[Oneshoot] She Is A Flirt

saf

Tittle                : She’s A Flirt

Author             : BaekMinJi93

Genre              : Angst – Romance

Lenght             : Oneshoot

Ratting             : PG 15

Main Cast        : – Xi Lu Han (EXO), – Choi Min Ri (OC)

Support Cast    : – Kim Jong In (EXO)

Disclaimer        : Inspired by Baby Soul ft. Yoo Jia – She’s A Flirt. Happy reading and Don’t Plagiarism, guys ~

Credit Poster    : Das Licht

Summary         :

Meskipun kau mencoba mendorongku ke dalam lubang kekecewaan yang kau gali untukku

Sesulit apapun aku mencoba keluar dari sana, aku tidak bisa membencimu…

Karena aku rasa cintaku lebih dari apapun yang mencoba menghalanginya…

Seorang pemuda berkulit tan, sedang berlari cepat menuju kelasnya. Sesampainya didepan kelas, pemuda itu mengarahkan pandangan menyusuri setiap sudut ruangan itu dan tatapannya terhenti ketika mendapati seorang gadis dengan raut datar dan headphone yang bersarang diatas kepalanya. Pemuda itu menghembuskan napasnya kasar.

Tatapan itu lagi…

Jujur saja, pemuda itu sangat membenci tatapan yang dimiliki sahabat satu-satunya itu sekarang. Seolah ia sudah lama tidak mendapati gadis itu tersenyum manis seperti dulu, tertawa dan bercanda dengan lelucon riang bersamanya. Sungguh, pemuda itu sangat merindukan sosok periang itu kembali. Dengan langkah perlahan, pemuda itu mencoba mendekatinya untuk sekedar menemaninya seperti biasa.

“Minri-ya…” panggilnya pelan.

Gadis itu tidak merespon panggilannya. Tatapannyapun tidak berubah, kedepan dan datar. Pemuda itu masih melangkah kakinya untuk mendekatinya dan berniat mendudukkan dirinya disamping gadis itu. Namun niat itu sirna ketika sebuah suara datar menginterupsinya.

“Jangan terlalu dekat denganku. Luhan bisa marah jika melihatku bersamamu.”

Pemuda itu kembali pada posisi awalnya, berdiri disamping bangku gadis itu. Dia kembali menghela napasnya kasar, mendapati sahabat kecilnya sangat terpuruk seperti ini.

Jika kau tidak bisa keluar dari lubang terdalam ini, aku akan senantiasa membantumu keluar, Minri… Aku janji akan hal itu…

“Minri, berhenti bersikap bodoh seperti ini.”

“Aku tidak bersikap bodoh, Jongin. Aku hanya ingin menuruti permintaan Luhan untuk-…”

“Dia melarangmu untuk tidak terlalu dekat dengan seorang pria, sedangkan pria itu seenaknya dekat bahkan berciuman dengan gadis lain selain dirimu? Oh My… sebenarnya ada apa dengan dirimu?”

Sempurna. Gadis itu kini melepas headphone nya dan berhasil mengalihkan pandangannya pada pemuda itu. Sepertinya usaha untuk memancing gadis itu agar menatapnya tidak sia-sia. Dapat dilihat jika mata gadis itu berkaca-kaca dan mencoba untuk menahan tangis yang hampir tumpah begitu saja.

“Kau sudah melihatnya, Jongin?” ucap gadis itu lirih.

Tak peduli dengan apa yang diperintahkan gadis itu sebelumnya, pemuda dengan nama lengkap Kim Jongin ini merengkuh tubuh kecil gadis itu kedalam pelukannya.

“Ya, kau benar. Aku melihat mereka kembali berulah di ruang loker. Minri, kumohon tinggalkan pria itu dan kembalilah seperti dulu.”

Gadis yang dipanggil pemuda itu dengan nama Minri menggeleng kuat, “Aku tidak bisa, Jongin. Aku sudah terlanjur mencintainya.”

Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ya, pemuda berkulit tan itu frustasi jika sudah berhadapan dengan sifat keras kepala yang dimiliki oleh sahabatnya itu.

“Lalu jika kau sudah terjerat dengan kata ‘aku sudah terlanjur mencintainya’, kau akan mengorbankan kebahagianmu sendiri? Benar seperti itu?!”

Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut gadis itu, melainkan hanya anggukan pelan yang menggantikannya. Isyarat itu membuat Jongin mengumpat kesal. Pemuda itu melepas pelukannya cepat dan mengguncang kedua bahu gadis itu. “Bodoh! Kau bodoh, Choi Minri! Kau sudah dibodohi oleh pria brengsek itu!”

Kristal bening itu tumpah seiring umpatan itu keluar. Minri sudah menangis dengan sempurna kali ini. “Maafkan aku, Jongin. Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bisa melepaskan pria itu. Aku rela melihatnya berciuman dengan gadis lain selain diriku, asalkan pria itu tetap berdiri disampingku. Kau boleh mengataiku bodoh atau umpatan lainnya, tapi aku tidak bisa meninggalkannya, Jongin. Kumohon mengertilah posisiku.”

Jongin kembali merengkuh tubuh kecil itu. Dalam hati kecil pemuda itu, sebenarnya ia sangat menyayangkan air mata yang sangat berharga yang dimiliki oleh gadis yang ada di pelukannya saat ini. Jujur saja, sebenarnya ia ikut merasakan sakit sama seperti gadis itu. Ia sakit karena ia tidak bisa melihat gadis itu tertawa seperti dulu. Ia sangat merindukan tawa manis dari gadis itu.

Uljimma…

***

Seorang gadis dengan langkah pelan menuju halte bus dekat gedung sekolahnya. Langkahnya begitu gontai seperti seekor singa yang belum makan berbulan-bulan, sesekali punggung tangannya mengusap wajahnya kasar untuk menghapus air mata yang memenuhi wajah manisnya. Kegiatannya terus ia lanjutkan tak peduli dengan tatapan yang diberikan orang-orang yang ada di halte tersebut dan gadis itu baru menghentikannya ketika sebuah suara yang memanggil namanya.

YAAKK!! CHOI MINRI!!”

Gadis itu kembali menyeka air matanya kasar dan memperbaiki penampilannya sebelum ia benar-benar menoleh kearah sumber suara.

Eoh… Luhan oppa?”

Gadis itu mancoba tersenyum, meskipun mata yang sembab itu tidak bisa berbohong pada siapapun jika hati gadis itu sedang dilanda kesedihan yang teramat sangat. Pemuda yang dipanggilnya dengan nama Luhan itu tidak menjawab sapaan yang diberikan gadis itu, melainkan hanya menarik lengan gadis itu kasar dan memasukkannya ke dalam mobil mewahnya untuk dibawa pergi bersamanya.

Oppa, kau ingin membawaku kemana? Minho oppa akan datang untuk menjemputku. Jika dia tidak menemukanku di halte tadi, dia akan-…”

“Apa kau menghabiskan waktu istirahat tadi bersama Kim Jongin?”

Entah kenapa ketika mendengar ucapan datar itu, tubuh Minri menjadi menegang seketika. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam dan rasa takut kini mulai menderanya. “Maafkan aku,” ucapnya lirih.

Tiba-tiba Luhan menghentikan laju mobilnya secara mendadak, membuat wajah Minri hampir bercumbu dengan dasbor mobil itu. Wajah pemuda itu, oh bukan… lebih tepatnya adalah mata pemuda itu menatap gadis disampingnya dengan tatapan tajam dan mengerikan.

“Berapa kali aku harus memperingatimu agar tidak lagi berdekatan dengan pria bernama Kim Jongin itu. Aku membencinya, Choi Minri!”

Air mata yang sedari tadi ditahan oleh gadis itu di pelupuk mata, kini mulai berjatuhan dengan cukup deras.

“Maafkan aku. Sungguh maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya kembali, oppa…” hanya itu yang bisa keluar dari bibir mungil milik gadis itu.

Luhan menghela napasnya kasar, ia tidak mau hilang kendali seperti hari-hari sebelumnya. Ia mungkin harus meredam amarahnya dengan cara lain kali ini.

“Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi jika aku melihatmu sekali saja berdekatan dengan pria itu, aku akan menghukummu, Choi Minri.”

Masih dengan suara yang datar, Luhan membuka suaranya. Mendengar ucapan terakhir pemuda itu, membuat gadis bernama Choi Minri ini mengumpat kesal dalam hatinya.

Kau egois, Xi Luhan! Kau melarangku berdekatan dengan Jongin, padahal kau tahu sendiri jika aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Lalu bagaimana denganmu? Kau berciuman secara santai didepanku dengan Han Nara tanpa memikirkan hancurnya perasaanku. Kau brengsek, Luhan! Kau brengsek!

Huh! Tentu saja gadis itu hanya berani mengumpat dalam hati kecilnya, ia tidak mungkin berani mengungkapkan apa yang dipikirkannya saat ini. Satu kalimat yang membuatnya berani bertahan sampai selama ini, Gadis itu terlalu takut kehilangan akan sosok pemuda bernama Xi Luhan.

“Kenapa kau selalu melarangku untuk dekat dengan Jongin? Bukankah kau tahu sendiri jika hubunganku bersamanya hanya sebatas teman?”

Dua pertanyaan itu meluncur dengan sempurna dari bibir mungil Minri. Gadis itu kembali terenyak dengan pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. Seharusnya ia lebih bisa menahan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri, bukannya malah mencari perkara seperti ini.

Lama tak kunjung mendapat jawaban, membuat gadis itu segera mengambil kesempatan yang ada untuk meralat dua pertanyaan berefek berat itu. “Ah… lupakan. Lupakan ucapanku barusan, oppa. Aku hanya sedikit ngantuk sehingga-…”

“Karena aku mencintaimu,” tukas Luhan cepat, yang membuat tubuh Minri membeku seketika mendengarnya. “Aku tidak ingin kehilanganmu, Minri.”

Minri tidak membuka suaranya lagi. Ia sangat kecewa dengan jawaban yang diterimanya. Bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan saat ini dan bukannya ia tidak suka dengan jawaban yang dilontarkan oleh Luhan barusan padanya, hanya saja jawaban itu kembali membuatnya terpuruk dalam lubang kekecewaan yang telah digali oleh pemuda itu untuknya. Tanpa sadar, sebulir air mata kembali jatuh mengaliri pipinya.

Lagi-lagi kau berbohong padaku, Xi Luhan. Kebohongan yang sangat sempurna.

***

Keesokan harinya, Minri dan Luhan berjalan di koridor kampus dengan langkah riang dan canda tawa yang menghiasi keduanya, seolah lupa dengan apa yang terjadi pada mereka di hari sebelumnya. Senyum bahagia itu terus terukir di wajah mereka.

“Aku mencintaimu,” ucap Luhan menginterupsi pembicaraan mereka sebelumnya dan tentu saja membuat Minri tersenyum mendengar kata yang sudah lama ingin kembali ia dengar selama ini.

“Aku juga,” sahut Minri dengan nada tersipu.

Tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya dan menarik lengan Minri dan menyudutkan tubuh kecil gadis itu di salah satu loker yang tertata rapi di salah satu ruangan gedung itu. Kini wajah keduanyapun hanya berjarak beberapa centi, bahkan gadis itu bisa merasakan napas lembut pemuda dihadapannya ini. Dengan pergerakan yang amat perlahan, Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Pemuda berdarah China itu mulai memejamkan matanya, begitupun dengan gadis manis itu. Luhan mulai memiringkan wajahnya sedikit setelah dirasa jika wajahnya dan wajah milik gadisnya telah dekat. Tak perlu waktu yang lama, akhirnya bibir keduanyapun bertemu.

Pada awalnya kedua bibir itu hanya saling menempel, tapi lambat laun sang pemuda mulai bergerak melumat bibir bawah gadis itu. Lama bibir mereka saling bertautan dan seakan sadar bahwa saat ini mereka sedang ada didepan umum, Minri membuka matanya terkejut dan mendorong kecil tubuh pemuda dihadapannya untuk sedikit menjauh. Luhan menatap gadis itu dengan tatapan sedikit kecewa.

“Ini didepan publik, oppa. Maafkan aku,” cicit gadis itu lirih.

Luhan tersenyum kecil mendengar cicitan gadis itu dan tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala gadis itu pelan. “Okay. Kita lanjutkan nanti. Baiklah aku pergi ke kelas dulu, ya. Saat pulang nanti, tunggu aku di depan kelasmu seperti biasanya. Sampai jumpa.”

Minri membalas senyumannya dengan hangat. Gadis itu terus berdiri ditempatnya dengan senyum mengembang diwajahnya sampai sosok kekasihnya itu hilang dari pandangannya.

Tanpa gadis itu sadari, ada sepasang mata yang sedang mengawasinya sejak gadis itu bersama kekasihnya menginjakkan kakinya di gedung ini. Raut wajahnya begitu datar –namun masih dapat menyiratkan kesedihan disana–. Ia sempat bergumam sejenak untuk merutuki gadis itu sebelum akhirnya ia lebih memilih beranjak dari tempatnya berdiri.

“Dasar bodoh.”

***

Sebuah koridor akan terasa sepi jika saja tidak ada sebuah monolog –oh tidak, lebih tepatnya adalah sebuah gerutuan– seorang gadis disana. Ya, tidak ada seorangpun disana kecuali dirinya sendiri.

Argh… seharusnya aku bisa memberi alasan yang lebih masuk akal pada Kwan saem. Aiish… ini sangat berat.”

Meskipun terus menggerutu seperti itu, ia tetap menjalankan amanat yang diberikan padanya. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk merebahkan tubuh di kasur empuknya, malah terbuang percuma dengan memindah beberapa alat untuk praktek tentang kesehatan tubuh.

“Sial!” rutuknya tak henti.

Beberapa menit telah berlalu, tanpa terasa gadis itu sudah menyelesaikan amanat itu dengan… sempurna –oh tidak! tepatnya masih ada barang-barang yang diletakkannya secara asal dan tidak berada di tempat sebenarnya–. Gadis dengan panggilan akrab Minri itu meregangkan tubuhnya sejenak. Ia tidak peduli jika keesokan harinya dirinya akan dimarahi oleh gurunya karena meletakkan barang itu sesuka hatinya, lagipula salah guru itu sendiri yang menyuruh Minri untuk membereskan barang-barang itu seorang diri tanpa teman yang menemaninya.

Dengan hati yang sedikit lebih lega daripada sebelumnya, gadis itu melangkah keluar dari gudang dan berniat untuk mengunci pintu. Namun belum sempat niat itu tersampaikan, sebuah suara seperti barang yang sedang dihempaskan secara kasar pada dinding. Rasa penasaran pun muncul di jiwa seorang Choi Minri, gadis itu berjalan pelan menuju sumber suara itu berasal.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, kecewa ketika harus melihat kejadian yang dibencinya kembali terulang. Gadis itu kembali melihat jika kekasihnya kembali berciuman mesra di koridor sepi itu. Hatinya terasa sesak ketika melihatnya. Kedua insan itu adalah… ah sepertinya kau sudah tahu tanpa aku harus mengatakannya kembali. Tak ingin merasa lebih sesak lagi, akhirnya ia lebih memilih untuk segera beranjak dari tempatnya sekarang.

***

Minri kembali termenung dengan ditemani segelas latte di sebuah cafe terdekat dari kampusnya. Pandangannya terasa kosong seolah gadis itu adalah patung bernapas. Dan ini sudah puluhan kalinya ia menghela napas berat untuk menghilangkan emosinya. Marah, kalut, cemburu, dan rasa tidak percaya pun menjadi satu.

Gadis itu terus terdiam sampai akhirnya getaran ponselnya memecahkan keheningan yang menyelimuti dirinya. Tangannya terulur untuk mengambil benda persegi panjang yang terletak tak jauh dari tempatnya dimana ia duduk saat ini. Sebuah pesan masuk barusaja menghampiri nomor ponselnya.

From : Luhan ^ My Deer ^

Kau ada dimana sekarang? Kenapa kau tidak ada dikelas seperti apa yang kukatakan tadi? Cepat balas pesanku sekarang juga. Aku mengkhawatirkanmu, chagi

Memutar bola matanya malas adalah reaksi pertama yang diberikan gadis itu saat melihat pesan itu masuk, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membalas pesan singkat itu.

To : Luhan ^ My Deer ^

Di suatu tempat dan oppa tidak perlu mengetahuinya.

Datar, singkat, dan dingin, itulah kesan yang menyelimuti balasan pesan yang diberikannya untuk pemuda itu. Lagi-lagi gadis itu terlalu bodoh dan mudah untuk terlena dengan ucapan manis sang kekasih pagi tadi. Setelah sekian lama menahannya, akhirnya gadis itu memilih untuk menyerah. MENYERAH, satu kata yang ditahannya sejak lama dan mencoba untuk dibuangnya jauh-jauh. Oh satu hal lagi yang hampir saja terlupakan, tidak ada air mata lagi yang menghiasi wajahnya –seperti sebelumnya– dan sepertinya gadis itu terlalu lelah –atau sudah bosan?– untuk menangisi hal dengan sebab yang sama.

Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar menandakan jika sebuah pesan kembali memasuki nomor ponselnya dan Minri sudah bisa menebak siapa pelakunya.

From : Luhan ^ My Deer ^

Aku sedang tidak ingin bermain-main, chagi. Aku sungguh mengkhwatirkanmu saat ini. Cepat katakan dimana kau sekarang!

“Bohong,” umpatnya singkat namun hanya itulah satu-satunya yang mewakili perasaannya saat ini. Dengan asal, ia membuang ponselnya entah kemana dan memilih untuk tidak membalas pesan itu lagi.

Kau bohong Xi Luhan! Sedang asyik berciuman dengan gadis perusuh itu dan kau mengatakan jika kau masih mengkhawatirkanku. Cih, kau tidak bisa lagi menipuku kali ini, Xi Luhan! Aku membencimu!

Tanpa Minri sadari, telapak tangannya mengepal sangat kuat sehingga menampakkan buku-buku jarinya yang mulai memutih. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang mendera tangannya kali ini, bahkan hatinya terasa lebih sakit daripada itu.

Tiba-tiba ia merasakan sentuhan halus di telapak tangannya yang mencoba melepaskan kepalan tangan itu. Gadis itu mengangkat kepalanya dan membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Eoh… Jongin?! Kau disini juga?” ujarnya seraya tersenyum paksa.

Urgh… pertanyaan itu terlalu basa-basi jika diajukan oleh seseorang yang ada dihadapannya saat ini. Bukannya menjawab, seseorang yang dipanggil dengan nama Jongin tadi malah melontarkan pertanyaan baru pada gadis itu.

“Kau tidak menangis?”

“Kau bertanya padaku?” tanyanya kembali seraya mengarahkan jari telunjuknya kewajah manisnya.

Jongin mengangkat bahunya acuh. “Tentu saja.”

Gadis itu tertawa hambar mendengar jawaban singkat itu, “Aku sudah lelah untuk menangisi hal yang sama. Dan aku akan terlampaui bodoh jika aku kembali menangisi hal itu.”

Gadis itu kembali membuang pandangannya kearah luar cafe. Namun tanpa disangka sebelumnya, Jongin kini beranjak dari duduknya sekarang dan merengkuh tubuh kecilnya dari belakang. Gadis itu mematung dengan perlakuan yang diberikan pemuda itu secara tiba-tiba, namun hati kecilnya menyuruh agar tidak menolak pelukan itu. Pemuda itu meletakkan dagunya di bahu gadis itu, ia tidak peduli saat ini semua pengunjung di cafe itu menatapnya tabu. “Menangislah jika kau ingin menangis. Aku janji, aku tidak akan melihatnya.”

Gadis itu menanggapinya dengan gelengan pelan. Namun pemuda itu terus memeluknya lebih erat seolah juga ingin merasakan sakit yang mendera gadis itu. “Kenapa?” tanya pemuda itu heran.

“Sudah kubilang, bukan. Aku lelah. Aku lelah terus menangisi hal yang sama sekali tidak ada gunanya.”

“Minri, aku tahu dirimu. Kau tidak bisa menahan ini sendiri.”

Namun bukannya melakukan apa yang disuruh pemuda itu padanya, gadis itu malah tertawa geli. “Tidak bolehkah aku mencoba untuk dingin seperti adikku? Aku bangga dengan adikku yang bisa bersikap dingin seperti itu pada orang yang dibencinya dan aku juga ingin seperti itu.”

“Kau bukan Minji, Minri. Kau berbeda. Sikapmu terlalu sensitif daripada-…”

“Tidak, kau salah. Minji juga sensitif dengan perasaannya, namun ia bisa mengendalikan emosinya dengan bersikap seperti itu.”

“Terserah apa yang kau katakan. Yang terpenting sifatmu dengan Minji sangat berbeda, Minri-…”

“Tapi kami saudara kembar,” potongnya cepat. “Setahuku saudara kembar akan memiliki sifat yang sama dan aku juga menginginkan sifat dingin itu tertular padaku. Bagaimana jika aku meminta Minji untuk-…”

Perkataan Minri terhenti seketika saat ia mengalihkan pandangannya pada Jongin. Jarak antara wajahnya dengan pemuda itu sangat dekat, sehingga ia merasakan jika lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan perkataannya. Begitujuga dengan Jongin, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama dengan Minri.

Tiba-tiba Jongin melepaskan pelukannya secara perlahan dan sedikit berdeham, “Maaf. Tidak seharusnya aku memelukmu seperti tadi,” dan Minri hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.

Suasana canggung pun menyelimuti keduanya. Minri kembali mengalihkan pandangannya kearah luar cafe, sedangkan Jongin kembali duduk di tempatnya semula. Pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba ia teringat sebuah hal yang ia dapatkan dan ia harus mengatakannya segera pada gadis di hadapannya saat ini.

“Minri,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

“Apa itu?”

Jongin mengisyaratkan Minri untuk mendekat kearahnya dan dengan segera gadis itu menurutinya tanpa protes sedikitpun. Jongin menyerahkan ponselnya kearah gadis manis itu. “Lihat ini.”

Minri membulatkan matanya tepat disaat ia melihat sebuah foto yang menampilkan seorang gadis dengan sebutan perusuh itu berciuman dengan seorang pemuda –yang ia yakini dari postur tubuhnya bukanlah Luhan–. “Bu-bukankah ini…” tanyanya gugup sekaligus tidak percaya.

“Han Nara,” lanjut Jongin membenarkan. “Kau bisa menyimpulkan apa maksudku, bukan?”

Minri mengangguk pelan sekaligus ragu dan Jongin tersenyum hangat melihat reaksi gadis itu. Tiba-tiba senyuman itu berubah menjadi sebuah senyum seringaian khas seorang Kim Jongin. “Minri, apakah di otakmu sedang mencetak sesuatu?”

“Maksudmu?” tanya gadis itu tidak mengerti.

“Maksudku, apakah otakmu kini sangat terang karena ada sebuah lampu bohlam yang menyinarinya? Ah… lebih tepatnya, apakah otakmu mencetak sebuah ide yang cemerlang?”

Gadis itu terdiam mencoba mencerna apa yang barusan ia dengar, namun tak butuh waktu lama gadis itu untuk tersenyum penuh arti.

Akhirnya ia mengerti apa maksudku. Aku akan membantumu dengan sekuat tenagaku karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Choi Minri.

***

Sebuah mobil mewah mulai memasuki area gedung Paran University. Setelah mobil mewah itu terparkir dengan sempurna, seorang pemuda dengan wajah yang bisa dikatakan sempurna keluar dari mobil tersebut. Pekikan tertahan dari beberapa siswi mengiringi jalannya di area koridor gedung tersebut. Tatapannya lurus ke depan dan mencoba untuk tidak menghiraukan berbagai pekikan-pekikan yang ditujukan padanya.

Namun tatapan maupun langkah pemuda itu harus berhenti tepat dimana ia melihat kedua insan yang sangat dikenalnya dengan baik berada di sudut koridor itu. Tiba-tiba sebuah rasa amarah mulai mendominasi pada jiwa pemuda itu. Dengan langkah cepat, pemuda itu menghampiri kedua insan yang menarik perhatiannya tadi.

“Jongin… kau terlihat tampan memakai kemeja ini. Aku menyukainya.”

Amarah pemuda yang disapa akrab dengan nama Luhan ini semakin menggebu saat melihat kedua sejoli ini terlihat sangat mesra. Seolah ingin menggoda pemuda itu, kedua tangan gadis itu mengarah pada kancing-kancing kemeja milik pemuda dihadapannya saat ini dan memainkannya secara perlahan. Sedangkan sang pemuda yang dipanggilnya Jongin tadi, hanya tersenyum melihat gadis dihadapannya ini sedang bermanja padanya.

Luhan kini sudah berdiri tepat dihadapan kedua insan itu berdiri. Dengan sedikit kasar, pemuda itu menarik tangan gadis itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN BERSAMANYA, CHOI MINRI?!” amuk Luhan saat itu juga.

Gadis dengan nama lengkap Choi Minri ini menutup matanya erat ketika amukkan itu keluar. Bukannya raut wajah takut yang ditampilkannya pada Luhan, melainkan lebih tepatnya tatapan menantang yang diberikan gadis itu padanya.

“Kenapa kau marah seperti itu? Apakah aku membuat kesalahan padamu?” tanya balik gadis itu dengan nada tenang.

“Tentu saja. Bukankah sudah kuberi tahu, kau tidak boleh dekat dengannya lagi, Minri. Apa kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan? Aku harus memakai bahasa apalagi agar kau mau menuruti permintaanku?” jawab Luhan dengan nada yang terdengar sangat putus asa.

Tawa remeh keluar dari bibir gadis manis itu, “Menurutimu? Aku bukan pembantumu, Xi Luhan.”

Luhan menatap wajah manis gadis yang kini tangannya sedang digenggam erat olehnya dengan tatapan tidak percaya. Dan dengan sekali hentakan gadis itu melepas genggaman tangan Luhan padanya.

“Sudahlah. Kau membuang waktu manisku dengan Jongin. Tidak berguna,” umpat Minri sebelum akhirnya menarik lengan Jongin dan bergelayut manja dengannya. “Ayo Jongin, kita pergi dari sini.”

Dengan tubuh yang masih sedikit membeku, Luhan tidak bisa lagi menahan gadis itu agar tidak bisa pergi bersama dengan pemuda lain selain dirinya. Oh ayolah, siapa yang tidak hancur hatinya jika melihat seorang gadis yang kita cintai bergelayut manja dengan pemuda lain selain dirimu?

Apakah kau berniat ingin membalas dendam padaku, Choi Minri? Apakah kau sudah mengetahui semuanya dari awal?

AARRGHH…” pekik Luhan frustasi, yang membuat semua siswa disana menatapnya dengan ngeri. Namun ia tidak peduli dengan semua itu, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Choi Minri dan Choi Minri, kekasihnya yang berani melakukan hal kejam didepan mata kepalanya sendiri.

***

Untuk pertama kalinya seorang Xi Luhan membolos di kelas paginya. Ya, sepertinya ia harus mencetak rekor untuk hal itu. Pikiran pemuda itu kini sedang sangat kalut dan ia lebih memilih menenangkan diri di area rooftop gedung kampusnya. Di benaknya terus melayang sebuah kejadian yang menimpanya pagi tadi, dimana seorang Choi Minri mempermalukannya di depan umum seperti itu.

“Sial!” umpat Luhan untuk yang kesekian kalinya.

Tiba-tiba ia merasa ada suatu hal yang bergetar di dalam saku celananya, itu adalah ponselnya. Dengan malas tangannya terulur untuk mengambil benda berwarna putih itu. Dan enggan itu semakin menjadi ketika ia melihat id caller yang tertera di layar ponselnya.

^ My Cutie ^ Minri calling~

Dengan asal Luhan memilih untuk menerima panggilan itu. “Ada apa lagi? Bukankah kau sendiri yang secara langsung ingin mencampakkanku? Lalu apakah sekarang kau ingin meminta-…”

“Eits… kau terlalu percaya diri sekali, Luhan sayang. Aku meneleponmu tidak untuk menyatakan minta maaf seperti biasanya, karena jujur saja aku lelah mengatakan hal yang sama setiap harinya.”

“Lalu kau ingin apa?”

“Urgh… Seharusnya kau tidak perlu lesu seperti itu mengingat aku baru saja melakukan hal yang tidak pernah kau duga sebelumnya pagi tadi. Bukankah kau senang aku mencampakkanmu seperti itu? Dengan keadaan seperti ini, kau bisa lebih leluasa menyalurkan rasa sayangmu pada Nara, bukan?” ujar Minri dengan nada remeh.

“Kau tahu semuanya?” tanya Luhan tidak percaya.

Minri terdengar mendengus kecil sebelum akhirnya menjawab pertanyaan bodoh itu, “Tentu saja. Itu bukan rahasia umum lagi, Luhan sayang.”

“Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan itu. Sudahlah, cepat katakan ada apa kau meneleponku sekarang?”

Minri tertawa puas mendengar geraman Luhan padanya, “Ahh… sepertinya kau terlalu emosi dalam menanggapi perkataanku. Aku hanya ingin mengatakan jika kau harus melihat artikel terbaru di website kampus ini, karena kujamin kau sepertinya akan menyukainya. Sangat menyukainya. Baiklah hanya itu yang ingin aku ucapkan padamu. Selamat bersenang-senang, My deer~”

Tut… Tut…

“Cih… kau pikir aku mudah percaya dengan ucapanmu? Tidak, Choi Minri!” ujar Luhan kesal. Namun sepertinya ia harus menarik kata-katanya kembali karena saat ini juga, pemuda itu sedang membuka website yang diberikan –mantan– kekasihnya barusan.

Mata sipitnya membulat ketika melihat artikel teratas di website sekolahnya yang berjudul; Siswa seperti Inikah yang Perlu Kita Tiru?

Tidak, tentu saja bukan hal itu yang membuatnya membuka matanya menjadi lebih lebar seperti itu, tetapi adalah sebuah foto yang menampilkan seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang berciuman dengan pemuda lain –sama persis seperti apa yang dilihat oleh Minri sebelumnya–.

Telapak tangan Luhan terkepal kuat melihatnya, ia kembali dirundungi oleh rasa amarah yang amat sangat di jiwanya. Dengan cepat ia mencari nomor gadis di dalam foto itu dan segera memanggilnya setelah menemukan kontaknya.

YAKK! APA KAU BERMAIN DI BELAKANGKU, EOH?!” sembur Luhan setelah telepon itu tersambung.

“Tu-tunggu, apa yang sedang kau bicarakan, oppa? Aku tidak mengerti.”

“Kau masih mau berkilah setelah apa yang dijelaskan dalam artikel terbaru di website? KAU MEMPERMAINKANKU, HAN NARA!!”

“Haha… kau sudah membacanya, oppa? Uwaa… chukkae.”

Kepalan Luhan semakin mengerat ketika mendengar ucapan girang gadis itu. “KAU BENAR-BENAR HANYA INGIN MEMANFAATKANKU SAJA?! AKU MENYESAL TELAH MENGENALMU, HAN NARA!”

“Kau berpikir aku benar-benar mencintaimu? Huh.. kau salah besar selama ini, Xi Luhan. Oh… dan terimakasih atas semua barang-barang yang kau berikan padaku selama ini. Semua itu membuat koleksi barang mahalku lengkap, Luhan.”

Tut… Tut…

YAKK! KAU GADIS BRENGSEK, HAN NARA!!” umpat Luhan tak tertahankan lagi.

Hari ini sudah kedua kalinya ia dikecewakan oleh gadis yang ia cintai. Ia tidak menyangka bahwa kejadian buruk ini akan datang secara beruntun. Disaat pemuda itu sedang dilanda kekecewaan yang amat sangat, tiba-tiba terdengar sebuah tepukan tangan yang keras dari arah belakang tubuhnya. Mendengar itu, membuat Luhan segera menoleh kearah sumber suara. Dan kau tahu, siapa pelakunya? Dia adalah… Choi Minri.

Gadis itu berjalan menuju kearahnya dengan senyum miring yang terpatri di wajah manisnya. Saat dirinya sudah dekat dengannya, gadis itu mengalungkan lengannya di leher Luhan dan mendekatkan wajahnya.

“Bagaimana? Apakah gadis itu yang memberikanmu cinta dengan setulus hati sepertiku? Apakah gadis itu mencintaimu dengan tulus sepertiku?” bisik Minri tepat didepan wajah Luhan, masih dengan senyum miringnya.

Luhan terdiam tanpa berniat mengatakan sepatah katapun, ia menunggu kelanjutan ucapan gadis itu. Perlahan senyum miring gadis itu memudar dan menatapnya sendu.

“Tidak, bukan? Hanya aku memberikanmu semua itu. Hanya aku, Xi Luhan!” kristal bening mulai mengaliri wajah manis milik Minri, “Dan kau… tega-teganya kau mempermainkanku seperti ini. Aku membencimu, Luhan. Aku membencimu.”

Pukulanpun diberikan pada dada bidang pemuda itu, namun Luhan hanya terdiam tak ingin membalasnya. Alih-alih membalas pukulan itu, Luhan menarik tubuh gadis itu agar tenggelam dalam pelukannya. “Maafkan aku… Aku menyesal dan kau pasti akan membenciku sekarang.”

“Tentu saja aku membencimu. Dengan teganya kau mempermainkanku seperti ini. Kau melarangku untuk berdekatan dengan pria lain selain dirimu, sedangkan kau? Kau berciuman dengan gadis perusuh itu di depanku. KAU DENGAR ITU, LUHAN?! KAU BERCIUMAN DI DEPAN MATA KEPALAKU SENDIRI!” teriak Minri histeris.

Kini gadis itu mencoba meronta untuk lepas dari pelukan pemuda itu, namun niat itu berbanding terbalik dengan dengan keinginan Luhan. Pemuda itu malah semakin memeluknya erat. Luhan terus berbisik dan menggumamkan kata maaf tepat di telinga Minri.

“Tidak. Lepaskan aku. Aku membencimu, oppa.”

“Tidak akan. Tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk memulainya dari awal. Kumohon, Minri…”

“Tidak. Jika aku memberikannya, kau akan mengulanginya, oppa.”

“Tidak akan. Aku berjanji padamu.”

Luhan tetap belum ingin melepas pelukannya, karena baginya memeluk Minri adalah sebuah kehangatan tersendiri dan ia tidak ingin jika moment ini hilang begitu saja. Akhirnya pemuda itu melepaskan pelukannya dan menarik tangan Minri.

“Ayo, kuantar kau pulang sekarang juga.”

***

Suasana di perjalanan pun kembali hening. Tidak ada yang membuka suaranya sedikitpun, hanya helaan napas mereka lah yang menjadi musik latar belakang suasana perjalanan pulang itu. Minri membuang pandangannya kearah luar jendela, sedangkan Luhan lebih fokus pada urusan menyetirnya. Sesekali Luhan masih dapat mendengar isakan tangis dari gadis itu yang membuatnya terus merasa bersalah dan juga menyesal.

“Minri… apakah kau benar-benar membenciku saat ini?” tanya Luhan hati-hati, ya… akhirnya suasana tidak benar-benar sepenuhnya hening.

“Itulah yang aku inginkan dari dulu. Aku ingin bersikap dingin padamu. Bersikap kejam padamu dan yang lainnya.”

Luhan secara refleks menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. “Benarkah? Tapi sekarang bukankah kau sudah-…”

“Tapi aku tidak bisa,” potong Minri cepat. “Aku tidak bisa melakukan semua itu padamu, Luhan-ssi. Aku tidak bisa membencimu.”

“Jangan memanggilku dengan akhiran ‘ssi’,” ralat pemuda itu.

“Aku tidak bisa membencimu karena aku sudah terlanjur mencintaimu. Sedalam apapun kau menggali lubang kekecewaan untukku, sesulit apapun aku mencoba keluar dari sana. Aku masih tetap mencintaimu, Luhan-ssi.”

Luhan mengalihkan pandangannya pada gadis itu, ternyata gadis itu juga sedang menatapnya dengan tatapan mata sendu. Huh… Luhan sangat benci dengan tatapan itu. “Berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Sekali lagi kau memanggilku seperti itu, aku tidak akan segan menciummu sekarang juga.”

Mau tak mau, Minri tertawa geli mendengar geraman Luhan padanya. “Lalu aku harus memanggilmu apa? Oppa? Kurasa itu terlalu manis untuk diberikan pada lelaki brengsek sepertimu.”

“Kau ingin aku cium sekarang juga?”

Gadis itu membalas tatapan Luhan dengan menantang, “Memang bisakah kau menciumku disaat seperti ini? Kau tidak tahu situasi dan kondisi, Mr. Lu.”

Namun siapa sangka jika Luhan menepati perkataannya meskipun hanya sebatas ciuman singkat di bibir mungil Minri. Pemuda itu tersenyum manis melihat wajah terkejut milik Minri.

“Aku mencintaimu dan maafkan aku.”

–FIN–

Hai... I'm back...
Lagi-lagi aku kesini bawa FF Angst -eits, tapi ini nggak sepenuhnya angst, kan? kkk!-
Dengan couple si kakaknya Minji yang berisik dan Xi Luhan /yeay... aku kembali baper sekarang!! *oke abaikan*/
Gimana? gimana? Dapet feel, nggak? Kurasa nggak deh, soalnya aku kan nggak jago bikin angst 😦
Komen beserta kritik dan sarannya ditunggu dibawah ya 🙂

Mungkin segitu aja dariku, sampai jumpa di ceritaku lainnya...
Thank you and See ya~

Regards,

-- BaekMinJi93 --
Iklan

2 thoughts on “[Oneshoot] She Is A Flirt

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s