[Twoshoot] My Rival Is The Real Bestfriend

my-rival-is-the-real-bestfriend2_

BaekMinJi93’s Storyline

Starring with OC’s Alexa Choi and EXO’s Oh Se Hun

– Friendship – School Life – Soft-Romance

Stroryline is purely mine…

Be a good readers and Don’t be plagiarism, guys~

Big thanks to kak Mutia.R. for the amazing poster ^^

Koridor sepi itu tidak lagi terasa sepi karena didalamnya terdapat sebuah derap langkah kaki yang mengisinya. Suara derap langkah itu terus saja terdengar mengisi koridor kosong itu –oh ralat.. bukannya kosong melainkan semua orang yang ada disana lebih mengalihkan perhatiannya pada sebuah layar berbentuk persegi panjang berukuran 42 inch. Merasa tertarik, sang pemilik langkah itupun mulai mendekati kerumunan itu.

Samar-samar bisikan dari kerumunan itupun mulai terdengar. Oh… bahkan pemilik langkah itu bisa mendengar namanya disebut oleh salah satu dari sekian banyaknya siswa yang mengerumuni layar itu.

“Tidak bisa dipercaya. Alexa bisa dengan mudahnya dikalahkan oleh murid beasiswa itu.”

“Kau benar. Padahal di semester sebelumnya dan sebelum murid beasiswa itu datang, semua siswa disekolah ini kewalahan untuk mencoba menandinginya.”

Hei… bahkan selisih skor antara Alexa dengan murid baru itu sangat jauh. Murid beasiswa itu benar-benar daebak. Aku kagum dengannya.”

Cukup. Pemilik nama yang notabene adalah seorang gadis, kini sudah tidak tahan lagi mendengar namanya disebut-sebut.

“Minggir,” ucapan dingin dan singkat itu mulai meluncur dari bibir merah mudanya. Namun meskipun terdengar begitu singkat, siapa sangka hal itu seketika bisa membuat kerumunan itu mulai menyibak dan memberi jalan untuk gadis itu.

Dengan tatapan tajamnya, gadis itu mulai melangkah pelan mendekati benda persegi panjang itu. Untuk gambar pertama, layar kaca itu menampilkan sebuah foto seorang gadis yang dikenali sebagai dirinya, yang menjelaskan bahwa gadis itu adalah peraih peringkat kedua semester ini.

Rank #2 : Alexa Choi

 

Beberapa detik kemudian, layar itu tidak lagi menampakkan foto dirinya, melainkan foto seorang pemuda berkulit susu dan ada kacamata besar yang menghiasi wajahnya.

Rank #1 : Oh Sehun

 

Tanpa sadar, gadis itu mengepalkan tangannya kuat dan mencoba untuk tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan. “Tidak, aku tidak mungkin kalah dari murid beasiswa itu. Tidak, ini semua tidak mungkin.”

Suasana berubah menjadi hening sejak kehadiran gadis itu. Kini tatapan semua orang yang ada disana sepenuhnya ditujukkan padanya. Tatapan tajam milik gadis itu masih saja terpaku pada layar didepannya, namun kini dia kembali berujar dingin.

“Apa yang kalian lihat. Cepat bubar dan pergi darisini sekarang.”

***

“Alexa, berhentilah menangis. Ayo kembali kekelas sekarang juga. Min seongsangnim akan membunuhmu jika kau ketahuan membolos di kelasnya.”

“Aku tidak mau. Kalian kembali saja sendiri.”

Seorang gadis yang dipanggilnya dengan nama Alexa itu masih saja membenamkan kepala diantara kedua lututnya yang berbentuk 90o. Disamping kanan dan kiri gadis itu, terdapat dua gadis yang mengaku sebagai sahabat terbaiknya, Shim Ahri dan Jang Yena. Kedua gadis itu masih saja sibuk membujuk Alexa agar segera menghentikan tangisnya dan kembali ke kelas karena bel masuk sudah terdengar sejak 30 menit yang lalu.

“Alexa, uljimma. Kau pikir jika kau terus menangisinya, layar 42 inch itu akan berubah dan menampilkan wajahmu dan menyatakan jika kau menjadi peringkat pertama?” ujar Minah frustasi.

Maybe. I think if I cried for this, it will change as before.

Bodoh.

Satu kata itulah yang tercetak dibenak Ahri dan Yena ketika mendengar pengakuan polos dari sang sahabat.

Okay whatever. Lupakan semua itu. Bagaimana jika sepulang sekolah nanti, kita pergi belanja dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Bagaimana kau setuju?”

Pergi belanja dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi?

 

Bodoh. Dia pikir segampang itukah melupakan hal memalukan itu? Hell… harga diriku sudah disamaratakan dengan tanah oleh murid beasiswa itu. Ish… menyebalkan.

 

***

Sepertinya Alexa harus menarik ucapannya tadi pagi, karena saat ini gadis yang barusaja memasuki usia 17 tahun itu akhirnya mau tak mau menuruti saran dari kedua sahabatnya itu dan bahkan gadis itu kini sudah bergelung dengan surga dunianya, wellthat is fashion style.

“Alexa… kau sudah selesai?”

Gadis itu yang pada awalnya hanya terfokus dengan benda dihadapannya, kini beralih pada sosok kedua sahabatnya. Jujur saja, Alexa sedikit terperangah dengan barang bawaan yang memunuhi kedua tangan teman-temannya.

“Kalian yakin akan membeli semua itu?” tanya Alexa tidak percaya, sedangkan Ahri dan Yena hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan mantap.

Kedua alis Alexa tertaut menjadi satu, menambah kesan tidak percaya sekaligus ragu dengan apa yang dibawa teman-temannya saat ini. Lihat… yang benar saja, mereka berdua memang terlihat membawa pakaian atasan tiga pasang begitu juga dengan jumlah bawahannya, tapi meskipun pakaian-pakaian itu bermerk dan tentu saja harganya akan sangat mahal. Sedangkan Alexa? Bahkan untuk memilih satu pasang baju saja, gadis itu membutuhkan waktu setahun untuk memikirkannya.

“Apakah ayah kalian barusaja memberikan jatah bulanan yang lebih daripada biasanya?” tanyanya kembali ragu.

Namun tanpa disangka, raut wajah Ahri dan Yena seketika berubah. Mereka seperti tertohok dengan ucapan terakhir yang Alexa berikan pada mereka. Ketiganya saling diam setelah itu, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sepatah katapun. Alexa masih saja menatap kedua wajah sahabatnya itu dengan tatapan aneh yang dimilikinya, sedangkan yang menjadi objek tatapannya malah terlihat seperti sedang bingung memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba tanpa ada persiapan sebelumnya, Yena menarik tangan Alexa dan membuat gadis itu sedikit terhuyung karena ulahnya. “Lihat, antrian kasirnya semakin panjang. Ayo cepat.”

Setelah sebelumnya tubuhnya terlihat terhuyung dan kewalahan mengikuti langkah cepat milik Yena, kini bahkan sudah berdiri tepat diantara Ahri dan Yena berdiri. “Aiish… sakit. Kau kejam, Yena-ya,” rutuknya kesal, sedangkan sang pelaku hanya menampilkan senyum bocahnya.

Tak butuh waktu lama, kini mereka bertiga sudah berdiri tepat dihadapan meja kasir. Dengan santainya, ketiga gadis berseragam sekolah itu memberikan pakaian yang telah dipilihnya kearah meja kasir. Tiba-tiba terdengar suara panik milik Ahri yang jujur saja sangat mengejutkan bagi kedua temannya.

Oh My God… dompetku tertinggal dirumah. Ah… bagaimana ini.”

Alexa maupun Yena menatapnya dengan tatapan tak kalah panik. Seperti yang kukatakan sebelumnya, semua pakaian yang dipilih Ahri memiliki harga yang mahal dan gadis itu mengatakan jika dompetnya saat ini tertinggal dirumah? Ck… yang benar saja.

“Lalu bagaimana dengan-…”

Ucapan Alexa terinterupsi begitu saja dengan pekikan Yena yang menyusulnya. “Astaga… bodohnya diriku. Aku juga meninggalkan black card ku di meja belajar. Bagaimana ini?”

Entah kenapa perasaan Alexa kini sedikit tidak enak, namun meskipun begitu gadis itu masih saja pintar dalam menyembunyikan ekspresi paniknya. “Kalian yakin tidak sedang mencoba membohongiku agar aku mau membayar semua belanjaan milik kalian?” tanyanya to the point.

“Tentu saja tidak. Untuk apa kami membohongimu? Tidak penting sekali,” sahut Ahri cepat.

“Tapi bagaimana ini. Aku menginginkan gaun itu,” kini Yena mulai mengeluarkan rengekannya.

Tanpa sadar jemari-jemari Alexa mulai bertaut. Bahkan seolah tidak mengerti situasi yang sedang dihadapi oleh para gadis remaja itu, sang penjaga kasir itu terus saja mendesak mereka dan bertanya siapa yang akan membayar ini semua. Dengan perasaan sedikit tidak rela dan sekali hembusan napas, Alexa mengeluarkan black cardnya dan menalangi semua belanjaan itu.

“Baiklah, kali ini aku yang akan membayar semuanya.”

***

Entah kenapa sejak insiden peralihan pemegang peringkat pertama tempo hari, Alexa lebih memperketat cara belajarnya. Pertama, sebelum jam pelajaran pertama dibunyikan –yang biasanya dia habiskan hanya untuk mendengarkan musik atau tidur, kini gadis itu berkutat dengan bukunya. Kedua, disaat waktu istirahat pertama ataupun kedua, Alexa sesegera mungkin membawa salah satu notesnya dan dibawa ke perpustakaan untuk belajar disana. Belum lagi jika ditambah waktu kursusnya, perjalanan berangkat ataupun pulang sekolah, jam belajar rutinnya. Seakan gadis itu tidak mempunyai fokus lain selain buku-buku tebalnya.

Memang kehidupan Alexa dan ayahnya bisa dikategorikan sebagai keluarga berada. Gadis itu adalah anak tunggal dan dapat dipastikan semua permintaannya akan segera dituruti dalam waktu satu kedipan mata. Well… hanya saja tidak semudah itu Alexa meminta ini-itu pada ayahnya, timbal balik dalam hubungan interaksi manusia pasti berlaku kan? Maka dari itu, sebagai balasan dari fasilitas black card, kursus piano plus pelajaran, mobil, laptop dan semua yang diberikan ayahnya itu harus dibalasnya lewat prestasinya. So simple, right?!

Oleh sebab itu, ketika gadis itu mengetahui jika peringkatnya turun satu tingkat dalam semester ini, gadis itu sangat down. Bahkan ia sempat tidak memperhatikan pola makannya karena sibuk memperketat kegiatan barunya itu. Heol… sungguh gadis teladan.

***

Semua aktivitas Alexa yang kujelaskan sebelumnya tidak ada bedanya dengan saat ini. Saat ini gadis itu kembali sibuk bercumbu dengan buku-buku tebal milik perpustakaan dan sesekali tangan kanannya terlihat mencatat jika menemukan suatu hal penting. Disaat sibuk-sibuknya gadis itu bergelung dengan aktivitasnya, gadis itu dikejutkan oleh sebuah uluran tangan seseorang yang memberikan sekaleng jus strawberry kesukaannya. Apakah kau pikir gadis itu dengan segera mengambil jus itu dan meminumnya, mengingat jika perut gadis itu masih kosong untuk waktu yang sangat siang ini? Heol… repot-repot mengambilnya, bahkan gadis itu hanya melirik minuman kaleng itu sekilas dan kembali bergelung dengan buku-bukunya. Dapat Alexa dengar jika saat ini seseorang sedang menarik kursi tepat dihadapannya, namun ia tidak peduli.

Apakah aku sudah mengatakan jika Alexa adalah gadis yang bisa dikategorikan dingin jika bersama orang yang tidak dikenalnya?

Well… mungkin kini kau sudah tahu tanpa aku memberitahukannya padamu.

“Minumlah. Aku tahu kau belum mengisi perutmu pagi ini. Maaf, aku hanya bisa memberikan ini padamu,” ujar orang itu. Dari suaranya, terlihat sangat berat dan dapat dipastikan jika seseorang itu adalah… Oh Sehun?!

 

Sejenak Alexa mendongak dan memastikan jika pria dihadapannya sama seperti dugaannya. Dan tepat sekali… dia adalah Oh Sehun, musuh dan perebut posisi peringkat atasnya. Gadis itu jelas menampakkan wajah benci itu pada pemuda yang ada dihadapannya saat ini, namun anehnya sang korban malah menampakkan wajah tidak pedulinya seperti biasa.

Tak mau repot-repot membuang suara untuk berbicara dengan musuhnya, Alexa kini kembali menyibukkan diri dengan aktivitas tertundanya. Tapi meskipun Alexa mendinginkannya, sepertinya pemuda berkacamata itu tidak begitu peduli dengan semua itu. Pada kenyataannya pemuda itu masih sempat memperkenalkan dirinya secara resmi dihadapan seorang Alexa Choi, gadis yang menganggapnya sebagai musuh terbesarnya.

Hmm… aku Oh Sehun. Aku murid baru disini.”

Hening. Masih tetap seperti sebelumnya.

Well… Aku tahu kau pasti membenciku karena kudengar sejak semester tahun pertama sampai semester sebelumnya, kaulah yang memegang posisi teratas di sekolah ini. Namun sejak kedatanganku, posisi itu entah kenapa bisa jatuh ketanganku dan aku tahu kau pasti terkejut dengan semua perubahan ini.”

Dan kali ini, sepertinya berhasil. Alexa mulai mengangkat kepalanya dan menatapnya –masih dengan tatapan tajamnya.

“Tapi tujuan aku menghampirimu sebenarnya bukan untuk menjelaskan hal yang tidak penting ini. Jujur, aku tidak pernah merasa menyesal karena merebut posisi yang selama ini kau banggakan itu, karena kupikir kau tidak bisa terus menerus bersifat begitu egois memonopoli posisi ini. Sekali-kali kau harus berbagi dengan yang lainnya. Dan apa kau tahu? Aku bangga menjadi yang pertama dan mengalahkanmu, nona Choi.”

Mata Alexa seketika membelalak kesal mendengar ucapan santai Sehun. Apa-apaan ini? Berbagi dengan yang lainnya? Bersifat begitu egois? Hell… itu semua salah mereka sendiri yang tidak mau berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan sekarang murid beasiswa ini menyalahkanku karena kegagalan mereka? Cih…, batin Alexa mulai meledak.

“Apa urusanmu dan apa hubungannya denganku?” balas Alexa sengit, namun tetap berusaha mengekspresikannya dengan ekspresi datar yang dimilikinya.

Hm… hubungannya denganmu? Sebenarnya tidak ada,” Alexa makin menatapnya tajam dan hal itu semakin membuat Sehun gencar untuk membuat gadis itu geram padanya. “Hanya saja aku ingin mengingatkan sesuatu padamu. Mulai saat ini, mari kita bersaing secara sehat. Karena kupikir kita berdua sama-sama bergantung pada posisi itu. Kau akan kehilangan semua fasilitas yang ayahmu berikan jika kau kehilangan posisi itu, begitu juga denganku. Aku juga akan kehilangan beasiswaku jika aku tidak mendapatkan posisi itu.”

“Bagaimana kau bisa tahu jika aku akan kehilangan semua fasilitas yang diberikan ayahku jika aku tidak mendapat peringkat pertama?” tanyanya to the point.

Guessing…” sahut Sehun santai. “Melihat penampilanmu saat ini, kuyakin kau bukanlah dari keluarga sembarangan. Dan aku juga pernah mendengar melodi permainan pianomu yang begitu begitu lembut, kupikir kau tidak akan bisa melakukannya jika tanpa adanya kursus.”

Sehun beranjak dari duduknya. Pemuda itu melangkahkan kakinya santai dan perlahan menjauhi tempat dimana Alexa masih menatapnya dengan tajam. Namun belum sampai dua langkah ia berjalan, pemuda itu berbalik kembali.

Oh… satu lagi. Asal kau tahu saja, orang-orang yang saat ini mengaku sebagai sahabat terbaikmu, belum tentu mereka menyayangimu dengan tulus. Cepat atau lambat, kau akan mengetahui semua yang ada didalamnya.”

***

Asal kau tahu saja, orang-orang yang saat ini mengaku sebagai sahabat terbaikmu, belum tentu mereka menyayangimu dengan tulus. Cepat atau lambat, kau akan mengetahui semua yang ada didalamnya.

 

Perkataan Sehun siang tadi masih saja berputar didalam benak Alexa. Bahkan meskipun kini ia sedang mengemudi, namun pikirannya tidak lagi fokus kearah depan. Hingga pada akhirnya, mobil yang dikendarainya hampir saja menabrak tiang rambu lalu lintas sebelum Ahri berteriak dengan suara nyaringnya.

“ALEXA, AWAASS…”

Seolah tersadar dari pikiran yang menyabotase dirinya saat ini, gadis itu dengan cekatan menginjak pedal remnya. Dan berhasil! Mobil itu gagal menabraknya.

“ALEXA, APA KAU SUDAH GILA??!!” sembur Ahri langsung. Namun yang dibentak itu hanya menenggelamkan kepalanya diatas kemudi dan diam tidak menjawab pertanyaan itu.

Seakan mengerti situasi berat yang sedang dialami oleh sahabatnya itu, Yena menggoyangkan lengannya pelan dan mencoba membujuk agar kini ia mengambilalih kemudinya.

“Tidak. Aku bisa sendiri,” sahut Alexa sekenanya yang dijawab oleh gelengan kuat kedua sahabatnya.

“Tidak boleh. Ayo kita bertukar tempat sekarang juga. Aku yang akan membawa kemudinya dan lagipula aku juga tidak mau mati muda karena sebuah kecelakaan konyol.”

Lama Alexa tidak membalas, akhirnya gadis itu menyetujui ucapan Yena. Benar seperti yang Yena ucapkan sebelumnya, ia juga tidak mau mati muda untuk saat ini.

Ya, untuk saat ini.

***

Kejadian itu baru saja terjadi beberapa minggu yang lalu, namun sepertinya Alexa sudah tertular akan sifat khas neneknya, pikun. Ya… sebutan itu sangat pas untuk Alexa karena sepertinya gadis itu juga lupa dengan janji yang ia buat pada hari itu. Tentang… mati muda.

“Dad… I’m sorry. I can’t be proud you like yesterday. And Mom… Today I’ll follow you and live happily with you in heaven.”

 

Terbukti saat ini gadis itu telah memanjat atap sekolahnya dan bersiap akan melompat jika saja sebelum niat awalnya terwujud kini gadis itu merasa telah menindih seseorang. Tak pelak, kini air mata sudah membanjiri wajah cantiknya. Apakah aku sudah mati? Kenapa terasa begitu cepat?, pikirnya.

Gadis itu terus terisak kuat dan tetap pada posisinya semula –tidak berniat untuk berdiri sedikitpun–. Posisi gadis itu masih terus saja seperti itu sampai pada akhirnya gadis itu merasakan sebuah usapan lembut nan menenangkan di punggungnya. Seakan menyadari ia tidak sendiri, secepat kilat ia berdiri dan mendorong orang yang ditindihnya tersebut.

YAKK!!! APA YANG KAU-… Oh Sehun?!” serunya lirih diakhir ucapan.

Orang didorongnya sekaligus dipanggilnya dengan nama Oh Sehun tersebut masih mengusap punggungnya yang terasa sedikit perih. Oh tidak!! Bisa kupastikan saat ini seragamku robek karena bergesekan dengan lantai, pikir Sehun kesal.

“APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! KAU INGIN BERBUAT MESUM PADAKU?!”

“SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA SEPERTI ITU PADAMU. APA YANG KAU LAKUKAN SAAT INI? KAU PIKIR BUNUH DIRI ADALAH CARA YANG TEPAT UNTUK LARI DARI MASALAHMU? TERNYATA KAU SANGAT BODOH, ALEXA CHOI!!!”

Jujur saja, mood Sehun benar-benar buruk saat ini. Bayangkan saja, setelah menyelamatkan orang yang bisa dibilang musuhmu dan seragammu robek karenanya, sekarang kau dituduh ingin berbuat mesum padanya? Cih… menyebalkan sekali.

Alexa kembali tertunduk dalam, dari posisi Sehun terduduk saat ini pemuda itu masih bisa melihat adanya aliran sungai kecil yang membanjiri wajah Alexa. Entah kenapa, hatinya menjadi tergerak untuk berdiri dan merengkuh tubuhnya. Entah sejak kapan Alexa kini sudah terisak meronta didalam pelukan pemuda itu, sedangkan Sehun hanya bisa mendekap dengan erat tubuh kecil itu.

Uljimma,” bisiknya lembut tepat didepan telinga Alexa.

“Lepaskan aku!”

Bugh

Satu pukulan yang diberikan Alexa tepat di dada bidang Sehun, namun pemuda itu masih menghiraukannya.

“Biarkan aku menyusul eomma di surga, Oh Sehun!”

Bugh…

 

Pukulan kedua…

“Untuk apa aku hidup jika semua orang disini tidak menginginkanku dan appa kini sudah tidak bisa lagi membahagiakanku. Hanya eomma yang bisa… Biarkan aku menyusulnya. Lepaskan aku…”

Bugh…

Pukulan ketiga dan… Cukup!

Sehun sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapan menyedihkan itu. Seolah-olah semua akan baik-baik saja dan semua orang akan bahagia jika gadis itu meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

Tidak. Kau salah, Alexa. Aku menginginkanmu ada disisiku.

 

***

“Alexa, ayo kita pulang.”

Sudah kesekian kalinya Sehun mencoba membujuk gadis bernama Alexa Choi itu agar mau pulang bersamanya. Namun gadis itu tetap pada posisi yang dibentuknya sejak tadi, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.

“Alexa…” lirihnya lagi, namun kini dengan nada sedikit lebih memohon dari sebelumnya.

“Aku tidak mau pulang, Oh Sehun. Rumahku bukan disana. Rumahku tidak kumuh seperti itu!!!”

Sehun memejamkan matanya tepat disaat gadis itu meledakkan emosinya. “Kau tidak bisa seperti ini. Ayo kita pulang sekarang.”

Dengan sedikit rasa tidak sabaran Sehun menarik pergelangan tangan kanan Alexa, namun gadis itu dengan cepat menepisnya.

“ALEXA!!” bentak Sehun kehilangan kesabarannya.

“Sudah kubilang, aku tidak mau pergi ke rumah itu, Oh Sehun. Rumah kumuh itu bukan rumahku.”

“Mau tidak mau kau harus menerima keadaan ini, Alexa. Appamu akan sedih dan terus menunggumu-…”

APPAKU TIDAK ADA DIRUMAH ITU! DIA TIDAK MENUNGGUKU DAN DIA ADA DIDALAM PENJARA SAAT INI! TIDAKKAH KAU SUDAH MENDENGAR BERITA ITU? APA KAU SUDAH TULI SEHINGGA KAU TIDAK BISA MENDENGAR SEMUANYA?!”

Sehun terdiam mendengar teriakan putus asa milik Alexa. Baru pertama kalinya Sehun melihat seorang Alexa Choi –gadis yang terkenal dingin, dan notabene adalah musuh terbesarnya– sekacau ini. Gadis itu terduduk di lantai dingin rooftop sekolahnya. Tangis penuh keputusasaannya terdengar menggema di seluruh ruangan itu. Diam-diam hatinya sakit melihat gadis yang disayanginya begitu kacau seperti sekarang.

“Alexa…”

“Aku takut, Sehun… Aku takut. Disaat aku menyusuri blok perumahan kumuh itu, seluruh tatapan nakal itu seketika mengintimidasiku. Dari tatapan itu, aku bisa melihat jika mereka ingin menerkamku saat itu juga. Aku takut, Sehun. Aku tidak mau pulang ke rumah itu.”

“Lalu aku harus berbuat apa agar membuatmu berhenti seperti ini, Alexa? Katakan, Alexa. Katakan semuanya. Hatiku ikut merasa sakit jika kau terus saja bersikap seperti ini.”

Kini Sehun ikut mendudukkan dirinya tepat dihadapan gadis itu dan saat ini giliran Alexa-lah yang terpaku mendengar ucapan memohon Sehun yang dilontarkan padanya. Gadis itu sedikit bingung dengan apa yang dikatakan pemuda itu barusan. Dan bahkan mata bulatnya sedikit mengerjap saat memandang kearah aliran sungai kecil yang mengalir dibalik bingkai kacamata milik pemuda itu.

“Katakan, Alexa. Jangan membuatku semakin tersiksa dengan sikap burukmu akhir-akhir ini. Percayalah aku akan mengabulkan semuanya untukmu karena aku… aku…”

Alexa semakin menatap Sehun dengan wajah penasaran. “Karena apa?”

Sehun sedikit tidak nyaman dengan tatapan itu. Namun hatinya terus mendesaknya agar segera mengakui perasaan sebenarnya. Ya sebenarnya. Bukan perasaan dengan sikap dingin yang ditujukan pada gadis itu selama ini.

“Karena aku… aku menyayangimu, Alexa.”

Alexa sedikit tidak percaya dengan lirihan Sehun barusan. Gadis itu terus terdiam dan tak lama kemudian tertawa remeh, yang membuat Sehun kembali menatapnya iba.

“Tidak mungkin. Semua orang membenciku. Tidak ada yang menyayangiku dengan tulus saat ini, semuanya hanyalah kedok belaka. Tidak terkecuali kau, Oh Sehun!”

Sehun tahu pengakuannya tidak akan mudah dipercaya begitu saja oleh Alexa, mengingat kepercayaan gadis itu telah dirusak dan dileburkan oleh orang-orang yang telah dianggap sahabatnya.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jika orang-orang yang saat ini mengaku sebagai sahabat terbaikmu, belum tentu mereka menyayangimu dengan tulus? Dan saat ini kau mengatakan jika kau menyayangiku? Bukankah semua itu terlalu tidak masuk akal? Musuh terbesarku menyelamatkanku dari aksi bunuh diri yang kulakukan dan mengatakan jika dia menyayangiku. Haha… Bukankah ini terdengar sangat lucu? Tapi sayangnya, aku tidak tertarik dengan lelucon bodohmu, Oh Sehun. Bisakah kau membuat lelucon yang lebih baik dan bisa membuatku tertawa lepas dan tidak semakin membuatku terpuruk seperti ini? Bisakah?!”

Sehun terhenyak dengan ucapan panjang lebar yang diberikan Alexa tersebut. Saking terhenyaknya lidah pemuda itu sampai kelu untuk mengeluarkan suaranya sedikit saja. Tidak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya, Alexa kembali tertawa kecil. “Sudah kuduga kau tidak bisa memberikanku lelucon yang lebih bagus, Sehun-ssi,” ucapnya seraya mengambil tas ranselnya dan bersiap untuk beranjak dari posisinya saat ini.

Namun tidak secepat itu, karena Sehun segera meraih tangan kirinya dan menarik tubuhnya sehingga saat ini pemuda itu memeluknya dari belakang.

“Asal kau tahu saja, Alexa. Aku berbeda dengan sahabat baik yang kau miliki sebelumnya itu…”

“Mereka bukan sahabatku. Aku tidak punya sahabat brengsek seperti mereka.”

Whatever…” tandas Sehun cepat. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya. “Aku benar-benar menyayangimu. Ah tidak… Lebih tepatnya, aku sangat mencintaimu, strawberry girl.

Strawberry girl…

 

Sepertinya Alexa tidak asing dengan nama panggilan itu, karena memang itu adalah panggilan kecilnya yang diberikan oleh pemuda kecil yang ia juluki sebagai Bubble boy.

 

Apakah Sehun adalah Bubble boy kecilnya?

Ah… Sudahlah itu tidak begitu penting untuk dibahas saat ini.

“Benarkah semua itu? Kau tidak mencoba untuk membohongiku seperti yang lainnya, bukan?”

Sehun menggeleng mantap dan jawaban itu lebih dari cukup dari jawaban yang diinginkan oleh Alexa saat ini.

“Kau mengatakan akan menuruti semua permintaanku kan? Kalau begitu, aku mempunyai satu permintaan penting padamu. Bisakah kau membawaku pergi dari rumah kumuh itu dan tinggal bersamamu mulai hari ini?”

— To Be Continue —

Well... ketemu lagi sama author ter-invisible... hahaha
Sebelumnya maaf banget, bukannya bawa last chapt nya Remember malah bawa FF baru yang makin GJ...
Jujur, sebenarnya aku lagi banyak tugas dan aku butuh hiburan. Dan hiburannya adalah jeng... jeng...
FF Aneh ini...
Sekali lagi maafkan aku...

Oh ya, aku juga mau ngaku satu hal...
Sebenernya aku udah bau-bau aroma hiatus pertamaku /apaan sih?/
Secara sih, jadi murid baru plus orang tuaku nyuruh aku berenti nulis, membuat kesimpulan berat ini muncul 
/nah GJ lagi/
Jadi kemungkinan setelah aku bawa Remember last chapt, keinginan hiatus-ku bakal terlaksana... Hohoho
Entah sampai kapan aku juga belum tahu, mungkin bakal ada FF hiburan efek mood jelek kaya gini yang tiba-tiba muncul
ditengah-tengah acara hibernasiku... hehehe

Mungkin segitu aja dariku...
Last, Big thanks and See ya... *big hug*

Warm regards from me ^^

-- BaekMinJi93 --
Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s