[Ficlet] {Series 1} Remember (Sehun Side)

tumblr_inline_nmlzwlbXQR1sostyc_540

BaekMinJi93’s Storyline

Starring with OC’s Choi Min Ji and EXO’s Oh Se Hun

– Angst – Family – Hurt – Romance

Inspired by APink – Remember and stroryline is purely mine…

Be a good readers and Don’t be plagiarism, guys~

>> Coffee Shop <<

Bodoh! Kau dengar itu?! Kau sangat bodoh!
Tidak seharusnya kau mencintai pria brengsek seperti dirinya…

Entah sudah berapa lama aku berdiri disini dengan perasaan gelisah, senang, bahagia, sedih, ah… sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini. Pandanganku terus terpaku pada suatu ruangan sengan label besar bertuliskan; Arrival Departure. Sudah banyak kumpulan para manusia mulai dari yang termuda sampai dari kakek-nenek keluar dari ruangan itu, namun anehnya aku belum juga menemukan siapa yang kutunggu hari ini.

Tiba-tiba pandanganku jatuh pada sosok gadis cantik dengan berbalut dress motif floral selutut, rambut cokelat panjangnya yang lurus tergerai dengan indahnya, oh… dan jangan lupakan seorang anak kecil laki-laki yang digandengnya. Senyumku mengembang seketika dan sepertinya aku sudah menemukan sosok itu. Gadis bersama anak kecil itu terus berjalan pelan seraya mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari sesuatu di ruangan yang luas ini. Aku melangkah menghampirinya.

Welcome to Seoul again, Ji-ya…”

Gadis itu terlihat terkejut mendengar sapaan ramahku yang begitu tiba-tiba, semua itu terbukti dari tubuhnya yang seketika menegang saat mendapatiku berdiri tepat dihadapannya saat ini.

“Oh Sehun?!” lirihnya kecil.

Ah… aku merindukan lirihan lembut itu mengisi indera pendengarku.

“Kenapa kau bisa-…”

Ah… ini pasti Youngshin. Aku benar, bukan? Urgh… neomu kyeopta.”

Aku sengaja memotong perkataannya dan mengalihkan pandanganku pada anak kecil disebelahnya; yang kuyakini itu adalah putranya bersama Chanyeol. Hfft… lagi-lagi hatiku kembali sakit ketika mengingatnya. Namun aku harus kuat. Bukankah sebelum mendekati ibunya, kita harus mengambil langkah untuk mendekati anaknya terlebih dahulu? Oh Sehun kau pasti bisa melewatinya.

Mom…”

Tanpa kuduga sebelumnya, meskipun aku menyapa si kecil dengan nada seramah mungkin –tak lupa dengan senyum manisku–, bocah laki-laki itu masih saja takut denganku dan sembunyi di balik kaki jenjang milik ibunya. Tapi aku memaklumi hal itu, karena aku juga mengalami hal seperti itu dulu dan aku menganggapnya sebagai bentuk perlindungan diri dari orang asing. Okay, lupakan.

Don’t be afraid with me, Youngshin-ah. I’m Oh Sehun, your mom’s friend. You can call me Sehun ahjussi, dearrie…”

 

Sekali lagi aku mencoba membujuknya dan ternyata itu berhasil, Youngshin mau kugendong. Senyumku mengembang mendapati kenyataan itu. Kuambil alih koper yang ada di tangan kanan Minji dan langkah selanjutnya adalah mengajak mereka berdua untuk pulang ke kediaman keluarga Choi; rumah Minji.

Ah… sebaiknya kuantar kalian pulang sekarang. Ayo…”

***

Selama perjalanan menuju rumah Minji, keadaan didalam mobilku sangat hening. Youngshin sudah lama terlelap didalam pelukan ibunya, aku hanya fokus pada kemudiku saat ini, dan Minji? Gadis itu hanyalah mengarahkan pandangannya ke jendela. Sepertinya gadis itu masih bergelut dengan pikirannya sendiri saat ini dan mungkin ada rasa penasaran didalam dirinya tentang kenapa aku bisa tahu dia dan Youngshin pulang ke Korea hari ini. Aku berdeham kecil dan mencoba untuk menghilangkan suasana canggung ini.

“Minji, bagaimana kabarmu?”

Basa-basi.

Pertanyaan yang begitu tidak penting untuk dijawab.

Dasar Oh Sehun bodoh! Kenapa kau mengutarakan pertanyaan bodoh itu ketika kau sudah mendapatkan jawabannya tepat didepan mata kepalamu sendiri?

 

Aku merasa jika gadis itu menoleh kearahku tepat dimana aku menyelesaikan kalimat bodoh itu, namun anehnya gadis itu hanya menatapku kosong dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ditatap seperti itu membuatku merasa canggung sendiri.

Ah… tentu saja kau baik-baik saja, bukan? Chanyeol kan menjagamu dengan baik. Bodohnya diriku bertanya seperti itu,” ralatku cepat.

“Tidak, kau salah.”

Dan sekarang akulah yang menoleh menatap gadis itu dengan tatapan bertanya. Alisku bertautan seolah meminta penjelasan lebih darinya. “Apa?! Kau mengatakan apa barusan?”

Minji terlihat tergagap menyahuti pertanyaanku seraya tersenyum, “N-no… Nothing…” dan aku hanya menanggapinya dengan mengangkat bahuku acuh.

Hellaku tahu itu hanyalah senyum paksaanmu, Minnie. Lihat! Kau terlihat menyedihkan dengan senyum itu.

 

WellHow about you, Sehun-ah? Are you okay?”

Lagi-lagi aku harus tersenyum pahit untuk kesekian kalinya karena pertanyaan yang sama.

No. My condition is getting worse since you left me 8 years ago.”

 

Yah… mungkin aku mencoba jujur dengan perasaanku sendiri.

I’m sorry…”

 

“Forget it.”

 

***

Batinku kini masih saja berperang sejak setengah jam yang lalu. Entah kenapa aku menjadi merasa canggung untuk menginjak rumah ini, padahal belum genap seminggu yang lalu aku datang kesini dan semuanya terasa biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan gugup ataupun apalah itu. Argh… Oh Sehun, kau ini kenapa?

Lagi-lagi tangan kananku terangkat berniat untuk mengetuk pintu berbahan kayu jati itu dan sialnya aktivitasku terhenti lagi. Perasaan canggung, gugup, gelisah kini menjadi satu. Aku sudah merasa familiar dengan perasaan ini. Ya, aku pernah merasakannya ketika akan mengajak Minji keluar untuk pergi ke kencan pertama kami dan itu terjadi sekitar-… Ah… sudahlah. Cukup sampai disini acara bernostalgianya.

Ketuk…

 

Pergi…

 

Ketuk…

 

Pergi…

 

Ke-…

CEKLEK…

 

Oh… kau, Sehun-ah. Silahkan masuk.”

Mataku mengerjap pelan ketika mendapati pintu terbuka secara tiba-tiba dan menampilkan sosok pria tampan bertubuh tinggi dengan senyum ramahnya, dia adalah Choi Minho; kakak pertama Minji. Seolah tersadar kembali, aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal dan berjalan memasuki rumah itu.

“Terimakasih, hyung.”

Masih dengan senyum ramahnya –namun kini terkesan ada seringaian tipis didalamnya–, Minho hyung bersuara kembali dan lagi-lagi aku harus merasa malu dengan ucapannya.

“Kau mencari Minji? Dia ada di dalam kamarnya. Kau boleh masuk jika kau ingin mengunjunginya.”

Benar, bukan? Apa dia kini sudah memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang, sehingga dia saat ini bisa mengetahui apa tujuanku kemari?

“Tunggu apa lagi? Cepat masuk kesana dan hibur gadis itu,” seru Minho hyung sedikit menyentak. “Kau tahu? Gadis bodoh itu tidak mau makan sejak kemarin. Bahkan meskipun aku ataupun yang lainnya membujuk dirinya untuk makan sedikit saja, gadis itu tetap tidak mau. Aku sangat khawatir dengannya.”

Terkejut. Itulah reaksi pertamaku ketika mendengar ucapan itu keluar lancar dari pria dihadapanku ini. Minnie… kenapa kau seperti ini?

 

“Benarkah?” tanyaku tak percaya dan Minho hyung hanya menggangguk pelan dengan wajah sedihnya.

“Jika boleh tahu. Sebenarnya apa yang terjadi pada Minji, sehingga ia dan Youngshin pulang ke Seoul minggu lalu?”

Minho hyung mendengus pelan, kini rahangnya sedikit mengeras mendengar pertanyaan yang kulontarkan barusan. Lama ia terdiam, namun sekali ia menjawab pertanyaan itu, seolah aku ikut tertular virusnya.

“Penyebab Minji menjadi seperti ini sama persis dengan penyebab trauma nya 8 tahun yang lalu.”

***

TOK… TOK… TOK…

Sudah kesekian kalinya aku mengetuk pintu berwarna ungu muda itu secara perlahan dan masih sama, tidak ada balasan sedikitpun dari dalam.

TOK… TOK… TOK…

 

“Minji… buka pintunya. Ini aku, Oh Sehun.”

 

Sekali lagi dan masih sama.

Merasa tidak sabar, tanganku kini beralih pada kenop pintu itu dan memutarnya. Tidak dikunci. Pertama, aku hanya memasukan sebagian kepalaku untuk melihat keadaan didalam. Tidak puas dengan apa yang ditangkap netraku, untuk selanjutnya, aku mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam.

“Minji, kau dimana? Maaf aku sudah masuk kedalam tanpa seizinmu, tapi sebenarnya Minho hyung-lah yang-… ASTAGA, MINJI!!”

Ucapanku terhenti seketika saat aku mendapati tubuh seorang gadis yang sangat kukenal tergeletak tak jauh dari tempat tidurnya. Karena panik, secara refleks aku menggendong tubuh kecilnya dan meletakkannya secara perlahan diatas kasur empuknya. Kusentuh dahinya dan rasa panikku semakin bertambah saat mendapati suhu tubuhnya sangat tinggi.

“Ya Tuhan… Badanmu panas sekali, Minnie.”

Astaga… dia demam. Apa yang membuatmu seperti ini, sayang? Kumohon berhenti bersikap seperti ini.

 

Aku beranjak dari dudukku, “Tunggu disini, aku akan mengambilkanmu-…”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, aku merasa jika lenganku ditahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Minji?

“Jangan pergi,” bisiknya lemah.

Aku memegang tangannya dan berniat untuk menyingkirkan tangannya sejenak. “Tunggu sebentar, aku akan-…”

“Kumohon, jangan pergi…”

“Tapi, Minji…”

“Kumohon jangan pergi. Temani aku dan Youngshin disini, oppa.”

Sial! Hatiku seketika retak mendengar ucapan itu. Minnie, lupakan dia. Dia brengsek, Minnie. Kumohon lupakan dia…

 

Kuhela napasku kasar dan menatapnya sendu. “Minji, ini aku… Oh Sehun.”

Jujur saja, tenggorokanku sedikit tercekat ketika mengucapkan kalimat itu. Aku merasa apa yang aku lakukan saat ini adalah usaha untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain. Dan lebih parahnya lagi, kini Minji tak lagi benar-benar menganggapku ada.

“Aku tidak peduli kau bermain dibelakangku seperti dulu. Kau dengar itu, oppa? Aku mengizinkanmu bermain dibelakangku, asalkan kau tidak meninggalkanku dan Youngshin sendiri disini, oppa. Kumohon jangan pergi. Temani aku sekali ini saja. Aku mencintaimu…”

Bodoh! Kau bodoh, Choi Minji! Dengar itu?! Kau bodoh dan sangat bodoh. Tidak seharusnya kau mencintai pria brengsek seperti dia. Cinta sucimu terbuang percuma karenanya. Dan lagi, tanpa kau mengizinkannya sekalipun, dia tetap akan seperti dulu. Bermain dibelakang dan mengkhianatimu. Sadarlah, Choi Minji. Kumohon, sadarlah…

 

Tanpa terasa, sebulir kristal bening mengalir di pipiku. Apa aku menangis? Ish… saat ini kau terlihat tidak ada bedanya dengan seorang pecundang, Oh Sehun!

 

Kugenggam tangannya erat dan menciumnya sekali. “Baiklah, aku ada disini. Tidurlah dengan tenang dan cepat sembuh. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

–To Be Continue–

Teaser For “Remember” ; Minji Side :

“Terima kasih.”

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Karena kau sudah mau menemaniku semalam.”

“Apa kau ada acara akhir pekan ini?”

“Kita mau kemana?”

“Sudahlah. Pasti kau akan tahu nanti…”

Huaa... pukul aku sekarang... /PLAKK/ 😥
Maafkan aku, seharusnya aku nggak bawa FF kaya gini jika alasannya terinspirasi dari lagu barunya APink itu...
Didalem MV nya, si APink keliatan bahagia banget, tapi disini??? Ah, sudahlah...
Ini semua karena translate-an liriknya (lho?!)
Atau aku aja yang salah tangkep sama translate-annya? Ah... lupakan... 😦

Gimana? Aneh banget ya?
Maaf ya kalo ngaret, lama nggak nulis jadi kena wabah virus writer's block yang lama. Hehehe...
Buat yang udah komen kemarin dan bilang kalo udah nunggu FF ini jadi, yah... hasilnya kaya gini..
Semoga nggak mengecewakan ya 🙂

Udah deh segitu aja dariku, ditunggu series yang lain ya...
Annyeong~

Regards,

-- BaekMinJi93 --
Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s