[Vignette] Coffee Shop

Coffee Shop

Tittle                : Coffee Shop

Author             : BaekMinJi93

Genre              : Angst, Romance, Friendship

Lenght             : Vignette

Ratting             : PG 15

Main Cast        : – Oh Se Hun (EXO), – Choi Min Ji (OC)

Support Cast    : – Park Chan Yeol (EXO), – Byun Baek Hyun (EXO), – Xi Luhan (EXO)

Disclaimer       : Inspired by B.A.P – Coffee Shop lyrics. Happy  Reading and Don’t be a plagiarism, guys~

| Recommend Backsound : B.A.P. – Coffee Shop |

Semua orang mengatakan dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melupakan seseorang…

Tapi entah kenapa hal itu sangat berbeda untukku…

Dan bolehkah aku meminta perpanjangan waktu lagi?!

Sinar sang mentari mulai datang menyeruak masuk kedalam sela jendela kamarku, hal itu menandakan jika waktu pagi telah menjemput sang malam untuk menggantikan waktu berjaganya di alam semesta ini. Dengan sedikit enggan, aku mulai menggeliatkan tubuhku. Masih dengan mata yang sedikit terpejam, kuulurkan tanganku untuk meraih ponselku yang kuletakkan diatas nakas.

Mataku sedikit menyipit ketika mencoba beradaptasi dengan layar ponsel itu, disana tercantum beberapa digit angka –yang menunjukkan jika saat ini sudah mencapai pukul 8 tepat–. Aku beranjak dari posisi awalku dan terduduk di ujung ranjang untuk sekedar mengumpulkan seluruh nyawaku kembali. Setelah dirasa mulai sedikit membaik, aku mulai mengenakan pakaian yang sudah kusiapkan sejak semalam dan bergegas keluar pintu.

Seolah prajurit yang teladan, kakiku melangkah tanpa ada komando dariku menyusuri jalanan kawasan pertokoan dekat apartemenku. Lagi-lagi melangkah seorang diri, oh salah… mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan sebuah headphone yang mengalunkan lagu yang sudah kuulang ribuan kali lah yang menemani langkahku.

Oh ayolah, jangan tampakkan wajah prihatinmu itu padaku. Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan suasana sepi seperti ini dan bahkan akupun sudah hampir lupa kapan terakhir kali aku berjalan menyusuri kawasan ini bersama seseorang, jikalau langkahku tidak berhenti tepat dimana sebuah banner bertuliskan ‘Libby’s Coffee Shop’ itu bertengger diatas salah satu diantara puluhan gedung tinggi itu.

Sebuah lonceng kecil berbunyi tepat saat aku membuka pintu kedai itu. Suasana vintage yang disajikan didalam kedai itu terasa kental tertangkap indera penglihatanku. Harum dari aroma berbagai jenis kopi mulai menyeruak masuk kedalam area indera penciumanku. Arah pandangku kini mulai menyusuri setiap sudut kedai ini.

“Sehun!”

Sontak arah pandangku kini beralih sepenuhnya kearah sumber suara. Senyum tipis terukir di wajahku ketika mendapati beberapa insan mulai duduk melingkar disalah satu bangku kedai ini, mereka adalah teman-temanku. Aku memilih duduk tepat disamping tempat Luhan –salah satu temanku yang hadir hari ini– duduk saat ini. Aku sedikit terkejut ketika mendapati seorang gadis diantara kami, namun segera kuhilangkan rasa itu dan mencoba untuk berbaur dengan teman-temanku yang lain. Ah… mungkin kau berpikir jika headphone kesayanganku itu masih bertengger manis diatas kepalaku? Tenang saja, aku tidak sebodoh itu. Okay, mungkin ini tidak penting untuk dibahas.

Teman-temanku mulai berceloteh tentang kebiasaan barunya sejak kami selesai lulus sekolah menengah dan seperti biasa, aku hanya menjadi pendengar mereka dan tidak berniat sedikitpun untuk berbagi cerita tentang kebiasaanku selama ini, karena jujur saja aku tidak tahu apa kebiasaan baruku sekarang. Namun disaat aku sedang serius mendalami peran pendengar ini, aku merasa mendapati sebuah tatapan intimidasi dari gadis itu. Ada apa denganku? Apa ada yang salah dengan cara berpakaianku hari ini? Tapi kurasa itu tidak mungkin.

Jujur saja, aku sebenarnya sedikit risih dengan tatapan yang gadis berikan itu padaku. Dengan sedikit kesempatan yang kupunya, aku mencoba mencuri pandang kearah gadis itu dengan ekor mataku. Dan kau tahu? Gadis itu kini merubah tatapannya dari intimidasi menjadi sayu. Ada apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit melihatnya seperti itu? Aku sudah tidak tahan lagi. Kubuang jauh rasa gengsi yang menderaku dan mencoba membalas tatapannya. Kami berdua terus beradu pandang sampai akhirnya sebuah suara yang memecahkannya.

“Teman-teman, sebenarnya aku mengundang kalian kesini berniat untuk memberikan undangan pernikahan kami minggu depan.”

Pandanganku secara otomatis kini terjatuh pada kertas undangan yang diberikan oleh Chanyeol. Tubuhku menegang seketika saat mataku menangkap sepasang nama kedua insan yang sudah kukenal sejak lama.

Wedding Invitation

 

Park Chan Yeol
And
Choi Min Ji

 

Invited you to share and celebrate at their wedding,

On Monday, the ninth of June,

Two thousand and fifteen

At seven o’clock in the evening

Myeong-dong Cathedral

74 Myeongdong-gil, Jung-gu, Seoul, South Korea

 

Whoaa… kalian menikah tepat di hari ulang tahun Minji? So cheesy…”

Baekhyun mulai heboh sendiri dan terlihat bahagia dengan adanya berita ini. Sedangkan aku? Aku merasa… aku sebaliknya. Perasaanku kini mulau kacau, rasa kecewa, marah, sedih mulai berkumpul disana. Mataku kini kembali teralih pada gadis yang duduk dihadapanku sekarang. Wajah gadis itu tertunduk dalam dan dia bersikap seolah-olah sedang sibuk dengan makanannya, padahal aku tahu itu hanyalah alibinya semata. Aku menatapnya nanar gadis itu.

“Kau akan datang ‘kan, Sehun?” tanya Chanyeol dengan nada memastikannya padaku.

“Pasti,” sahutku cepat. “Aku pasti akan datang. Tenang saja,” kali ini aku melanjutkannya dengan nada yakin. Meskipun jawaban itu kutujukan pada Chanyeol, tapi arah pandangku tetap pada gadis itu.

Tiba-tiba suasana hening seketika, akupun merasa jika aku-lah yang penyebab suasana ini datang. Seolah menyadari tidak ada hentinya aku menatap gadis dengan nama Minji itu, Chanyeol segera berpamit untuk pulang terlebih dahulu dan menarik tangan gadis kecil itu keluar kedai.

Kini di dalam kedai hanya ada aku, Luhan dan Baekhyun. Suasana hening masih terasa diantara kami bertiga. Aku hanya mengalihkan pandanganku seraya menyesap frappe yang telah kupesan sebelumnya, sedangkan mereka berdua? Entahlah, mungkin menatapku dengan prihatin? Ish… aku benci menerima tatapan itu setiap harinya.

“Sehun… ini sudah waktunya,” ujar Luhan mulai membuka pembicaraan yang hanya diketahui kami bertiga.

Aku masih tetap pada posisi awalku, mencoba untuk menghiraukan ucapan prihatin itu.

“Benar. Ini sudah waktunya untuk melupakan gadis itu. Demi Chanyeol. Demi persahabatan kita,” timpal Baekhyun menambahi.

Kuhela napasku kasar dan menatap kedua sahabatku itu dengan tatapan… entahlah, mungkin bisa dikatakan frustasi?

“Aku tahu. Tanpa kalian katakan berkali-kalipun, aku tahu. Tapi bisakah kalian memberiku waktu untuk melupakannya?”

“Tapi ini sudah dua tahun dan kau masih terus saja gagal.”

“Tentu saja aku terus saja gagal. Ini semua karena aku mencintainya. Aku tidak bisa berpaling dari gadis itu sedikitpun,” nadaku sedikit meninggi ketika mengucapkannya.

Hatiku terasa sesak menghadapi ini semua. Aku belum siap untuk melupakannya, melupakan gadis kecilku, Choi Minji. Yah… semua orang akan mengatakan dua tahun adalah kurun waktu yang cukup lama untuk melupakan seseorang, tapi bagiku itu tidak benar. Dua tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk melupakan seseorang yang telah tiga tahun lamanya mewarnai hidup kita.

“Jika saja semua itu tidak terjadi, Chanyeol tidak akan seperti ini…”

Chanyeol tidak akan amnesia dan menganggap Minnie-ku adalah kekasihnya. Ya, semua itu berawal dari kecelakaan yang dialami sahabatku tiang-ku itu. Kecelakaan mobil yang membuatnya amnesia dan hanya mengingat sebagian memori indahnya. Memori indah bersama Choi Minji.

Luhan menepuk punggungku pelan. “Sudahlah. Tuhan sedang menguji ketabahanmu dengan cara seperti ini.”

“Tapi jika Chanyeol tidak mengalami amnesia, aku dan Minji tidak akan berpisah dengan tragis seperti ini dan kami berdua akan hidup bahagia selamanya. Begitupun dengan Chanyeol. Jika kecelakaan ini tidak akan terjadi, pria itu akan bersama dengan Sarang dan terus mencampakkan Minji seperti dulu. Ini semua karena kebodohannya dia sendiri, Luhan. Ini semua karena Chanyeol sendiri! Dan sialnya aku yang terkena imbasnya.”

“SEHUN!” sentak Baekhyun tidak terima dengan umpatanku barusan. Pria itu menatapku kecewa karena ucapanku frustasiku barusan.

Aku mendengus kesal, “Apa?! Apa aku salah bicara? Kurasa tidak. Ini semua karena ulah Chanyeol sendiri. Chanyeol-lah yang menyebabkan semuanya menjadi-…”

“OH SEHUN!! HENTIKAN UCAPANMU! Aku tidak menyangka kau akan menimpa semua beban ini pada Chanyeol. Tidak ingatkah dia juga dalam pihak tidak sengaja didalam masalah ini? Buka matamu, Sehun! Chanyeol juga tidak akan pernah mau mengalami penyakit sialan itu. Aku kecewa padamu.”

Baekhyun segera beranjak dari duduknya tepat setelah mengatakan ucapan panjang lebar itu dalam sekali hembusan napas. Seketika aku terdiam mendengar penuturan pria itu padaku, mataku mengekor pada punggung pria yang berjalan keluar kedai meninggalkanku bersama Luhan. Kini pria disampingku ini mengalihkan pandangannya padaku. Tatapannya tidak seperti yang Baekhyun berikan padaku sebelumnya, tatapan Luhan kini terasa menyejukkanku.

“Baekhyun benar. Kau tidak seharusnya menimpakan semuanya pada Chanyeol. Chanyeol amnesia, Sehun. Dan kau tahu sendiri, bukan? Jika Chanyeol sudah sembuh dari penyakitnya, semua akan kembali seperti semula, seperti dulu. Sabarlah. Hm… atau kau lebih baik memilih untuk melupakan Minji. Oh ayolah… gadis di dunia ini tidak hanya Minji, Oh Sehun. Dengan ketampanan yang kau punya, aku yakin kau bisa mendapatkan penggantinya. Aku yakin itu, Oh Sehun.”

Hatiku bukannya semakin tenang mendengar penuturan Luhan padaku, tapi sebaliknya, hatiku semakin sesak mendengarnya berucap seperti itu.

“Apa maksudmu dengan kata ‘kembali seperti sebelumnya’? Apa itu berarti jika Chanyeol sudah sembuh dengan penyakitnya, Minji akan dicampakkan lagi olehnya? Itukah maksudmu?”

“Maksudku bukan seperti itu. Tapi-…”

Ah… sudahlah. Bisakah kau tinggalkan aku sendiri disini?”

***

Hfft… lagi-lagi ia terlambat datang. Padahal gadis itu sendiri yang mengatakan jika aku tidak boleh terlambat sedetikpun untuk datang ke kedai kopi ini. Namun entah kenapa aku tidak ingin beranjak dari tempat ini dan berniat untuk terus menunggunya. Sesekali jariku mengetuk meja pelan untuk sekedar menghilangkan rasa bosanku.

Aiish… Choi Minji, aku janji akan menghukummu jika kau tidak-…”

Hunnie, maaf aku terlambat.”

Sontak aku mengangkat kepalaku dan mendapati kini seorang gadis sedang berdiri menghadapku. Perlahan kuamati penampilannya hari ini, untuk atasan gadis itu mengenakan t-shirt tipis putih polosnya yang diberi cardigan berwarna ungu muda sebagai luarannya dan untuk bawahan gadis itu mengenakan rok dengan bahan katun berwarna soft pink. Oh satu lagi yang hampir kulupa, ia juga mengenakan sepatu kets dengan warna paduan antara atasan dan bawahan yang ia kenakan. Benar-benar gaya berpakaian khas Choi Minji.

“Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” tanya gadis itu heran.

Eh… kau tidak berdandan hari ini? Kenapa cara berpakaianmu sama seperti biasanya? Seharusnya kau berdandan untuk merayakan ulang tahunku hari ini.”

Dapat kudengar jika Minji barusaja berdecak kesal. “Untuk apa aku berdandan? Memang kau ingin merayakan ulang tahunmu di gedung yang mewah? Tidak, bukan? Ingat kau hanya mengajakku ke kedai kopi, tuan Oh. Tidak lebih.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal, “Setidaknya kau bisa memberikan kesan cantik dalam dirimu saat kita merayakan acara ini. Yah… meskipun hanya di kedai kopi dan berdua.”

“Jadi kau kecewa denganku? Baiklah aku akan pulang sekarang juga.”

Baru saja gadis itu ingin berbalik, namun dengan cepat aku menahannya. Kuberikan senyum termanisku padanya, mencoba merayunya agar tetap bertahan lebih lama disini. “Maafkan aku, okay? Aku tidak kecewa dengan penampilanmu hari ini, Minnie-ku selalu terlihat cantik dengan berbagai gaya apapun. Jadi jangan pulang, ya. Temani aku disini.”

Minji memutar bola matanya malas dengan puppy-eyes yang kuberikan padanya. “Aku tahu aku cantik. Tanpa kau mengatakannya pun, aku sudah mengetahuinya.”

Aku terkekeh kecil mendengarnya berucap seperti itu. Dan kami melanjutkan kegiatan yang sudah kami rancang sebelumnya. Mulai dari ucapan selamat ulang tahun, meniup lilin yang berdiri diatas kue buatan Minji, pemberian hadiah, dan berakhir dengan ciuman lembut yang kuberikan pada gadis kecilku.

Ooops… sepertinya untuk kalimat terakhir kau harus melupakannya. Dan mungkin saat ini kau berpikir jika kami berdua tidak tahu malu dengan apa yang kami lakukan ditempat umum seperti ini. Tapi aku tidak peduli dengan apa yang kaupikirkan sekarang karena hatiku terlampau bahagia untuk memikirkan hal selain kegiatan kami hari ini.

“Minnie,” panggilku pelan pada gadis yang sedang sibuk menyesap kopi karamelnya.

“Hm?”

Entah kenapa tenggorokanku terasa tercekat ketika ingin melanjutkan ucapanku barusan. Tapi aku harus mengatakan hal ini karena jika tidak, aku akan terus dihantui dengan rasa takut yang menderaku selama ini.

“Aku sangat mencintaimu, tapi aku takut…”

“Takut kenapa?” Minji terlihat mengerutkan dahinya tidak paham dengan ucapanku barusan. Aku tahu dari raut wajahnya ia seolah meminta penjelasan yang lebih dariku.

Kuhembuskan napas kasar sebelum melanjutkan perkataan yang sempat kugantungkan sebelumnya.“Aku takut karena sikapku yang terlalu mencintaimu akan berdampak buruk pada hubungan ini. Aku takut dengan sikap posesifku ini akan membuatmu menjadi bosan padaku dan lebih parahnya kau akan-…”

“Meninggalkanmu?” tebak gadis itu asal, namun tepat pada sasarannya. Tak lama setelah mengatakan hal itu, gadis itu tertawa kecil.

“Kenapa kau tertawa? Apakah ada hal yang lucu disini?”

Seketika Minji menghentikan tawanya tepat dimana saat aku menanyakan hal itu. “Tidak ada. Aku tertawa karena kaulah yang terlihat lucu, Hunnie. Seharusnya kau melihat bagaimana ekspresimu ketika mengatakan hal itu seolah-olah kau sedang memohon pada ibumu agar dapat membolos sekolah. Oh okay, mungkin perumpamaan itu tidak tepat dengan ekspresimu barusan. Tapi sungguh, kau terlihat sangat lucu tadi,” dan seketika tawanya meledak lagi.

Aku hanya mengerucutkan bibirku kesal mendengarnya. Bagaimana bisa Minji mengatakan hal yang kuucapkan tadi sangat lucu, sedangkan perasaanku sangat was-was akan hal ini.

“Minnie… berhenti tertawa. Aku serius.”

“Oh okay… okay…” gadis itu mencoba menghentikan tawanya meskipun sebenarnya ia tidak bisa menahannya. “Memang apa yang kau takutkan? Kau tahu jika aku juga sangat mencintaimu lebih dari apapun, Hunnie. Jadi kau tidak perlu takut akan hal itu terjadi.”

“Tapi dulu kau sangat terobsesi dengan Chanyeol. Bahkan ketika ia mencampakkanmu dengan Sarang, kau terus menangisinya selama berhari-hari. Lalu bagaimana jika pria itu memintamu kembali padanya? Kau pasti akan menerimanya dan meninggalkan-…”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, dapat kurasakan sebuah material lembut beserta sedikit karamel di sekitarnya, menyentuh bibirku. Ah… tanpa aku menjelaskannya kembali, sepertinya kau sudah tahu apa maksudku.

“Itu dulu, Hunnie. Dan sekarang tidak lagi. Aku sudah sepenuhnya mempercayakan hatiku padamu, jadi tenang saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku jika aku akan meninggalkanmu dan kembali pada Chanyeol. Hanya ada namamu yang terukir didalam hatiku saat ini. Saranghae, Oh Sehun.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya barusan. Kurasa itu sudah cukup untuk mendeskripsikan bagaimana perasaan Minji saat ini. Hatiku sedikit lega karena perkataannya seolah menjadi obat penenang tersendiri bagiku.

Aku mengecup sekilas bibir dengan rasa karamel milik kekasihku itu dan berbisik kecil di telinganya, “Nado saranghae, Choi Minji. Kau sudah berjanji padaku jika kau hanya milikku seorang, tidak dengan yang lain.”

***

Mungkin sudah lima tahun yang lalu kejadian itu terjadi, namun otakku masih dapat merekam secara detail setiap bagiannya. Dan setiap aku datang ke kedai kopi itu, memori itu secara langsung akan kembali memutar dalam otakku. Sama halnya dengan kejadian yang kualami hari ini. Aku lagi-lagi datang ke ‘Libby’s Coffee Shop’ dan memilih tempat duduk di pojok ruangan dekat jendela –tempat favoritku bersama Minji jika kami datang berkunjung kemari–.

Kau pasti berpikir jika aku sedang menunggu gadis itu dan berharap lebih dengan cara bernostalgia yang amat menyedihkan itu, kan? Oh… tenang saja dan hilangkan raut wajah sedihmu itu padaku. Kini aku tidak lagi seperti dulu yang terus saja menangis ketika menonton film sedih karena aku terus teringat dengan kisah cintaku yang berakhir tragis ini dan lagi tidurku sekarang sudah lebih nyenyak daripada sebelumnya karena bayangan memori bersama gadis itu tidak lagi berputar di dalam mimpiku. Aku sedikit bahagia akan hal itu. Kau bisa melihat kata sedikit bukan? Hanya sedikit, kawan. Hanya sedikit.

Yah… meskipun harus aku akui, terkadang aku masih bisa merasakan aroma tubuh dan lembut surai rambutnya ketika memasuki kedai ini. Oh… aku terlalu melankolis sekarang, sebaiknya kau lupakan apa yang kuucapkan tadi. Tapi jika kau terus bertanya-tanya apakah aku masih merindukannya saat ini? Dengan yakin aku akan menjawab pertanyaanmu dengan jawaban ‘YA. AKU MASIH MERINDUKANNYA SAAT INI’. Namun aku terus meyakinkan diriku bahwa inilah satu-satunya jalan terbaik yang Tuhan berikan padaku. Mungkin Tuhan memberiku cobaan ini karena dimasa sebelumnya aku telah membuat kesalahan terbesar pada-Nya. Ya, mungkin saja.

Terkadang aku masih saja bertanya-tanya tentang ‘apakah saat ini Minji masih saja tidak menyukai pasta berminyak seperti dulu?’, atau pertanyaan tentang ‘apakah gadis itu masih saja tidak menyukai acar didalam makanannya?’. Namun aku tahu pertanyaan itu tidak terlalu penting untuk diberi jawaban, walaupun sebenarnya aku masih penasaran dengan keadaannya saat ini. Apakah dirinya sudah berubah atau masih sama kekanakkannya seperti dulu.

Oh… sudahkah aku memberi tahu padamu jika Minji saat ini tengah mengandung anak pertamanya? Jangan tanya dengan siapa ia melakukannya, tentu saja dengan suaminya, Chanyeol. Berita itu sempat mengejutkanku, karena terakhir kali aku melihat keadaannya masih sama seperti terakhir kalinya kita bertemu –dimana hari itu adalah hari keberangkatannya ke London dengan Chanyeol tiga tahun lalu dan ia juga belum dalam keadaan mengandung saat itu–. Hal itu sudah membuktikan jika ia sudah memberikan hatinya kembali pada pria itu, bukan? Dan tidak ada lagi kesempatan yang kupunya untuk mendapat hatinya lagi.

Apakah ia mengingkari janjinya padaku lima tahun yang lalu? Mungkin kau bisa menyimpulkannya sendiri tanpa aku jelaskan kembali. Hei! Sudah kubilang bukan, jangan tampakkan wajah sedihmu itu padaku. Aku membencinya. Bahkan aku sudah bisa tersenyum mendengar berita itu dan tidak ada hati yang retak kembali karena berita itu juga.

Kau bertanya apakah aku bahagia saat ini? Jawabanku adalah ‘belum sepenuhnya bisa dikatakan bahagia’, tapi aku akan mencobanya. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang harus kubutuhkan untuk mencobanya, karena aku yakin suatu hari aku akan bisa melewati ini semua. Jadi sekali lagi, kau tidak perlu prihatin mendengar kisah cintaku yang berakhir sangat… sangat… tragis, karena apa? Karena memang kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku. Aku sendiri saja yang mengalami hal itu mencoba untuk bahagia, lalu kenapa kau harus sebaliknya?

So, this is My Tragic Love Story. How about you? Aku harap kisahmu tidak berakhir mengenaskan sepertiku, karena aku jamin putus cinta adalah hal yang paling mengenaskan dibanding apapun di dunia ini.

–FIN–

Hiiii.... I'm back with JiHun story again.... 🙂
But, this isn't sequel from the last story... Ini nggak ada hubungannya sedikitpun sama "Lie Is My Special Gift"
Kali ini, aku bawa cerita mereka dengan suasana angst-angst gitu... /entah kenapa, aku lagi suka bawa cerita angst
daripada romance kkk~ *plak*/ 😀
Jujur aja, sekali-sekali aku bikin mereka sedih-sedih gimana gitu.. Aku sendiri aja bosen liat mereka berdua nge-fluffy
seolah dunia milik mereka berdua aja... /gimana sih? yang buat-buat sendiri, komen-komen sendiri.../ *oke abaikan*
Udah mungkin segitu aja dariku, semoga kalian suka ya meskipun yang nge-fluffy cuma dikiiitt banget hehehe 😀

Thank You and See Ya~

Regards,

-- BaekMinJi93 --
Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s