan menuju bangkuku.

“Sepertinya si Byunnies itu benar-benar menyukaimu. Dari sikapnya yang-…”

Stop it!” desisku pelan. Aku benar-benar kesal jika mendengar nama itu.

Seperti tidak mendengar ucapanku, Minji kembali melanjutkan. “Jika dia tidak benar-benar menyukaimu, tidak mungkin dia melakukan hal senekat itu.”

“KUBILANG HENTIKAN! AKU SEDANG TIDAK INGIN MEMBAHAS HAL ITU, ALEXA CHOI!”

Aku sengaja memanggil Minji dengan nama Inggrisnya. Aku tahu dengan cara tersebut Minji akan berhenti melanjutkan kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya.

YAK! DON’T CALLING ME BY THAT NAME!! I HATE IT!! STOP IT!!” pekiknya tak terima.

Aku merasa heran dengan Minji, mengapa ia sangat membenci nama lainnya tersebut. Padahal menurut pandanganku nama itu sangat cocok dengan sikapnya yang dingin terhadap semua orang. Namun bagi dirinya, nama itu terdengar seperti nama seorang pria dan tidak cocok dengan kepribadiannya yang sangat girly. Huh! Dasar gadis aneh! Aku heran apa yang membuat Sehun bisa terobsesi dengan sahabat anehku ini. Ah sudahlah, itu bukan urusanku.

I’LL STOP IT IF YOU ALSO STOP! Aku malas membahasnya lagi, Ji-ya.”

Seluruh tatapan siswa beralih pada kami berdua. Baiklah, mungkin hal ini sangat kekanakkan dan sangat berisik. Namun aku tidak peduli. Moodku menjadi drop seketika karena masalah ini.

Aku melipat tanganku diatas meja dan meletakkan kepalaku diatasnya. Aku memejamkan mataku mencoba untuk melupakan hal yang baru beberapa menit lalu kualami. Tiba-tiba terdengar sebuah suara bangku digeser dan disusul dengan suara Minji yang berbisik tepat ditelingaku.

“Ada apa dengan Chanyeol? Mengapa raut wajahnya tiba-tiba murung seperti itu? Apakah dia melihat insidenmu tadi? Oh tidak, itu akan membuatnya cemburu.”

Aku memutar bola mataku malas. “Buang jauh-jauh pikiran seperti itu, Ji-ya. Memang apa alasannya jika ia cemburu pada si Byunnies? That’s impossible.”

Nothing is impossible. Ingat itu, Rangiie~”

Setelah ucapan terakhir itu, aku tidak mendengar suara Minji lagi. Mungkin ia sudah kembali ke tempat duduknya.

Cemburu?! Untuk apa Chanyeol cemburu? Itu bukan urusannya, bukan?

Aiish.. apa yang sedang kau pikirkan, Rangiie? Buang jauh-jauh pikiran seperti itu sebelum kau jatuh dan merasakan sakit yang amat sangat. Ya, kau harus membuangnya, Rangiie!

***

Akhir-akhir ini Chanyeol mendiamkanku. Ketika ia kuajak bicara, dia selalu menghindariku. Ada apa dengannya? Memang aku pernah berbuat salah padanya? Jika pernah, bisakah ia memaafkanku dengan tulus? Kuharap seperti itu.

Hari ini Chanyeol tidak masuk dikarenakan ia sedang mengikuti pertandingan antar basket sekolah. Entah kenapa aku merasa kesepian jika pria itu tidak ada, ditambah lagi ia juga mendiamkanku sebelumnya. Moodku lagi-lagi drop. Seharian ini aku merasa tidak semangat untuk melakukan apapun. Minji juga sudah mencoba menghiburku, tapi tetap saja aku masih merasa ada yang kurang dalam diriku untuk bisa menjadi seperti Han Sarang yang biasanya.

“Hei! Kau kenapa? Tidak biasanya Sarang-ku yang cerewet ini berubah menjadi pendiam. What’s wrong with you, dearrie?! Apa kau ada masalah?!”

Aku mengabaikan ucapan Minji. Fokusku saat ini hanya tertuju pada sebuah piring yang berisi makanan yang sudah tidak terbentuk, bahkan sebenarnya aku juga tidak benar-benar terfokus pada benda itu. Sesekali aku menghela napas kasar yang semakin membuat sahabatku ini bingung.

Yak, Han Sarang! Are you deaf-mute?! Aku sedang bicara padamu!” seru Minji kesal.

Aku kembali menghela napas kasar dan menatap Minji dengan malas. Gadis itu kembali menatapku dengan tatapan khawatir. “What’s wrong with you? Ceritalah padaku, jika kau ada masalah.”

“Minji, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku lirih. Gadis itu mengangguk antusias.

“Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, dearrie?”

Sejenak aku merasa ragu ketika ingin menanyakan hal ini, tapi aku sangat penasaran.

“Ji-ya, pernahkah Sehun marah padamu?” tanyaku hati-hati.

Mendengar pertanyaanku barusan, Minji mengerutkan alisnya bingung. “Tentu saja. Apa kau tahu? Jika Sehun marah padaku, nada bicaranya sangat datar daripada biasanya dan bahkan ia berani menatapku dengan tajam. Aku takut menatap matanya jika ia sedang marah. Pria itu sangat mengerikan jika sedang marah padaku.”

Aku terdiam ketika mendengar pendeskripsian Minji tentang sikap Sehun ketika sedang marah. Nada bicara datar dan tatapan mata tajam, bukankah itu terdengar tidak jauh berbeda dengan sikap Chanyeol padaku sekarang? Tidak ada nada bicara yang ramah dan tatapan mata yang teduh ketika pria itu sedang berhadapan denganku. Apa dia benar-benar sedang marah padaku? Ah.. tentu saja dia marah padamu, Han Sarang! Tapi jika ia benar-benar sedang marah padaku, apa alasannya?

Minji menjentikkan jarinya didepan wajahku, membuatku tersadar dari lamunan. “Hei, kenapa kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?”

Minji terus memberiku pertanyaan bertubi-tubi, bahkan aku bingung menjawab apa. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, gadis itu kembali melanjutkan. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Atau… kau sedang bertengkar dengan Chanyeol dan reaksi Chanyeol sama seperti pendeskripsianku tentang Sehun tadi? Aku benar, bukan?”

Aku tidak bisa mengelak lagi dengan pertanyaan Minji. Tapi tunggu! Aku tidak sedang bertengkar dengan pria bodoh itu, hanya saja entah kenapa ia mendiamkanku seperti ini.

“Ya kau benar. Sepertinya Chanyeol sedang marah padaku, tapi aku tidak tahu apa alasannya. Ia mendiamkanku secara tiba-tiba sejak-…”

“Sejak si Byunnies mencium tanganmu? I’m right?” tebak Minji asal.

Aku mengangguk pelan. Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba Minji tersenyum misterius padaku.

“Sepertinya si Yoda itu sedang menyukaimu. Mungkin ia cemburu. Untuk kali ini, tolong percaya padaku, Rangiie. Chanyeol benar-benar menyukaimu.”

Aku kembali terpaku mendengar penuturan Minji. Benarkah? Tapi aku tidak yakin. Yah, jika aku boleh jujur, aku kagum pada pria itu. Bagaimana tidak? Chanyeol adalah pria yang sangat baik. Dia tidak pernah sekalipun memiliki rasa dendam terhadap semua orang yang membencinya. Dia selalu tersenyum meskipun didalam hatinya ia sedang ada masalah. Dan semua yang ada dalam dirinya, aku merasa kagum.

“Entahlah. Aku ragu dengan sikapnya.”

***

Kejadian itu sudah terjadi lebih dari setahun lalu dan hubunganku dengan Chanyeol tidak ada perubahan, tetap saling diam. Aku selalu ingin menyapanya, tapi aku takut. Di tingkat tiga ini aku dan Chanyeol berbeda kelas, itu sebuah keberuntungan besar untukku. Dengan berbeda kelas seperti ini, aku tidak perlu menambah beban pikiranku tentangnya. Lagipula aku juga sudah mendengar dari gosip salah satu teman sekelasku bahwa Chanyeol sudah memiliki kekasih dari tingkat satu. Entah kenapa, aku merasa kembali ke jurang kekecewaanku.

Pekan ini adalah pekan terakhir dan juga pekan tenang bagi seluruh siswa di sekolahku. Dan hari ini adalah hari terakhir sebelum akhirnya kami dihadapkan oleh ujian akhir kelulusan. Seluruh siswa keluar dari kelas untuk saling meminta maaf dan memohon doa restu kepada para guru. Setelah selesai, masing-masing siswa berkumpul kembali dengan teman-teman dari tingkat dua. Perasaanku menjadi tidak karuan karena hal ini, aku merasa sedih tetapi aku juga merasa bahagia karena ini.

Aku dan Minji sudah kembali berkumpul dengan teman-teman dari tingkat dua. Pada awalnya kami saling berjabat tangan dan mengucapkan kata maaf. Aku terus mengikuti langkah Minji dimanapun ia berada. Karena mungkin merasa risih, ia berkata sarkatis padaku.

Yak! Kenapa kau terus mengikutiku? Kau bisa kembali bernostalgia dengan yang lainnya, Rangiie.”

Aku tersenyum tanpa dosa. “Hehe.. apa kau lupa? Hanya kau seorang yang menjadi teman terdekatku di tingkat dua. Aku tidak dekat dengan mereka. Eh… bukankah kau juga sama sepertiku? Menjadi murid invisible.”

Aku menekankan kata ‘invisible’ ketika menjawabnya dan Minji tertawa mendengarnya. “Haha… kau benar. Hanya saja aku sedikit lebih berbaur dengan yang lainnya daripada dirimu.”

Aku memutar bola mataku malas, “Whatever.

Tepat setelah kami berdua menyelesaikan percakapan konyol kami, tiba-tiba sosok Chanyeol berjalan mendekat dimana Minji dan aku sedang berdiri sekarang. Aku berbisik lirih pada Minji, “Apa kau meminta maaf padanya? Jika kau melakukannya, aku juga akan melakukannya.”

Minji membalas ucapanku dengan berbisik juga. “Entahlah. Mungkin aku melakukannya.”

Aku menatapnya sahabatku itu dengan tatapan tak percaya. “A-apa kau gila?!”

Belum sempat Minji menjawab pertanyaan terakhirku itu, sebuah suara berat tertangkap dalam indera pendengaranku.

“Minji-ya, aku minta maaf jika aku punya salah.”

Suara itu. Aku sangat familiar dengan pemilik suara itu. Pemilik suara itu adalah… Chanyeol?!

“Ya, tentu saja aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf ya,” sahut Minji dengan tersenyum manis.

Aku mengalihkan pandanganku pada Chanyeol. Dan apa kau tahu? Saat ini pria itu sedang menatapku dalam dan kami saling menatap saat ini. Oh baiklah, ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi sungguh, aku sangat bahagia karena hal ini.

Lama kami saling menatap, sampai akhirnya terdengar Chanyeol berdeham untuk memecah keheningan yang sempat terjadi. Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya.

“Sarang, aku minta maaf jika aku pernah mempunyai salah padamu.”

Bukannya membalas uluran tangan Chanyeol, aku malah menatapnya bingung. Mungkin jika Minji tidak menyenggol lenganku, aku tidak akan mungkin membalas uluran tangan itu.

“A-ah, Chanyeol-ah. Aku juga minta maaf ya.”

Hanya itu yang bisa aku ucapkan, tidak lebih. Bahkan ketika mengatakan hal itu, aku hanya bisa menyunggingkan senyum paksaku.

Chanyeol membalas senyumanku dengan senyuman riang khas dirinya. Setelah selesai mengatakan hal itu, Chanyeol berlalu meninggalkan kami berdua. Tepat saat itu juga, Minji berbisik di telingaku.

“Hei! Kenapa kau terlihat kaku seperti itu? Kau gugup, Rangiie?!”

Aku mengangkat bahuku acuh. “Entahlah.”

Minji tidak menginterogasiku lebih lanjut hanya saja ia menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya menuju teman-teman lamaku.

“Ayo kita berfoto!” seru Minji riang yang diamini oleh seluruh teman-temanku yang mayoritas adalah para gadis, yang tentu saja… ah tak perlu kujelaskan, mungkin kau bisa menebaknya sendiri, bukan?

Seperti biasa aku lebih memilih tempat ditengah dalam berfoto kali ini, sedangkan untuk barisan paling depan hanya diisi oleh murid-murid yang bisa dibilang… suka berfoto? Mungkin itu lebih baik daripada aku mengatakannya secara langsung. Kami terus berfoto dengan berbagai pose yang menarik, aku juga tidak mempedulikan siapa yang ada disebelahku saat ini meski aku tahu dari postur tubuhnya dia adalah laki-laki.

Setelah puas berfoto, satu persatu teman-temanku mulai berpencar untuk kembali kekelas masing-masing. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa penasaran akan siapa yang berdiri disampingku saat berfoto tadi dan kenapa dia masih tetap berdiri disampingku –tidak seperti lainnya yang sudah mulai membubarkan diri masing-masing–. Perlahan kuangkat kepalaku dan rasa menyesal tiba-tiba terbersit dihatiku saat ini. Pria yang ada disampingku adalah… Park Chanyeol!

Disaat aku sedang menatapnya, sialnya dia juga sedang menatapku dengan tatapan dalam. Pria itu tersenyum manis padaku, mau tak mau aku harus membalasnya meskipun lagi-lagi dengan terpaksa. Oh ayolah, kenapa jantung ini ikut heboh juga? Bisakah kau memompa darahku dengan normal seperti biasa? Napasku juga. Ada apa dengan diriku saat ini?

Aku segera mengalihkan pandanganku darinya dengan berdalih jika aku ingin kembali ke kelas sekarang juga. Aku tidak peduli jika dia menganggapku seperti orang gila. Aku tidak peduli jika ia sedang berpikir jika aku terlihat aneh dihadapannya. Sekali lagi, kukatakan aku tidak peduli lagi padanya. Dan aku berjanji pada diriku sendiri jika mulai detik ini, aku akan melupakan seorang pria yang membuat hidupku jauh dari kata ‘bahagia’. Seorang Han Sarang berjanji akan melupakan seorang pria bermarga Park itu.

Eiits… sepertinya untuk kata ‘akan’ yang kukatakan tadi perlu digaris bawahi karena aku sendiri juga tidak yakin jika aku bisa melupakannya. Apakah aku mencintainya? Bukankah aku hanya mengangguminya saja? Ah… aku pusing memikirkan ini. Aku sungguh tidak tahu dimana letak perbedaan dua kata tersebut karena bagiku kedua kata itu memiliki arti yang sama. Aku bagai seorang gadis penderita disleksia secara tiba-tiba jika dihadapkan oleh kedua kata tersebut. Aku benci kata-kata itu.

Penderitaanku bukannya semakin berkurang malah semakin bertambah ketika Minji mengatakan bahwa Chanyeol sedang menenangkan gadisnya di atap sekolah karena gadisnya itu tiba-tiba menangis. Aku menjadi merasa bersalah mendengarnya.

“Ji-ya,” panggilku pelan.

Minji mengalihkan pandangannya padaku dan bertanya lembut. “Iya… ada apa kau memanggilku, Rangiie?”

Aku menghela napasku kasar sebelum berani membuka mulutku. Lama aku menatap wajah cantik milik sahabatku itu. “Sejak kapan kau mulai melihat Shin Jinah menangis?”

Shin Jinah.

Kau pasti sudah bisa menebak siapa pemilik nama tersebut, bukan? Ya, kau benar. Jinah adalah kekasih Chanyeol. Gadis dengan hidung mungil, bibir plum, dan berkulit putih itulah yang bisa menaklukkan hati seorang Park Chanyeol.

Minji terlihat berpikir sejenak, kupikir ia sedang mencoba mengingat sesuatu. Tak lama kemudian ia menjentikkan jarinya pertanda gadis itu sudah menemukan jawabannya. “Aku sudah melihat gadis itu menangis bahkan sebelum gadis itu ditenangkan oleh Chanyeol di atap sekolah.”

Aku memutar bola mataku malas. “Tepatnya sejak kapan?”

“Sejak kita berfoto dengan teman-teman.”

“Memang sebab apa yang bisa membuat gadis itu menangis?”

Minji mengangkat bahunya acuh. “Mungkin karena Chanyeol dekat dengan para gadis? Berfoto bersama dengan para gadis? Hei! Bukankah itu sangat kekanakkan?!”

Aku terdiam mendengar penuturan Minji barusan. Dekat dengan para gadis? Berfoto bersama dengan para gadis? Entah kenapa aku merasa tertohok ketika mendengarnya kata-kata itu dengan lancar keluar dari bibir seorang Choi Minji, secara disaat sesi berfoto tadi Chanyeol berdiri tepat disampingku. Apa karena itu?!

“Ji-ya.”

“Hm.”

“Saat sesi foto bersama tadi, Chanyeol berdiri tepat disampingku. Apa karena itu Jinah menangis? Aku menjadi merasa bersalah,” diakhir ucapanku nadaku terdengar semakin lirih.

“Tentu saja tidak. Gadis itu yang terlalu me-… Hei, Rangiie! Apa kau menangis?!”

Benarkah aku menangis saat ini? Ah… ini sangat memalukan. Aku mengusap pipiku yang ternyata sudah dibasahi penuh oleh air mata. Aku berusaha tersenyum pada Minji meskipun itu terasa sangat sulit. Minji langsung merengkuhku dengan sayang. Tanpa kuhendaki sebelumnya, tangisanku semakin pecah karena perlakuannya.

“Minji, apa aku terlalu bodoh untuk menyadarinya? Apa aku sudah termakan oleh perkataanku saat itu? Apa karma sudah mendatangiku? Dan apa Tuhan sudah tidak menyayangiku lagi? Kenapa Tuhan menjatuhkanku dengan dalam tepat dimana pertama kalinya aku merasakan arti dari kata manis itu? Benarkah itu, Ji-ya?”

Minji mengusap rambutku pelan. “Ssst.. uljimma. Semua yang kau katakan itu tidak benar. Tuhan menyayangimu, maka dari itu ia memberikan cobaan ini padamu tapi dengan cara seperti ini. Mungkin Tuhan memberikan ini agar kau bisa menjaga perkataanmu lain kali. Dan aku percaya, seorang Han Sarang bisa tegar menghadapi ini semua. Han Sarang adalah sosok yang kuat, dia bukan seorang yang lembek seperti Shin Jinah. Dia bisa melalui itu semua dengan mudah. Kau tahu itu, bukan? Dan bisakah kau percaya padaku?”

Aku masih menangis tanpa menjawab pertanyaan terakhir gadis itu. Minji menepuk punggungku beberapa kali dengan perlahan. Aku tahu dengan cara itu ia mencoba memberiku kode agar tetap tenang. Minji benar. Aku harus bisa menghadapi ini semua. Aku tidak boleh lemah hanya karena seorang Park Chanyeol.

“Aku tahu dan aku sangat tahu melebihi apapun itu. Dan aku percaya padamu jika gadis itu sangat kuat. Terima kasih, Ji-ya. Kau sungguh sahabat terbaikku.”

Minji melepas pelukannya dan tersenyum menatapku. “Sama-sama. Mulai sekarang kau harus berjanji jika kau tidak akan seperti ini lagi. Kau mau ‘kan, Rangiie?”

Lagi-lagi aku terdiam. Aku kembali ragu untuk berjanji padanya. Gadis dihadapanku itu menatapku dengan pandangan seolah ia mengatakan ‘ayolah, Rangiie. Kau pasti mau berjanji padaku. Kau pasti kuat dengan ini semua.’

Melihat tatapan itu, mau tak mau aku tersenyum manis mencoba menenangkan hatinya. Meskipun aku terlihat tersenyum tetapi hatiku sebaliknya.

“Ya aku mau, Ji-ya.”

Minji tersenyum senang mendengarnya. Tapi satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Bisakah aku melupakannya begitu saja?!

–FIN–

Huuaaa… I’m back with FF GJ kaya gini….

Salahkan aku pas buat ini aku kehilangan feel untuk menyelesaikannya, jadinya yah kaya gini terkesan…. maksa banget ya?

Menurut kalian apa yang harus dilakukan Sarang? Melupakan Chanyeol atau masih mengharapkannya?!

Oh ya, ini bukan lanjutan dari ficlet series kemarin loh ya… Beda cerita…

Lagi-lagi aku menambah pairing cast selain Minji-Sehun, Minri-Luhan, hehe maafkan aku…

Visualisasi pairing castku sekarang adalah…. tadaa….

PARK CHANYEOL – HAN SARANG

large-121 2560ca5f34fd0a9e7cdf176e9f03fdc0

Segitu aja ya dariku, big thanks and see ya~

Regards,

–BaekMinJi93–

Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s