[Vignette] {Series 2} Remember (Minji Side)

 tumblr_marb9zS5GN1rh9l6xo1_500

BaekMinJi93’s Storyline

Starring with OC’s Choi Min Ji and EXO’s Oh Se Hun

– Angst – Family – Hurt – Romance

Inspired by APink – Remember and stroryline is purely mine…

Be a good readers and Don’t be plagiarism, guys~

>> Coffee Shop << >> Sehun Side <<

Untuk kedua kalinya, aku dihancurkan oleh orang-orang yang sama

Menggeliatkan tubuh adalah hal pertama yang kulakukan untuk malam ini. Eh? Malam? Okay… mungkin kali ini aku harus meralat ucapanku karena aku juga mulai merasakan silaunya cahaya mentari yang mencoba menyapaku, mau tak mau aku juga harus membalas sapaannya. Dengan perlahan aku membuka kelopak mataku dan mencoba untuk menetralkan pandanganku. Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, hfft… untung saja ini kamarku.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang menindih tubuhku, tak lama kemudian disusul dengan usapan dan ciuman lembut di pipiku. Sebuah senyuman terukir di bibirku karena sepertinya aku tahu siapa pelaku dibalik semua perlakuan ini. Sosok itu.

Oppa…”

Dan sedetik kemudian aku mendengar sebuah bisikan dan hal itu membuatku kembali tersadar untuk datang kedunia nyata.

Mom…”

Tanpa kuhendaki sebelumnya, setetes air mata mulai membanjiri pipiku. Kini aku tidak lagi melihat sesosok pria tinggi itu lagi. Dan sialnya, kejadian tadi hanyalah imajinasiku belaka. Wake up, Alexa! Wake up! It’s time to move on!

Senyumku semakin melebar ketika netraku menangkap sesosok malaikat kecilku. Aku mengusap pipinya dan menciumnya sekilas. Kupeluk tubuhnya yang kecil dengan erat. Hanya dia yang kupunya saat ini. Ya, hanya Park Youngshin yang bisa membuatku kembali mengenang kenangan indah itu bersamanya.

***

 

“Oppa? Kau sudah pulang?”

 

Aku berlari kecil menuju ruang tamu ketika mendengar sebuah suara pintu rumahku terbuka. Senyumku mengembang ketika menangkap bayangan sosoknya. Benar, dia adalah Park Chanyeol, suami sahku.

 

Namun pria itu tidak menggubris sapaanku dan terus berjalan melewatiku seolah aku ini tidak kasat mata. Aku mengekorinya dari belakang menuju kamar utama kami. Netraku menangkap suatu hal yang aneh. Chanyeol sedang mengemasi bajunya kedalam koper.

 

Aku berjalan mendekatinya. “Kau mau kemana, oppa?”

 

“Pergi.”

 

Bingung dengan jawaban singkatnya, aku kembali menderanya dengan pertanyaan. “Pergi kemana, oppa? Ke luar kota lagi? Sampai kapan?”

 

Chanyeol terlihat menghentikan aktivitasnya dan menatapku tajam. “Kenapa kau sangat berisik sekali, eoh? Entah aku pergi kemanapun dan kapanpun itu bukan urusanmu.”

 

Aku membelalakkan mataku tak percaya. “Apa maksud ucapanmu dengan ‘bukan urusanku’? Aku ini istrimu, oppa.”

 

Sepertinya hari ini akan berakhir dengan pertengkaran hebat seperti malam-malam sebelumnya. Untung saja kamar Youngshin berada di lantai bawah dan aku sudah memastikannya tidur dengan tenang tadi.

 

Chanyeol tertawa remeh. “Berhentilah bermimpi, nona Choi. Karena setelah ini, kau sudah tidak lagi menjadi istriku. Aku sudah mengurus surat perceraian kita dan tak lama lagi surat itu dapat kupastikan akan sampai ditanganmu beberapa hari kedepan. Mau tidak mau, kau harus menandatanganinya. Dengan begitu aku bisa terlepas darimu dan aku akan kembali hidup bahagia dengan Sarang selanjutnya.”

 

“MWO?! Kau akan kembali bersama wanita itu?”

 

“Tentu saja. Wanita itulah yang kucintai selama ini dan berkat penyakit amnesia-ku sudah sembuh, aku bisa kembali bersamanya.”

 

Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Tidak, ini tidak mungkin.”

 

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum mengejek. “Kau tahu di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kan, nona Choi?”

 

“Ah sudahlah… Lagi-lagi kaulah membuang waktu berhargaku bersama Sarang, Alexa.”

 

Dan setelah itu sosok Chanyeol pergi meninggalkanku sendiri yang saat ini sedang menangis dengan keras. Untuk kedua kalinya, aku dihancurkan oleh orang-orang yang sama.

***

Entah kenapa di awal hari seperti ini tenggorokanku sudah terasa kering daripada biasanya, jadi kuputuskan untuk pergi ke dapur sebelum melangkah menuju ruang keluarga. Seraya menggendong malaikat kecilku, aku membuka lemari pendingin dan mengambil air putih. Baru saja aku berbalik dan ingin pergi ke ruang keluarga, sebuah suara menginterupsi aktivitasku.

Eoh… Minji? Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apakah kau masih merasa pusing?”

 

Eh… Pusing? Apa maksudnya?

“Pusing? Apa maksudmu, oppa?” tanyaku balik seraya menyerahkan Youngshin pada Minho oppa. Aneh… Youngshin ini adalah putraku, tapi entah kenapa dia bisa terus menempel bersama pamannya dibandingkan dengan ibunya sendiri.

“Tadi malam, Sehun mengatakan jika suhu badanmu tinggi sekali. Kau demam, Ji-ya. Dan kau tahu? Dia setia menemanimu semalaman, tapi sayangnya ia izin untuk pulang di pagi buta tadi.”

 

Aku demam? Dan Sehun menemaniku semalam? Hell… ini sebuah lelucon yang sangat tidak lucu.

“Apa?! Kau bercanda kan, oppa? Aku tidak demam dan tidak mungkin Sehun ada di kamarku semalam.”

 

Jika Sehun-lah yang ada dikamarku semalam, berarti…

Aku menatap wajah kakakku itu dengan tatapan memohon dan sialnya dia membalas tatapanku dengan tatapan penuh kejujuran didalamnya.

“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kau pasti bercanda kan, oppa? Katakan jika kau sedang bercanda saat ini! Tidak mungkin! ARRGGHH…”

***

Mungkin kemarin aku seperti orang gila yang berteriak didepan kakak dan putraku sendiri. Dan kini aku melakukan hal serupa dan tidak jauh seperti kemarin, namun kini sedikit lebih normal dan tidak berteriak dan berakibat diomeli oleh Minri seharian pada malam harinya. Hanya saja saat ini penampilanku-lah yang mendukungku untuk menjadi orang gila untuk kedua kalinya, yaitu; rambut berantakan dan berjalan mondar-mandir seperti orang bodoh.

Tangan kananku masih terus saja menggenggam ponsel dengan erat, sesekali mengetik beberapa karakter dan didetik selanjutnya akan kuhapus. Mungkin semua itu terdengar pecuma dimatamu, namun percayalah aku sedang dilanda perasaan kalut saat ini. Kini aku tidak lagi berkutat untuk mengetik suatu hal yang percuma, namun lebih memilih jalan pintas yang lebih cepat daripada sebelumnya.

Ya, aku lebih memilih untuk meneleponnya sekarang meskipun sebenarnya aku sedikit ragu dengan keputusanku kali ini.

“Kumohon jangan diangkat. Kumohon…”

Kau boleh mengataiku bodoh karena aku menggumamkan hal yang tidak jelas itu. Pada keadaan normal, seharusnya aku berharap untuk segera tersambung dengannya, namun kini kau tahu sendiri kan?

Lama aku bergulat dengan pikiranku, tiba tiba sebuah suara berat menginterupsinya.

Yeoboseyo?

Aku tersentak mendengar suara berat itu. “Yeo-yeoboseyo.”

“Maaf, ini siapa ya?”

“I-ini aku, Alexa.”

Oops… Sepertinya aku sudah terbiasa mengenalkan diriku dengan nama itu. Padahal dulu aku sangat membencinya ketika orang orang memanggilku dengan sebutan itu.

“Alexa?!”

 

Ini aku, Oh Sehun. Alexa Choi, nama lain dari Minnie-mu. Apa kau sudah lupa?

Ah… Maksudku, Choi Minji. Ya… aku Minji, Sehun,” ralatku cepat.

Entah kenapa suasana berubah menjadi hening seketika tepat dimana aku selesai mengatakan hal itu. Aku merasa penyebab suasana canggung ini terjadi karena aku. Namun tak beberapa lama kemudian, aku mendengar Sehun berdeham kecil.

Eoh… Minji?! Ada apa kau menelepon?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkannya padaku barusan, seolah aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya menelepon pria itu.

“Terima kasih,” hanya itu yang bisa kuucapkan saat ini. Sungguh, aku kehabisan kata-kata sekarang.

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Karena kau sudah mau menemaniku semalam.”

Ah… itu… Sama-sama.”

Dari suara yang kudengar saat ini, kupikir Sehun sedang gugup atau… sedang menahan senyum? Ah sudahlah… aku tidak boleh terlalu percaya diri untuk hal ini. Tanpa bisa kupungkiri, sebenarnya kedua tarikan di sudut bibirku kini mulai mengembang tepat dimana aku mendengar suara pria itu dari awal. Okay… ini memalukan dan tolong lupakan.

Hm… kau tidak ingin meminta imbalan padaku?”

 

Baiklah… sekarang kau boleh berpikir jika ini hanya sekedar basa-basi.

“Imbalan? Imbalan apa?”

Mmm… hitung-hitung sebagai bayaran karena kau sudah mau menemaniku semalam.”

“…”

 

Urgh… kenapa dia terdiam lagi? Apa aku salah bicara?

Ah… Lupakan! Sepertinya aku terlalu percaya diri karena menganggapmu sama seperti dulu. Baiklah aku tutup teleponnya seka-…”

“TUNGGU!!”

 

Aiish… bisakah dia tidak berteriak?

“ Ada apa?!”

“Apa kau ada acara akhir pekan ini?” ujar Sehun gugup.

Hm… mungkin aku akan mengajak si kecil ke taman kota.”

“Setelah itu?”

Aku mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapannya. “Setelah itu? Setelah itu kita pulang. Memang kenapa?”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kenapa aku menjadi cerewet seperti ini? Ada apa denganku? Sepertinya sudah lama aku tidak bersikap seperti ini jika bersama seseorang.

“Tidak. Hanya saja aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

 

Suatu tempat?! Kenapa hatiku menjadi tidak enak seperti ini?

“Minji? Apa kau masih ada disana?”

Untuk kesekian kalinya, pria itu kembali menginterupsi lamunanku. “Ya?! Tentu saja aku masih ada disini.”

“Bagaimana? Kau mau?”

Tanpa kusadari sebelumnya, aku menggigit bibir bawahku gugup. “Hm… baiklah.”

Okay… sampai jumpa di akhir pekan. Kujemput kau pukul 4 sore.”

Dan sambungan telepon pun terputus seketika.

Dari nada ucapannya seperti itu, sepertinya Sehun senang mendengar jawabanku dan sepertinya juga ia sedang merencanakan sesuatu untukku. Tapi itu apa?

***

“Kita mau kemana?”

Seperti yang kujanjikan bersama Sehun sebelumnya, kini kami sudah berada didalam mobil pria itu dan entah akan pergi kemana.

“Sudahlah, nanti kau pasti akan tahu.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal dan membuang wajahku kearah jendela mobil. Sejak awal kita berangkat dan sejak aku menanyakan hal itu padanya, Sehun selalu menjawabnya dengan jawaban serupa. Aku sempat tersentak ketika merasakan sebuah usapan lembut dipuncak kepalaku. Sudahlah, kau tidak perlu menanyakan siapa lagi pelakunya.

“Kau pernah tidak berubah, Minnie.”

 

Panggilan itu. Jujur saja, aku merindukan panggilan itu darinya dan hari ini aku berhasil mendapatkannya.

Namun hal itu tidak berjalan lama, karena Sehun segera menarik tangannya kembali dan mengarahkan pandangannya kedepan. Ia sempat berdeham sesekali dan itu terlihat lucu. Aku terkikik kecil melihatnya.

“Kita sudah sampai,” ujar Sehun girang.

Aku mengangkat kepalaku dan mencoba mengedarkan pandanganku kearah luar mobil. Tunggu… sepertinya aku mengenal tempat ini. Kenapa pria itu membawaku kesini?

“Kenapa kita kesini? Kita bisa pergi ke tempat lain seperti mall, cafe, atau apapun itu.”

“Apakah kau lebih menyukai tempat ramai itu sekarang?”

Aku terdiam dan menundukkan kepalaku dalam. “Tidak,” lirihku.

“Baiklah, ayo keluar.”

 

Tunggu… sejak kapan ia sudah berdiri dihadapanku dan membukakan pintu itu untukku? Ah sudahlah, itu tidak penting.

***

Apakah aku sudah mengatakan dimana tujuan kami sebenarnya padamu?

 

Oh… sepertinya aku melupakannya. Baiklah, maafkan aku.

Kami saat ini sedang berada di salah satu pantai di daerah Busan, Gwangalli beach. Pantai itu terletak tepat disebelah barat dimana pantai Haeundae berada, bedanya keadaan pantai disini terasa lebih sepi dan tenang daripada keadaan tetangganya itu. Aku menyukainya, baiklah… ralat. Aku dan Sehun menyukai tempat ini, tempat sepi yang bisa menenangkan diri kami dari kekalutan. Semasa remaja, kami berdua sering pergi kesini sehabis ujian semester berakhir untuk menghilangkan kepenatan kami. Tempat ini menjadi tempat favorit kita berdua.

Hari ini kita hampir menghabiskan setengah hari dengan bermain pasir, bermain air atau apapun itu yang ada hubungannya dengan pantai ini. Aku merasa jika kami kembali menjadi pasangan remaja berusia 17 tahun.

“Bagaimana? Kau senang hari ini?”

Pertanyaan pertama yang pria itu lontarkan malam ini. Kami saat ini sedang merebahkan tubuh diatas pasir, tidak peduli akan baju kami kotor nantinya.

Mmm… sedikit,” jawabku sekenanya.

“Apakah beban tentang perceraianmu dengan Chanyeol sudah hilang?”

Otomatis aku menoleh kearahnya tepat dimana pertanyaan itu terlontar. Sehun menampakkan wajah sedihnya, tak pelak aku jadi ikut tertular karenanya.

“A-apa? Kenapa kau berkata seperti itu? Aku dan Chanyeol tidak-…”

“Minji, aku sudah tahu semuanya. Jadi, jangan mengelak lagi dan cukup jawablah pertanyaanku.”

Tiba-tiba air mataku menetes mendengarnya. Kau jahat, Oh Sehun. Kenapa kau menanyakan hal itu?

Sehun merengkuhku kedalam pelukannya –tetap pada posisi berbaring–. “Menangislah jika kau ingin menangis. Menangislah yang kencang, Minnie. Aku bersedia menjadi sandaranmu malam ini. Aku janji.”

Dan tangisku semakin pecah mendengarnya.

–To Be Continue–

Teaser For “Remember” :

“Apakah kau ingat kita pernah duduk diatas pasir ini dengan matahari senja yang menyinari kita?”

“Apakah kau ingat? Jawab aku, Minnie! Kumohon jangan diam saja.”

“AKU INGAT SEMUANYA, OH SEHUN! JADI KAU TIDAK PERLU MENJELASKANNYA LEBIH DALAM LAGI!”

“Cukup, Sehun. Cukup!”

Oke, untuk kedua kalinya kalian boleh pukul aku gara-gara ngaret bawa kelanjutan cerita ini 😦
Aku tahu ini semakin jelek dan mengecewakan 😥
Ah sudahlah... ini semua gara-gara persiapan MOS yang sangat melelahkan plus setelah baca rumor tentang berita Sehun
mabuk dan kecelakaan 😦 (Oke, yang terakhir jelas nggak mungkin!!)
Aku jadi agak nggak dapet feel dan males gara-gara itu semua, apalagi di rumor itu juga bilang kalo Sehun diduga pergi 
sama pacarnya 😥 /Ish, padahal kan semua orang tahu kalo pacar si Odult sebenarnya ada disini, si penulis cerita absurd 
itu/
Hahaha... abaikan -___-

Oke, mari kita balik ke cerita...
Gimana Minji side-nya ini? Kurang memuaskan? Aku tahu itu semua, jadi nggak perlu dijelaskan lagi... -_-
Di komentar cerita sebelumnya, banyak yang bilang kalo nggak paham sama cerita ini, meskipun udah baca Coffee Shop.
Oke, aku tahu. itu semua kesalahanku. Di Coffee Shop emang gak dijelasin secara detail tentang titik permasalahannya, 
soalnya semua kendali cerita itu ada di genggaman si Odult /baiklah ini GJ banget/
Jadi, aku ada rencana lagi... 
Setelah "Remember" ini selesai, aku ada rencana mau bikin tentang kehidupan si Odult, OC, sama si Tiang sebelum cerita 
di Coffee Shop.
Mungkin jalan ceritanya udah bisa ketebak, tapi mungkin juga itu bisa bikin lebih mendetail lagi tentang konflik di cerita 
ini 🙂
Gimana? Setuju? Setuju ato Gak, itu semua tergantung kalian, jadi kutunggu dikomentar bawah ya...

Note : Oh ya, foto diatas itu adalah visualisasi dari wajah si "Minnie", ya...
Aku sengaja pake Park Hyo Jin, soalnya dia ulzzang favoritku, plus aku juga sedikit udah bosen sama visualisasi yang
sering dipake author lain untuk OCnya si Sehun (Sebut aja, si Ice Princess "Baek Sumin dan Park Seul")
Bukannya, aku benci sama mereka, tapi aku pengen bikin beda aja... /hahaha... maafkan aku terlalu frontal/

Oh ya, satu lagi... Ada yang belum baca berita skandalnya si Odult yang katanya mabuk itu?
Kalo ada, ini aku kasih linknya >> Click here, dearrie~

Udah deh, mungkin kali ini aku terlalu cerewet dari biasanya...
Baiklah sampai ketemu di post ku selanjutnya 🙂

Regards,

-- BaekMinJi93 --
Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s