[Oneshoot] Lie Is My Special Gift

Lie Is My Special Gift

Tittle                : Lie Is My Special Gift

Author             : BaekMinJi93

Genre              : Romance, Fluff, Family

Lenght             : Oneshoot

Ratting             : PG 15

Main Cast        : – Oh Se Hun (EXO), – Choi Min Ji (OC)

Support Cast    : – Choi Min Ho (SHINee), – Choi Min Ri (OC)

Disclaimer       : Cerita ini terinspirasi dari jebakan-jebakan yang diberikan pada seseorang ketika berulang tahun. Happy  Reading and Don’t be a plagiarism, guys~

Credit Poster   : HRa @ PosterChannel

| Recommend Backsound : Eunji ft. Seo In Guk — All For You | GFriend — Neverland |

Another Series :

Summary         :

Jujur saja, aku sempat kecewa ketika kau membohongiku tepat dimana hari itu adalah hari spesialku

Tapi efek dari kebohongan yang kau buat adalah hadiah yang spesial dalam hidupku


Seminggu sudah pria konyol itu tidak memberi kabar apapun padaku, bahkan untuk sekedar menelepon saja sepertinya tidak bisa. Aku tahu dia dengan member lain sedang disibukkan dengan persiapan comebacknya. Eh… tapi bukankah music videonya sudah rilis? Berarti dia sudah mempunyai kesempatan untuk memberikanku kabar yang setidaknya sedikit melegakan hatiku saat ini. Oh Gosh… apakah dia tidak tahu jika aku sudah tidak tahan menahan rasa rinduku padanya? Awas saja jika pria itu mempunyai kesempatan untuk menampakkan sedikit saja batang hidungnya, aku akan langsung memukulinya tanpa ampun. Aku berjanji akan hal itu.

Saat ini aku sedang terduduk diatas ranjang dengan laptop yang menyala, dan oh… jangan lupakan sebuah video yang sedang berputar didalamnya. Aku memasang volume suara video itu dengan keras, berbagai teriakanpun terdengar dari kamar sebelah.

Yakk! Kecilkan sedikit volume videomu! Aku tidak bisa mendengar Luhan oppa bicara tentang apa!”

Atau yang seperti ini…

“Berhenti melihat video itu saja! Apa kau tidak berniat untuk melihat ketampanan kakakmu di video yang kemarin?!”

Untuk teriakan pertama, aku tidak berniat sedikitpun untuk membalasnya. Namun untuk teriakan yang kedua, sepertinya lain lagi. Karena ada kesan percaya diri didalamnya, akan merasa sayang sekali jika tidak menggoda pria itu sedikit saja.

“Sayangnya tidak sama sekali, Minho oppa. Lagipula kau tahu sendiri bukan, jika aku membenci rambutmu yang berwarna karatan itu. Oh tidak… aku lupa jika aku belum cukup umur untuk melihat video itu.”

Aiish… kau adik yang durhaka, Choi Minji!!”

Kali ini aku membalas teriakan itu dengan tawa yang puas. Pandanganku kuarahkan kembali pada layar laptopku. Tapi sepertinya ada yang janggal dengan video ini, kenapa aku tidak melihat bagian Sehun secara close-up sedikitpun? Apa sudah terlewat?

Aku mengarahkan pointer laptopku ke bawah, kurang dari sedetik layar itu menunjukkan jika durasi video itu tinggal beberapa detik lagi. Ah… ini semua karena dua orang perusuh itu, aku jadi tidak bisa melihat pria konyol itu –yang sayangnya sedang aku rindukan saat ini–. Dengan cepat aku mengarahkan kembali pointer itu pada logo berbentuk persegi yang menandakan ‘stop’ dan di detik selanjutnya aku menekan pada logo berbentuk segitiga yang menghadap kekanan untuk memainkan video itu dari awal.

Videopun mulai berputar. Dimulai dari intro, bait pertama yang dinyanyikan oleh Baekhyun, dilanjut dengan Suho, Chanyeol yang memulai rapp. Tepat disaat Chanyeol memulai rappnya, aku menegakkan tubuhku karena aku tahu sebentar lagi pria itu akan muncul secara close-up memenuhi layar laptopku. Tak butuh waktu lama aku sudah mendapatkan tujuan utamaku, Sehun memulai bagian rappnya!

Arah pandangku tak beralih sedikitpun dari sosok itu. Kurasa aku menyukai style nya di video ini. Dengan rambut hitam lurus dan poni yang jatuh kedepan, membuatnya jauh lebih natural daripada yang sebelumnya. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir dibibirku. Sungguh aku sangat rindu dengan sosok itu. Tepat disaat pria itu berpamitan untuk tidak mengajar lagi di sekolahku, Sehun jarang menelepon untuk menannyakan kabarku. Wajar bukan jika aku merindukannya saat ini?

Oppabogoshipeo-yo…”

***

Oppa… kau kemana saja? Kenapa kau tidak pernah meneleponku? Apa kau sudah lupa denganku? Kau jahat, oppa.”

Pertanyaan yang terlontar dan pukulan bertubi-tubi terus kulayangkan pada pria dihadapanku ini. Apa kau berpikir jika dia adalah Sehun? Bingo! Kau benar sekali, dia adalah Oh Sehun.

“Apa kau merindukanku?”

Satu kalimat ringan yang berefek berat untukku. Rasa panas mulai terasa memenuhi kedua pipiku. Aku menundukkan kepalaku malu. Tiba-tiba sebuah celutukkan tertangkap pada indera kami, aku tahu suara itu.

Ish… Baru beberapa minggu tidak bertemu saja, sudah seperti itu. Bagaimana kalau dia mengalami hal sepertiku? Huh… aku tidak bisa membayangkannya.”

Aku mengangkat kepalaku cepat dan mengarahkan pandanganku pada sumber suara. “Yak! Kau sedang menyindirku, Choi Minri?!”

Merasa namanya terpanggil, gadis itu mengarahkan pandangannya padaku. “Oh… kau mendengarnya, my twin. U-uhI’m sorry…

“Hei… Luhan hyung sedang ada di Korea saat ini. Kau sudah mengetahuinya?”

Dapat kulihat ekspresi Minri berubah terkejut sekarang, dapat kupastikan gadis itu belum mengetahuinya.

“Ah… benarkah? Huh! Xi Luhan… Awas saja, aku akan menghukummu nanti…” geramnya seraya berlalu dari hadapan kami.

Aku mendecih pelan melihat kelakuan saudara kembarku itu. “Cih! Kau bahkan tidak ada bedanya denganku, Choi Minri!”

Minnie…”

Kualihkan pandanganku kearah Sehun. Kulihat dari ekspresinya ketika menatapku sekarang, sepertinya Sehun sedang menyembunyikan sesuatu. “Ada apa, oppa?”

Sehun terdiam cukup lama sampai akhirnya ia mulai membuka suaranya kembali, “Minnie, sebenarnya besok adalah hari…”

“Hari ulang tahunku!” potongku cepat dan girang. Pria itu tersenyum tipis melihat reaksiku dan menggenggam tanganku erat.

Kulirik sekilas tautan itu dan menatap pria dihadapanku ini dengan penuh tanya. Namun belum sempat aku bertanya lebih lanjut, Sehun sudah melanjutkan perkataannya kembali.

Minnie… kau mau berjanji sesuatu padaku?”

Rasa ragu mulai menghinggapiku, namun aku menahannya dan menjawab pertanyaannya yakin. “Ya, aku mau. Kau ingin mengatakan apa, oppa?”

Sehun kembali terdiam sangat lama dan akibat dari perlakuannya saat ini adalah rasa ragu terus membuncah didalam dadaku.

Minnie… kumohon kau jangan marah padaku. Sebenarnya besok adalah hari–…”

Oppa. Bisakah kau pulang sekarang juga? Ini sudah malam dan aku sudah ngantuk,” potongku cepat.

Sebenarnya aku takut apa yang kutakutkan selama ini akan terjadi. Kutarik lengan Sehun agar ia mau berdiri, namun ia tetap tak bergeming dari tempatnya.

“Oh ayolah, oppa. Pulanglah sekarang juga. Kau tega melihatku dengan mata yang semakin sipit ini?”

Jujur saja, aku sendiri ingin tergelak dengan ucapanku barusan, tapi dengan susah payah aku harus menahannya. Tidak ini bukan waktu yang tepat untuk melucu, Choi Minji.

“Tidak! Matamu tidak sipit, Minnie,” elak Sehun tetap kukuh dengan pendiriannya.

Kutarik terus lengannya hingga mau tak mau pria itu beranjak dari tempatnya dengan enggan. “Terserah apa yang kau katakan. Yang terpenting saat ini aku ingin oppa pulang sekarang juga. Aku yakin hyungdeul mu sudah menunggu di dorm saat ini.”

Kami berdua sudah sampai tepat didepan pintu. Kubuka pintu itu dengan cepat dan mendorong pria itu keluar. Sehun masih terus saja menahan pintu itu agar tidak tertutup.

“Kumohon dengarkan penjelasanku sejenak. Kuyakin jika kau tidak mendengarnya, kau akan menyesalinya, Minnie.”

I don’t care!” desisku tajam.

Kutekan kuat-kuat pintu rumahku itu agar tertutup dengan sempurna, tidak mempedulikan panggilan memelas dari pria itu. Dengan sekali hentakan yang cukup keras, pintu itu tertutup dengan sempurna.

Oppa… mianhae…

***

Yak! Ji-ya! Bangunlah! Temani aku nonton film di ruang tengah sekarang!”

Tubuhku terasa sakit semua akibat guncangan yang diberikan oleh… siapa lagi kalau bukan gadis gila itu?

YAKK! APA KAU SUDAH GILA?! MEMBANGUNKAN ORANG LAIN DI TENGAH MALAM HANYA UNTUK MENONTON FILM GILAMU ITU?!” amukku kesal.

Minri mengerjapkan matanya ketika semburan itu keluar secara mulus dari mulutku dan berujar polos, “Kau bukan orang lain bagiku dan bukankah kau saudara kembarku sendiri? Jadi aku boleh meminta padamu untuk menemaniku menonton film sekarang.”

Huh! Benar-benar sangat polos, bukan? Tapi menurutku itu bukan hanya sekedar polos, tetapi juga idiot. Dengar itu, IDIOT!

Kuhentakkan kedua kakiku diatas ranjang dengan kesal. “Aish… bukankah kau bisa meminta pada Minho oppa untuk menemanimu? Dia juga saudaramu, bukan?”

Huh! Percuma aku membangunkan pria kerbau itu. Kau tahu bukan jika dia adalah raja tidur dirumah ini?”

Hell… bukankah aku juga sama saja? Baiklah jika Minho oppa adalah raja tidur maka aku akan menobatkan diriku menjadi ratunya. Lucu, ‘kan?

Untuk yang kesekian kalinya… tidak! Lebih tepatnya ini sudah yang puluhan kalinya –Ah itu terlalu sedikit–. Okay mungkin ini untuk yang keseratus kalinya? –Ah… itu juga masih terlalu kurang–. Baiklah, untuk yang ribuan kalinya? –Itu baru tepat–, aku menuruti rengekan dari gadis gila ini. Seraya menggerutu, aku baranjak dari tidurku.

Dengan senyuman childishnya, Minri berjalan mendahuluiku. Tetapi sebelum kami sampai di ruang tengah Minri mengatakan jika ingin pergi ke dapur terlebih dahulu. Namun tepat setelah Minri mengatakan hal itu, tiba-tiba lampu rumahku padam. Tubuhku menegang seketika.

Eoeonnie… ka-kau di-dimana? A-aku ta-takut…”

Sial! Kenapa suaraku menjadi gemetaran seperti ini? Aiish… aku benci suasana seperti ini.

Eonnie... berhenti bercanda! Ini semua tidak lucu!”

Harus kuakui, aku ingin menangis sekarang juga dan aku terduduk di lantai dengan kedua kakiku membentuk sudut sembilan puluh derajat dengan kepala yang tenggelam diantara keduanya. Tiba-tiba aku merasakan ada yang memeluk tubuhku dari belakang dan sempurna! Tangisku semakin pecah karena hal itu.

“Ku-kumohon jangan ganggu aku…”

Namun permohonanku sepertinya tidak digubris oleh pemilik tangan itu. Dapat kurasakan sebuah hembusan napas di tengkukku. “Don’t worry, babe… I’m here for you…”

Tunggu sepertinya aku mengenal suara itu. Tidak salah lagi, dia pasti…

“SEHUN OPPA?!”

Tepat setelah aku memekik seperti itu, lampu rumahku menyala seketika. Kini pandanganku sepenuhnya menjadi jelas. Secara refleks aku mengarahkan pandanganku kearah belakang. Ya… pria itu ada disana. Dia tidak pergi meninggalkanku. Aku menatapnya tak percaya. Dengan posisi duduk yang sama denganku, Sehun menatapku dengan senyumnya.

Surprise…”

Terdengar sebuah suara –yang kuyakini tidak hanya satu orang–, meneriakkan kata itu. Aku mengikuti sumber suara itu berasal. Tak jauh dari tempatku sekarang, ayah, ibu, dan juga kedua kakak gilaku itu, masing-masing membawakanku sebuah kue dengan lilin berbentuk angka 19 yang menyala dan hadiah untukku. Mau tak mau, sebuah senyuman tersungging di bibirku.

“Kalian menyiapkan semua ini?” tanyaku tak percaya.

Ibu berjalan pelan kearahku. “Tidak. Lebih tepatnya yang merencanakan ini semua adalah pria yang berdiri dibelakangmu sekarang.”

Aku menoleh kebelakang menatap Sehun dengan tatapan seolah berkata ‘Benarkah itu?’, yang dibalasnya dengan tatapan dan senyuman yang seolah mengatakan ‘Apa kau senang?’. Kami saling bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya sebuah celetukan membuyarkan semuanya.

Ish… Hentikan kegiatan saling menatap itu. Aku lapar menunggu kue itu dipotong. Kau tidak lihat coklatnya hampir meleleh?”

Tidak seperti biasanya, kali ini aku menanggapi protesan itu dengan terkikik geli. “Okay… maafkan aku.”

Aku segera berjalan mendekati ibu yang kini sedang membawa kue dan menungguku untuk meniup lilin itu. Setelah selesai membuat harapan, ritual tiup lilin selesai kulaksanakan dengan diiringi tepuk tangan dari orang-orang disekitarku.

“Sudah kutiup lilinnya. Sekarang kau bisa memakan kue itu sesukamu. Kau puas, my twin?”

***

“Hei… kau membohongiku. Aku marah padamu.”

Sepertinya memar merah akan segera bersarang didada bidang Sehun karena mendapat pukulan dariku selama dua hari berturut-turut.

“Tunggu… kenapa kau marah padaku? Memang aku berbohong tentang apa?”

Sehun menggapai kedua tanganku. Dia menatap tepat di kedua mataku. Tatapan yang diberikannya padaku tak pernah berubah dari dulu, selalu lembut dan menenangkan. Dapat kurasakan jika pipiku memanas saat ini. Oh tidak!

“Bukankah oppa akan pergi ke Vancouver hari ini dan tidak akan pernah kembali kesini? Aku benar, bukan?”

Sehun tertawa mendengar pertanyaanku barusan. Sedangkan aku? Aku hanya menatapnya bingung sekaligus kesal.

Yak! Kenapa tertawa? Apa ada yang salah dengan perkataanku?”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Minri eonnie.”

Aku membelalakan mataku ketika nama itu keluar secara lancar dari bibirku. Benar, gadis itu yang mengatakan padaku seperti itu. Damn! Dia membohongiku lagi kali ini.

YAK! CHOI MINRI! KENAPA KAU TEGA MEMBOHONGI ADIK KEMBARMU SENDIRI, EOH?!”

Minri menampakkan kepalanya dari arah dapur, dengan coklat yang penuh disekitar mulutnya. “Hei! Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya ingin menjalankan permintaan dari kekasihmu itu.”

“Tapi aku tidak menyuruhmu untuk membohonginya dengan cara seperti itu.”

“Salahmu sendiri, kenapa tidak menjelaskannya secara lebih detil dari awal. Itu tetap menjadi kesalahanmu, tuan Oh. Jadi Ji-ya, kalau kau ingin marah, marah saja padanya. Dia yang memiliki semua ide gila itu.”

Setelah itu sosok Minri kembali menghilang ditelan oleh ruangan yang disebut dapur itu. Aku menatap datar kearah Sehun meminta penjelasan yang lebih jelas.

“Bukan seperti itu maksudku. Percayalah. Aku tidak menyangka jika Minri berkata seperti itu padamu.”

Aku menundukkan kepalaku dalam. “Asal oppa tahu, aku hampir gila karena memikirkan hal itu. Aku takut kau akan meninggalkanku dan… dan memutuskan hubungan kita.”

Sehun merengkuhku kedalam pelukannya. “Hei, dengarkan aku. Untuk apa aku pergi kesana tanpamu, kau ingin aku kesepian disana? Dan pikiran darimana itu? Memutuskan hubungan ini? Apa aku sudah gila? Memutuskan hubungan ini sama saja aku membunuh diriku sendiri, chagi. Jadi jangan pernah memiliki pikiran seperti itu lagi, okay?”

Tanpa sadar senyuman tipis terukir diwajahku. Kulepaskan pelukannya dan menatapnya datar –seolah-olah aku masih marah dengannya–. Sehun yang melihatku seperti itu menjadi salah tingkah.

Eung… Kumohon maafkan aku. Aku hanya ingin membuat kejutan untukmu, tidak lebih.”

Ekspresiku masih tetap tidak berubah dan itu semakin membuatnya salah tingkah sekaligus merasa bersalah. Kami berdua sempat hening sejenak, sebelum akhirnya ia bersuara untuk mengalihkan permbicaraan. “Oh ya… aku ada sesuatu untukmu.”

Sehun mengarahkan tangannya kedalam saku celana jeans yang ia pakai. Sepertinya benda itu kecil, apa itu sebuah kalung atau cincin? Entahlah aku juga tidak tahu, yang penting saat ini aku sangat penasaran akan benda itu. Tak butuh waktu lama, aku sudah bisa melihat jika Sehun sedang menggengam sesuatu, tapi aku masih belum bisa memastikan apa benda itu.

“Tutup matamu. Dan jangan dibuka sebelum aku menyuruhmu membukanya.”

Tanpa banyak bertanya terlebih dahulu, aku menutup mataku sesuai dengan instruksi yang diberikannya. Cukup lama aku menunggu, tiba-tiba kau merasa ada sebuah hembusan napas lembut didepan wajahku. Perlahan kubuka mataku, tetapi sebuah ucapan datar menghentikanku. “Sudah kubilang bukan, jangan membuka mata sebelum aku mengatakannya.”

Mau tak mau aku kembali mengikuti perkataannya. Beberapa saat kemudian aku tidak lagi merasakan hembusan napas itu, melainkan sebuah material lembut menyentuh bibirku. Tunggu… di bibirku? Sejenak aku membuka mataku untuk melihat apa yang terjadi. Benar seperti apa yang kupikirkan sebelumnya, Sehun sedang menciumku sekarang! Ah tidak, pipiku merona saat ini.

Aku kembali menutup mataku dan mencoba beradaptasi dengan sensasi yang kurasakan saat ini. Jujur saja, aku merasa jika perutku sedang dikelilingi oleh ribuan kupu-kupu yang mencoba membawaku terbang bersamanya. Bodoh! Kenapa aku menjadi seorang puitis seperti ini?

Beberapa menit telah berlalu, begitu juga dengan berakhirnya ciuman pertama kami. Aku masih enggan membuka mataku karena jujur saja aku tidak tahu bagaimana reaksi wajahku saat aku menatap kedua manik mata pria dihadapanku ini.

“Buka matamu.”

Lagi-lagi aku hanya mengikuti ucapan pria itu tanpa membantah sedikitpun. Tatapanku secara otomatis langsung berhenti tepat di manik matanya. Pria itu tersenyum, tersenyum bahagia lebih tepatnya.

“Itu ciuman pertamamu, bukan? Ah tidak, lebih tebih tepatnya ciuman pertama kita, bukan?”

Aku tersenyum kecil dan mengangguk menyetujuinya. Sebuah usapan lembut bersarang di puncak kepalaku.

“Terima kasih kau mau menungguku dan menepati janjimu padaku. Oh ya, kau sudah lihat hadiah pemberianku? Aku harap kau menyukainya.”

Oh ya, hadiahnya. Entah kenapa otakku mencoba membimbingku untuk mengalihkan pandangan kearah leherku dan pandanganku menangkap sebuah benda yang indah –menurutku–. Sebuah kalung dengan cincin perak yang berperan sebagai liontinnya. Kuraih cincin dengan mata berlian ditengahnya, ternyata ada sebuah ukiran beberapa huruf yang merangkai kata didalamnya. Oh Sehun.

Kualihkan pandanganku kearah Sehun kembali dengan senyuman manis yang kupunya selama ini. “Kau menyukainya?” tanyanya penuh harap.

Oh God… hanya orang bodoh yang tidak menyukai hadiah seromantis ini. Tentu saja aku menyukainya. Kupeluk tubuh tegapnya dengan perasaan bahagia yang menggebu-nggebu, aku sungguh beruntung mempunyai kekasih tampan dan lembut seperti dirinya.

“Ya, aku menyukainya. Sangat menyukainya.”

Sehun membalas pelukanku dan kurasakan jika ia mencium puncak kepalaku dalam. “Kau mau berjanji sesuatu padaku?”

Kuangkat kepalaku dan menatapnya bingung. “Lagi?”

Sehun mengangguk kecil. “Aku jamin ini adalah terakhir kalinya aku memintamu untuk berjanji padaku dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Dengan hembusan napas yang berat, aku mengangguk kecil menyanggupinya.

Minnie… kau tahu? Aku juga mempunyai kalung yang sama persis denganmu-…”

Tatapanku langsung terarah pada lehernya. Dan benar saja, sebuah kalung berliontin sebuah cincin sedang melingkar manis di lehernya.

“Hanya saja di cincin ini terukir namamu. Dan kau tahu kenapa aku memberikanmu hadiah seperti ini? Kenapa tidak dengan sepatu heels atau barang-barang yang lainnya, padahal aku tahu bahwa kau sangat menyukai berbagai hal yang berkaitan dengan kecantikan?”

Diam tanpa berkata apapun, itulah reaksiku saat ini. Menunggu lanjutan dari pembicaraan ini.

“Karena aku ingin bertunangan denganmu seusai upacara kelulusanmu nanti. Dan kita akan segera menikah. Kau senang akan hal itu, Minnie?”

Huh! Sudah berapa kali Sehun menanyakan pertanyaan yang pastinya mendapat jawaban yang sama dariku. Dasar bodoh! Tapi sayangnya, aku sudah terlanjur mencintainya.

“Tentu saja aku senang. Siapa yang tidak senang jika dilamar oleh Oh Sehun salah satu member dari boygroup EXO? Kupikir semua fansmu sangat memimpikan hal itu.”

“Tetapi aku sudah memilih salah satu dari fansku. Dan itu kau, chagi.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal. “Hei! Aku bukan fansmu, tapi aku adalah-…”

“Calon istriku,” potongnya cepat seraya tertawa puas.

Yak! Perjalanan belajarku masih jauh. Aku masih harus kuliah dan-…”

Sehun menggeleng cepat mendengar elakkanku. “No no no. Kau tidak perlu kuliah dan tidak perlu kerja apapun, chagi. Kau hanya perlu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan-…”

“Menunggumu pulang satu kali dalam seminggu? Oh bahkan mungkin lebih dari seminggu. Bagaimana jika kau meninggalkanku saat world tour nanti? Arrgh, tidaakk!! Aku tidak bisa membayangkan semua itu.”

“Tapi-…”

“Dan apakah oppa bangga ketika semua orang mengataimu bahwa kau telah memilih istri yang bodoh karena tidak melanjutkan kuliahnya? Kau senang akan hal itu, oppa?”

Sehun kembali tertawa ketika mendengar ucapanku yang panjang seperti kereta api yang tidak pernah merasakan macet di jalan raya. “Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, jika aku menyuruhmu tetap menjadi Choi Minji yang dingin terhadap semua orang? Jangan pedulikan mereka semua, chagi.”

“Tapi oppa, aku masih ingin melanjutkan studiku di jenjang kuliah. Kau mau menungguku, bukan? Sungguh aku tidak ingin dianggap menjadi sebagai wanita bodoh yang bertopengkan gelar istri dari Oh Sehun. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku juga pintar sepertimu, oppa.”

Sehun tersenyum manis mendengar ucapanku. “Tidak. Kau tidak bodoh, chagi. Hanya saja kau lemah dalam bidang-…”

“Sudah jangan diperjelas. Aku tahu kau jago matematika daripada diriku. Tapi setidaknya, nilai Bahasa Inggrisku lebih tinggi daripada nilai Bahasa Inggrismu ketika di sekolah menengah dulu. Haha…”

Sehun mendelik kesal kearahku. “Yak! Kau berani mengejekku, Minnie?”

“Kau yang memulainya duluan, oppa.”

Lagi-lagi Sehun merengkuh tubuhku yang tentu saja membuat tawaku berhenti seketika. “Sudah berhenti mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaanku sekarang, kau mau menerima permintaan tunangan itu, ‘kan?”

“Tentu saja aku mau. Kau seharusnya tidak perlu memperjelas pertanyaan ini, oppa. Karena kau sudah tahu apa jawabanku.”

Pria itu semakin mengeratkan pelukannya padaku. “Terima kasih, chagi. Terima kasih karena kau sudah menerimaku apa adanya. Dan sekali lagi terima kasih karena kau sudah mau mewarnai hidupku yang serba putih ini.”

Tidak. Seharusnya akulah yang berterima kasih padamu, Sehun oppa. Dan seharusnya akulah yang mengatakan hal itu. Kau telah membuat Choi Minji si gadis dingin berubah menjadi Choi Minji si gadis hangat ketika bersamamu. Terima kasih, oppa.

“Sama-sama. Aku juga berterimakasih padamu, karena mau mencintai gadis es seperti diriku.”

Saranghae.”

Nado saranghae, oppa.

“Kau mau menungguku sekali lagi ‘kan, Minnie?”

Oh ayolah, sudah berapa kali aku harus menjawab pertanyaan yang sama dilontarkannya.

“Aku akan menunggunya, oppa. Aku akan setia menunggu hari manis itu datang. Hari dimana appa akan menyerahkanku padamu dan kita akan berdiri diatas altar untuk mengucap janji untuk bersama selamanya. Kau sudah puas? Berhenti bertanya pertanyaan yang sama padaku. Aku bosan mendengarnya.”

Tawa Sehun pecah ketika mendengar ucapan datar dariku. “Okay, maafkan aku dan terima kasih banyak.”

–FIN–

Hollaaaa.... Alohaaa.... Annyeong.... Hai.... Hello...
Hehe, semua salam aku sebutkan ya... *abaikan*
Ketemu lagi denganku yang membawa JiHun series ficlet... 🙂
Semoga part ini kalian suka ya... soalnya jujur aja, seperti biasa moodku tiba-tiba hilang dan pergi begitu saja
*emang lagu?* -_-
Yeaayy... di part ini Sehun ngelamar Minji buat jadi istrinya 😀 , berarti itu tandanya kalo series ini berakhir sampai disini
😥
Kalo boleh jujur aku pengen fokus sekolah dan series terbaruku itu, udah pada tahu kan? *enggak...*
Kalo belum pada tahu, baiklah kita anggep itu sebagai kejutan, oke? 😉
Oh ya, buat yang nunggu series yang baru itu, harap sabar ya, soalnya aku juga nunggu request an posternya yang sampe
sekarang belum jadi 😥 -_-
Mungkin segitu aja dariku... Sampai jumpa di seriesku yang lainnya... 🙂

Regards,

--BaekMinJi93--
Iklan

One thought on “[Oneshoot] Lie Is My Special Gift

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s