[Chapter 1] I Don’t Care About End This Story

I Don't Care About End This Story

Poster by leesinhyo@posterchannel

—–

~ BaekMinJi93 Present ~

—–

Romance — Friendship — Family  — Little bit Angst

—–

Semua orang mengatakan jika pengorbanan untuk mendapatkanmu sangatlah sia-sia

Dan semua orang juga berpikir cerita cinta ini akan berakhir sedih

Tapi percayalah… aku tidak akan mempedulikan semua itu

—–

Teaser

—–

This story is purely mine. Don’t plagiarism and Happy reading, guys ^^

—–

| Recommend Song : Lovelyz – Candy Jelly Love | Lovelyz – Hi~ |

—–

—–

BUGH…

“Ah… maafkan aku, sunbae. Aku sungguh tidak sengaja.”

Aku menundukkan kepalaku dalam, bahkan untuk melirik kearah wajah seseorang dihadapanku saja aku takut.

Gwenchana. Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga salah, seharusnya aku lebih berhati-hati dalam berjalan bukannya memainkan ponsel seperti tadi.”

Hei! Apakah ada yang salah dengan pendengaranku barusan? Jelas-jelas akulah yang eum… menabraknya dan dia masih sempatnya mengatakan bahwa dirinya juga bersalah?

Aku segera mengalihkan perhatianku pada beberapa bukuku yang terjatuh karena insiden tabrakan ini. Ketika aku sedang mengambil salah satu diantaranya, tiba-tiba aku melihat sebuah tangan terulur untuk membantuku membereskannya. Dengan perlahan aku mengangkat kepalaku, sepertinya ia canggung karena perlakuannya barusan, terbukti dari tingkahnya yang menggaruk tengkuknya –yang kuyakin sedang tidak gatal itu–.

Eum… bolehkah aku membantumu membereskannya?”

Aku sempat terenyak mendengar ucapannya. Aku tidak menyangka jika ia akan berlaku baik seperti ini. Mau tak mau aku mengangguk menyetujuinya.

Dalam sekejap buku itu sudah rapi kembali –beberapa diantaranya ada di tangan sunbae itu, mencoba membantuku membawa buku itu–. Aku meminta kembali buku-buku itu, tapi ia terus saja mengatakan jika ia ingin membantuku membawakannya.

Sunbae, biar aku saja membawanya.”

“Tidak. Aku akan membantumu untuk membawanya. Anggap saja ini sebagai rasa maafku karena insiden tadi.”

Gwenchana. Aku bisa membawanya sendiri.”

Sunbae itu mengerutkan dahinya tak yakin. Aku terus mengatakan jika aku bisa membawanya sendiri. Mungkin karena sudah lelah berdebat denganku, sunbae itu memberikan buku itu kembali padaku.

“Terimakasih sudah membantuku, sunbae. Aku pergi.”

Tepat setelah mengatakan hal itu, aku langsung berjalan menjauhinya. Entah kenapa aku merasa jika pipiku merasa panas saat ini. Aku melangkah semakin cepat menuju kelas untuk menghilangkan rasa maluku. Disaat aku memasuki lorong menuju kelas, tiba-tiba ada yang menepuk pelan bahuku.

“Usaha yang bagus, Mi-ya.”

Aku menoleh kearah sumber suara. Kudapati seorang gadis dengan rambut hitam kecoklatan panjangnya sedang tersenyum padaku. Aku membalas senyumannya.

“Terima kasih.”

***

Entah ini yang keberapa kalinya aku memperhatikan sosok itu. Melihat peluh yang menghiasi tubuhnya dan juga tendangan-tendangan maut yang diberikan pada bola itu, beberapa siswi disekolahku terus saja meneriakkan nama pria itu untuk sekedar menyemangatinya. Aku hanya bisa memutar bola mataku malas ketika mendengar berbagai teriakan itu.

Aku tidak menyadari jika ada seorang gadis yang saat ini sedang duduk tepat disampingku, aku baru menyadari keberadaannya ketika ia meggoyangkan tangannya tepat di tulang rusukku. Aku sedikit merintih kesakitan karena perlakuannya dan menatap tajam kearah gadis itu, yang sialnya hanya dibalas dengan tatapan tak berdosa.

“Sampai kapan kau terus memperhatikannya dari jauh seperti ini, Mi-ya? Kupikir jika kau tidak segera mendekatinya, dia akan segera menjadi milik salah satu diantara kerumunan para gadis itu,” ucap gadis disampingku dengan mengalihkan pandangannya kearah beberapa kerumunan yang dipenuhi oleh gadis-gadis berisik itu.

Aku menghela napas kasar. “Itu tidak akan terjadi, Minri-ya. Kupikir seleranya tidak seperti para gadis berisik itu.”

Kudengar gadis yang memiliki nama lengkap Choi Minri itu tertawa geli mendengar reaksiku. “Lalu jika kau mengira pria itu tidak tertarik dengan salah satu diantara gadis berisik itu, menurutmu dia akan tertarik dengan gadis yang seperti apa? Seperti gadis dengan nama lengkap Park Chanmi? Gadis pendiam yang memendam perasaannya selama satu tahun terakhir ini?”

“Mungkin saja,” balasku sekenanya.

“Mendekatlah padanya. Tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?” ujar Minri mencoba memberiku saran.

Lagi-lagi aku kembali menghela napasku kasar. “Aku tidak yakin dia akan tertarik padaku, Minri-ya.”

“Dan kau terus menyiksa dirimu secara perlahan seperti ini? Mendengar berbagai gosip jika Baekhyun sunbae sedang dekat dengan-…”

“Cukup,” potongku dingin. “Aku tidak ingin mendengar nama gadis itu. Aku membencinya.”

Sahabatku itu mengangkat sebelah alisnya. “Kau mengatakan jika kau membenci gadis itu, tapi kau tidak berusaha untuk merebut Baekhyun sunbae dari gadis itu. Apa sebenarnya maumu, Mi-ya?”

Aku memejamkan mataku dan mengatur emosiku karena percakapan yang kubenci ini, sebelum akhirnya aku membuat keputusan yang jujur saja belum pernah kubayangkan sebelumnya.

“Okay. Aku akan mencoba mendekatinya.”

***

Aku merebahkan tubuhku diatas ranjangku tanpa peduli jika aku belum melepas seragamku. Pikiranku kembali melayang pada kejadian pagi tadi. Aku tidak pernah menyangka jika pria itu sangat ramah pada orang yang bahkan belum dikenal sebelumnya. Namun pikiran positifku kembali lenyap ketika aku menangkap sebuah bayangan kedua sosok itu kembali pulang sekolah bersama.

Byun Baekhyun dan Shin Ahrim.

Aku tahu jika kedua sejoli itu sudah dikabarkan dekat sejak lama, tapi entah kenapa aku tidak pernah mempunyai pikiran untuk menghilangkan rasa suka ini pada Baekhyun sunbae –dan bahkan aku membenci sang gadis tanpa alasan yang jelas–. Aku tidak tahu kenapa jika aku melihat keduanya sedang berjalan bersama, aku merasa ada yang janggal diantara mereka. Baiklah kau boleh mengataiku jahat atau apapun yang kau mau, tapi jujur saja jika untuk melupakan sosok itu rasanya sangat sulit.

Tanpa terasa buliran kristal bening sudah jatuh memenuhi pipiku kembali. Ya kau benar, aku menangis lagi –menangisi seseorang yang tidak pernah mengerti perasaanku sebenarnya–. Apakah aku terlalu puitis? Jika benar seperti itu, baiklah aku minta maaf padamu. Aku hanya tidak tahu kepada siapa lagi aku harus mencurahkan perasaan sakit ini.

Disaat aku sudah mulai terhanyut dengan suasana ini, tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pada pintu kamarku.

“Mi-ya, ayo kita makan malam bersama. Eomma dan appa sudah menunggumu dibawah.”

Aku kenal dengan pemilik suara bass itu, dia adalah Park Chanyeol –kakakku satu-satunya–. Aku tidak menghiraukan panggilan itu. Tetapi tak lama kemudian aku mendengar sebuah suara pintu kamarku terbuka diikuti dengan langkah kaki seseorang, siapa lagi kalau bukan Chanyeol.

“Mi-ya, kau menangis lagi?” tanyanya lembut seraya mengusap puncak kepalaku.

Aku tidak menjawab melainkan langsung menghambur kedalam pelukannya. Chanyeol membalas pelukanku dengan sayang.

“Ada apa? Baekhyun lagi?”

Tanpa bertanyapun, sepertinya sudah memiliki jawabannya. Chanyeol melepaskan pelukanku dan mengenggam erat bahuku.

“Sudah kubilang, bukan? Jika kau tidak ingin mendekatinya, jauhi pria itu. Aku sudah bosan dengan semua alasan tangisanmu setiap hari karenanya.”

Aku menundukkan kepalaku dalam dan menyahutinya lirih, “Maaf… aku tidak bisa.”

Dapat kudengar jika kakakku itu menghela napasnya kasar. “Dan kau terus menyiksa dirimu dengan cara seperti ini?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak, oppa salah.”

“Maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

“Aku tidak sedang menyiksa diriku sendiri, justru aku sedang mencoba mendekatinya sekarang. Aku bosan menjadi secret admirer nya seperti ini.”

Perlahan aku mengangkat kepalaku mencoba memandangnya dan tersenyum, meskipun aku tahu jika air mata masih mengalir di pipiku.

“Kau yakin dengan ucapanmu? Kau tidak sedang bercanda ‘kan, sayang?”

Untuk yang kedua kalinya aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. “Tidak. Aku benar-benar sedang mendekatinya saat ini, oppa. Oppa percaya?”

Chanyeol tersenyum mendengarnya, pria itu membersihkan air mataku dengan ibu jarinya. “Okay, untuk kali ini oppa akan memberikan satu kesempatan lagi untukmu. Tapi jika suatu hari nanti oppa melihatmu menangis lagi karenanya, oppa tidak akan segan menyuruhmu berhenti menyukainya. Mengerti?”

Aku mengangguk dan tersenyum manis. “Aku mengerti, oppa.”

“Baiklah. Cepat ganti bajumu dan turun ke bawah, kuyakin eomma dan appa sudah menunggumu sejak tadi.”

***

Bisa kulihat Baekhyun sunbae sedang duduk sendiri dan tenggelam dengan buku bacaannya. Meskipun buku bacaan itu menutupi seluruh wajah pria itu, tetapi aku masih bisa mengenali postur tubuhnya. Aku memantapkan hatiku sebelum akhirnya mendekati bangku dimana ia sedang duduk saat ini.

“Jangan pedulikan dia dan anggap saja pria itu tidak ada. Kau pasti bisa, Mi-ya. Fighting!!”

Aku terus menggumamkan dua kalimat itu untuk menyemangati diriku sendiri dan harus aku akui, mungkin aku terlihat seperti orang gila saat ini. Tapi aku tidak peduli itu.

Aku mendudukkan diriku tepat dihadapannya dan mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Membuka buku dan membacanya adalah hal alternative agar dia tidak tahu jika aku sedang menguntitnya saat ini.

“Kau?!”

Sebuah suara memecahkan suasana keheningan yang terjadi. Aku tersenyum kecil tanpa sepengetahuan pria itu dan berteriak senang dalam hati karena usahaku sukses seperti yang kuprediksikan sebelumnya. Namun sedetik kemudian aku mengubah raut wajahku seolah terenyak dengan suara itu dan mengangkat kepalaku secara perlahan. Dan untuk taktik selanjutnya aku bersikap seolah aku juga terkejut karena sebuah kebetulan –yang sebenarnya kurencanakan sendiri– ini.

Eoh?! Sunbae?!”

Pria itu tersenyum yang jujur saja membuatku terpesona untuk yang kesekian kalinya. “Hai. Kita bertemu lagi. Oh ya.. sejak insiden kemarin, kita belum berkenalan secara resmi. Jeoneun Byun Baekhyun imnida.”

Baekhyun sunbae mengulurkan tangannya padaku dan dengan bodohnya aku hanya mengerjapkan mataku tak percaya. Benarkah Baekhyun sunbae sedang ingin mengajakku berkenalan saat ini?

Tak kunjung mendapat balasan dariku, Baekhyun menarik tangannya kembali dan berujar lirih. “Kurasa kau tidak ingin memperkenalkan dirimu sendiri ya, gadis kecil?”

Aku tersadar dari lamunanku dan memperbaiki sikapku didepannya. Aku tersenyum canggung dan mencoba menetralkan detak jantungku yang heboh ini. Aku menghela napasku pelan sebelum akhirnya membuka suara.

Jeoneun Park Chanmi imnida. Bangapseumnida.”

Entah kenapa Baekhyun tertawa melihat tingkahku saat memperkenalkan diri barusan. Apakah ada yang lucu? Namun belum sampai aku mendapat jawaban atas pertanyaan itu, aku merasa ada sebuah sentuhan yang membuat darahku berdesir seketika. Dia mengusap puncak kepalaku!

Okay, mungkin kau boleh menganggapku berlebihan atau apa, tapi sekali lagi aku tidak peduli jika kau berpikiran seperti itu. Jujur saja, aku tidak pernah menyangka jika aku akan mendapat perlakuan ini tiba-tiba.

Baekhyun sunbae tersenyum teduh seraya menatap mataku secara intens, “Kau lucu, gadis kecil. Dan entah kenapa aku merasa terbesit rasa nyaman ketika bersamamu. Kau mau berjanji sesuatu padaku?”

Aku membelalakkan mataku dan mencoba mencerna apa yang kudengar barusan. Tenggorokanku terasa tercekat untuk mengeluarkan suara. Dengan susah payah aku mencoba menguasai diriku kembali meskipun aku tahu itu hanyalah sia-sia.

“Ber-berjanji? Ka-kau ingin aku berjanji sesuatu padamu, sunbae? A-apa itu?”

Keheningan sempat terjadi diantara kami, aku maupun Baekhyun sunbae tidak ada yang ingin membuka suara setelah pertanyaan yang baru saja kulontarkan itu. Namun tiba-tiba aku mendapati pria itu kembali bersuara dan efeknya sangat ekstrim untuk kucerna.

“Kau mau berjanji padaku untuk selalu disampingku dimanapun dan kapanpun? Meskipun kita harus dihadapkan oleh masalah besar yang sewaktu-waktu bisa memisahkan kita? Kau mau berjanji padaku bukan, gadis kecil?”

***

Aku tersenyum menatap bayangan wajahku didepan cermin, sesekali menepuk kedua pipiku pelan. Senyuman yang terukir di wajahku tak pernah hilang dari tempatnya. Melihat tingkahku yang mungkin seperti orang gila, aku mendengar desahan kecil dari Minri yang sedang duduk diatas ranjangku. Ya, tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi aku segera menarik tangan Minri dan menculiknya untuk datang ke rumahku.

“Minri… aku hebat, bukan?”

“Ya kau hebat, Park Chanmi. Aku tidak menyangka jika respon Baekhyun sunbae akan secepat itu.”

Senyumanku semakin lebar saat mendengar komentar Minri barusan. Tapi senyum itu tak bertahan lama dan cepat tergantikan oleh raut yang terlihat sangat frustasi.

“Minri…” rengekku keras pada sahabatku itu yang hanya dibalasnya dengan memutar bola matanya malas.

“Ada apa Chanmiku sayang?”

Kentara sekali jika nada itu terdengar dibuat-buat, kurasa Minri sudah jengah dengan semua rengekkanku yang sama itu.

“Menurutmu aku harus menuruti permintaan Baekhyun sunbae, tidak? Aku takut jika menurutinya akan berdampak negatif padaku.”

“Maksudmu, Baekhyun sunbae hanya menjadikanmu sebagai pelarian saja?”

Aku mengangguk pelan. “Tepat sekali.”

Minri mengangkat sebelah alisnya ragu. “Kau yakin jika Baekhyun sunbae benar-benar mencintai Ahrim? Aku rasa Baekhyun sunbae malah merasa-…”

“Jangan sebut nama itu! Aku membencinya dan sangat membencinya!” seruku tidak terima.

Bukannya merasa ciut karena seruanku itu, gadis itu malah menganggukkan kepalanya pelan. “Okay, I know this. Aku tidak akan melanjutkannya.”

Aku menggigit jariku kesal dan berjalan menghampiri Minri. Kurebahkan asal tubuh kecilku disampingnya. Jujur saja, sebenarnya sampai detik ini aku tidak bisa percaya jika Baekhyun sunbae cepat merespon usahaku beberapa hari lalu. Bahkan aku sempat berpikir Baekhyun sunbae tidak akan mengingatku setelah insiden itu.

Pikiranku terus melayang pada kata-kata pria itu siang tadi. Aku yang mendengarnya sedikit tercengang sekaligus sangat bahagia dan berpikir jika usahaku tidak sia-sia. Hatiku bimbang antara menerima atau menolak permintaannya. Oh God… Can you help me now?!

***

Seperti biasa disaat jam istirahat seperti ini, aku dan Minri akan pergi ke kantin untuk menghabiskan waktu. Perjalanan kami menuju kantin dipenuhi dengan canda tawa, namun tawaku seketika lenyap saat melihat Baekhyun sunbae sedang berdiri didepan kelasnya. Kau pasti berpikir bahwa seharusnya aku bahagia bisa bertemu dengannya, namun bukan itu alasanku tiba-tiba bungkam seperti ini. Baekhyun sunbae tidak sendiri disana, melainkan bersama… kupikir kau bisa menebak sendiri siapa orang yang sedang bersamanya.

Sepertinya Minri juga menyadari perubahanku secara tiba-tiba, gadis itu sempat menyenggol lenganku seakan memberitahuku bahwa Baekhyun sunbae sedang bersama ‘sang kekasih tercinta’, aku menggangguk kecil sebagai balasannya. Dari sikap mereka saat ini kupikir keduanya sedang beragumen tentang sesuatu dan jika aku boleh jujur hal itu semakin membuat mereka tampak… serasi. Baiklah kau boleh mengatakan jika hatiku sedang hancur ketika melihatnya karena memang itulah kebenarannya. Dan bisa aku pastikan, malam ini aku akan kembali menangis karena pria itu.

Aku sempat melakukan kontak mata dengan pria itu dan sekilas pria itu juga menampilkan senyum simpulnya padaku. Tetapi aku segera mengalihkan pandanganku darinya. Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkannya saat ini, tapi yang terpenting hatiku kembali hancur seperti sebelumnya.

Minri menepuk punggungku pelan. “Kau tidak apa-apa? Sebaiknya kita-…”

Sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya, aku menarik tangannya kasar. “Ayo cepat, Minri-ya. Aku sangat lapar saat ini.”

***

Aku menepati janjiku padamu sekarang. Coba kau tebak, apa janji itu?

Menangis?

Ya, kau tepat sekali dan untuk yang kesekian kalinya aku kembali menangis karena pria itu. Aku menutup mulut dan hidungku agar tangisku tidak terdengar sampai ke kamar sebelah, karena jika sampai terjadi kakakku akan mengatakan kembali kata-kata yang kutakuti selama ini. Tangisku terus tumpah dan sialnya juga bayangan itu terus terngiang-ngiang di benakku meskipun aku terus mencoba untuk menghilangkannya. Namun harapanku sebelumnya harus pupus seketika tepat saat aku mendengar sebuah ketukan di pintu kamarku.

TOK… TOK… TOK…

“Mi-ya, kenapa kau mengunci kamarmu? Ada yang ingin oppa bicarakan padamu. Ini penting. Tolong cepat buka pintunya.”

Aku terkejut ketika mendengar suara berat itu. Dengan cepat, aku menyeka air mataku dan mengatur napasku agar tidak ketahuan olehnya. Aku memandang pantulan diriku di cermin untuk melihat bagaimana keadaanku saat ini. Setelah merapikan penampilanku yang sedikit berantakan, aku melangkahkan kakiku kearah pintu dengan ragu. Aku membuka pintu dengan perlahan dan memasang wajah seolah aku baru saja bangun tidur.

Aiish… kau mengganggu tidurku, oppa. Ada apa kau mengetuk kamarku?” gerutuku kecil pada Chanyeol oppa, namun tatapanku tidak berani kuarahkan padanya karena aku takut jika ia melihatku dalam keadaan seperti ini. Chanyeol oppa tidak membalas pertanyaanku, melainkan berujar dingin yang sempat membuatku tersentak.

“Chanmi… kau menangis lagi? Dengan sebab yang sama?”

Aku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaannya dan menundukkan kepalaku semakin dalam. Dapat kudengar Chanyeol oppa sedang menghembuskan napasnya kasar.

“Boleh oppa masuk kedalam?” tanyanya lembut dan mau tak mau aku mengangguk menyetujuinya.

Pria itu melangkahkan kakinya memasuki kamarku, sedangkan aku mengekorinya dari belakang. Kulihat kakakku sudah mendudukkan dirinya diatas ranjangku dan akupun melakukan hal yang sama.

“Sekarang apa lagi yang membuatmu menangis? Padahal baru beberapa hari ini aku melihatmu tersenyum dan kupikir masalahnya selesai, tapi ternyata aku salah besar.”

Diam, itulah reaksiku saat ini. Entah kenapa kali ini aku enggan untuk bercerita padanya.

“Chanmi… kau dengar oppa, bukan? Jawab pertanyaan oppa, jangan diam saja seperti ini.”

Reaksiku masih sama dan hal itu yang membuat Chanyeol oppa menjadi geram karena sikapku yang keras kepala itu. Pria itu memegang kedua bahuku dengan erat dan mengangkat kepalaku pelan.

“Chanmi… kau mau mendengarkan ucapan oppamu ini, kan?”

Aku mengangguk ragu. “Lupakan Baekhyun. Dia sudah ada yang memiliki, Mi-ya.”

Kuhempaskan kedua tangannya di kedua bahuku dengan kasar. Tatapanku padanya kini sekarang berubah menjadi kecewa. Aku benci jika ada yang mengingatkan hal itu padaku, seolah aku sudah melupakan satu hal terpenting. Semua orang menyuruhku untuk melupakannya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya, itu adalah kelemahan utamaku.

“Aku mengerti dia sudah ada yang memiliki. Tapi hatiku merasa jika pasangan itu hanyalah paksaan semata. Aku bisa merasakan semuanya, oppa. Oppa percaya padaku, kan?”

Chanyeol oppa menggeleng keras. “Tidak. Kau tidak mengerti. Kau mengatakan jika itu hanyalah paksaan semata, tetapi kau salah. Kau salah besar, Chanmi.”

Air mataku kini kembali turun dengan derasnya. Aku menatap pria dihadapanku ini dengan tatapan menuntut. “Lalu jika aku tidak mengerti, cepat katakan dimana letak aku tidak mengertinya?!”

Chanyeol oppa tiba-tiba bungkam karena pertanyaanku barusan. Tidak itu bukan suatu pertanyaan, lebih tepatnya adalah suatu pernyataan. Aku terus menatapnya dengan tatapan memohon.

Oppa… jawab pertanyaanku. Kumohon…”

Pria itu masih saja bungkam, bahkan kupikir untuk sekedar membuka mulutnya saja ia tidak mau.

Oppa…”

Mendengar rengekkanku, Chanyeol oppa hanya bisa menghela napasnya berat. Ia menatapku tak tega.

“Pria itu… Byun Baekhyun… Baekhyun sudah-…”

Ucapan Chanyeol oppa terinterupsi suara yang kukenali sebagai nada dering ponselku. Aku melirik sekilas id call yang tertulis jelas disana. Aku tahu siapa itu dan tanganku terulur untuk menerima panggilan itu. Namun niatku belum sampai terealisasikan karena Chanyeol oppa sudah lebih dulu mengangkat panggilan itu.

Dari raut wajah pria itu, bisa kupastikan jika ia terkejut dengan mendapati id call nya. Chanyeol oppa menatapku dengan pandangan seolah mengatakan ‘tetap disana dan jangan bersuara sedikitpun’, namun aku hanya membalas tatapannya dengan tatapan memohon. Seolah tidak peduli dengan arti tatapanku, pria itu menempelkan ponselku di telinganya. Raut wajahnya saat ini hanya menyorotkan raut kemarahan dan tidak ada sedikitpun tatapan lembut didalamnya. Aku menatapnya dengan tatapan was-was ketika pria itu memulai pembicaraannya.

Yeoboseyo?!

–To Be Continue–

—–

Teaser For Next Chapt :

“Sejauh mana kau sudah mengenal Baekhyun?”

“Kupikir Ahrim tidak pantas untuk bersanding dengan Baekhyun sunbae.”

“Lalu kau pikir, kau sendiri pantas untuk bersanding dengan pria itu? Kau tidak bisa egois seperti ini, Park Chanmi!”

“Hai…”

“Oppa…”

“Lanjutkan kegiatan kalian berdua. Aku pergi dulu. Annyeong…”

Eum… Sepertinya aku harus pulang sekarang juga, aku baru ingat jika ayahku menyuruhku untuk pulang cepat hari ini.”

“Lalu bagaimana denganku?”

“Bisakah kita pulang sekarang?”

“Tidak apa-apa ‘kan aku menggenggam tanganmu seperti ini?”

“Kau pulang bersamaku hari ini. Masuk ke mobil sekarang.”

“Ta-tapi…”

“TIDAK ADA PENOLAKKAN, PARK CHANMI! MASUK KE DALAM MOBIL SEKARANG!”

“Mi-ya… maafkan aku. Sungguh maafkan aku…”

“Kau yakin? Atau kau mau menunggu sampai aku menarik kata-kataku kembali, nona muda Park Chanmi?”

“Ya. Aku yakin dan sangat yakin, tuan muda Park Chanyeol.”

“Bagaimana suasana di perjalanan pulangmu? Menyenangkan?”

“Ponselmu dimana?”

“Di kelas. Memang ada apa?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Hai... aku bawa chapter 1 dari cerita aneh ini... kkk~
Kali ini, aku bawa chapt 1 dari cerita ini, somoga kalian suka ya~ 🙂
Udah segini dulu aja deh, lagi bingung mau ngomong apa lagi, pokoknya terimakasih banyak buat yang udah
komen di teaser sebelumnya dan mau nunggu chapt abal-abal ini keluar 🙂 
Ditunggu kritik dan sarannya dibawah... 🙂

Thank you and See ya ~

Regards,

--BaekMinJi93--
Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s