[Twoshoot – 2] My Rival Is The Real Bestfriend

my-rival-is-the-real-bestfriend2_

BaekMinJi93’s Storyline

Starring with OC’s Alexa Choi and EXO’s Oh Se Hun

– Friendship – School Life – Soft-Romance

Stroryline is purely mine…

Be a good readers and Don’t be plagiarism, guys~

Big thanks to kak Mutia.R. for the amazing poster ^^

Before

“Anak-anak mulai hari ini kita akan tinggal bersama eonnie cantik disamping ahjumma. Silahkan perkenalkan dirimu, eonnie.”

Alexa seketika mengeluarkan senyum termanis dan terhangat yang pernah ia miliki saat Ahn ahjumma mempersilahkan gadis itu untuk memperkenalkan dirinya dihadapan kumpulan dari malaikat-malaikat kecil yang tak berdosa itu.

Annyeong… Jeoneun Alexa Choi imnida. Bangapta,” ucapnya riang yang disambut dengan sambutan lucu khas milik malaikat-malaikat kecil dihadapannya.

Jika dilihat dari ekspresi Sehun saat ini, sepertinya pemuda itu sedikit terkejut dengan senyuman hangat itu. Sehun tidak pernah menyangka jika Alexa akan begitu cepat berbaur dengan malaikat kecil penghuni panti asuhan itu. Yang Sehun pikirkan selama ini, Alexa adalah gadis manja yang tidak pernah menyukai anak-anak seperti para gadis manja yang dikenalnya.

“Alexa eonnie sangat cantik. Jika Jinah tumbuh besar nanti, apa Jinah akan cantik seperti Alexa eonnie?” celetuk salah satu diantara sekian malaikat kecil disana.

Lagi-lagi senyum Sehun terukir lebar ketika melihat reaksi Alexa yang sangat berbeda –atau memang dia tidak pernah tahu?– dari yang ia lihat ketika di sekolah. Alexa mengusap lembut puncak kepala Jinah dan menjawabnya ramah. “Tentu saja. Jinah akan tumbuh besar dan menjadi gadis tercantik di seluruh Korea Selatan.”

Gadis kecil itu membulatkan matanya lucu ketika mendengar jawaban Alexa, “Benarkah?!” dan Alexa hanya menjawabnya dengan anggukan mantap dan senyuman manisnya.

Dan sekali lagi, Sehun tertegun melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah itu.

***

Entah kenapa Sehun tidak bisa tidur malam ini, jadi ia memilih mencari udara segar dan berniat duduk di halaman belakang panti asuhan –tempat dimana ia tinggal selama ini–. Namun sesampainya disana, ia mendapati sosok gadis kecil itu lagi. Tanpa pikir dua kali, pemuda itu mulai melangkah menghampirinya.

“Kau belum tidur?” tanyanya pada gadis itu seraya menempatkan dirinya diatas rerumputan tepat disamping gadis itu.

Gadis itu –yang tak lain adalah Alexa– menoleh dan menatapnya. Hanya sekilas dan kemudian kembali menatap kearah langit guna memandang indahnya gemerlap cahaya bintang di malam hari. “Kau sendiri bagaimana?”

Sehun mengangkat bahunya acuh, “Insomnia.”

Dan Alexa hanya menjawabnya dengan anggukan tak kalah acuh.

Keadaan kembali hening. Keduanya kini tengah tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Tapi keadaan itu tak berlangsung lama, sebelum akhirnya Sehun membuka suaranya terlebih dahulu.

“Kau senang tinggal disini?”

Lagi-lagi Alexa hanya mengangkat bahunya kecil. “Ya begitulah.”

“Maaf aku tidak bisa membawamu ke tempat yang lebih-…”

“Setidaknya aku tidak lagi khawatir dengan tatapan buas itu. Thanks.”

Alexa sengaja memotong perkataan Sehun dengan cepat karena ia takut jika ia akan lebih canggung lagi saat menyatakan terima kasih di lain hari. Dan Sehun hanya menjawabnya dengan kata ‘tidak masalah’ dengan volume yang amat lirih.

Hening.

Sebenarnya didalam hati Sehun atau Alexa, mereka mengatakan jika mereka sangat benci dengan suasana canggung ini. Namun mau bagaimana lagi?

Tidak tahu harus berbuat apa lagi, perlahan Alexa mulai membaringkan tubuh kecilnya diatas rerumputan itu. “Sejak kapan kau tinggal disini?”

Sebenarnya Alexa juga tidak tahu kenapa dari sekian banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya saat ini, malah pertanyaan itulah yang harus keluar. Lama Sehun tidak membalasnya, sampai akhirnya Alexa mencoba meralat perkataannya kembali.

“Lupakan.”

“Aku tinggal di tempat ini sejak usiaku baru saja menginjak 8 tahun. Asal kau tahu saja, saat itu ayah dan ibuku mengalami kecelakaan pesawat ketika perjalanan pulang dari Vancouver karena urusan bisnis mereka. Setiap malam aku selalu menangis meratapi kepergian beliau. Sampai suatu ketika, salah satu paman dari keluarga ayahku mengatakan jika aku harus ikut pergi dengannya, karena paman mengatakan jika ia menjanjikan sebuah tempat yang indah untuk ditunjukkannya padaku. Dan bodohnya diriku yang saat itu menuruti permintaannya tanpa bertanya lebih lanjut. Namun setelah sekian lama aku mulai berpikir, tempat ini tidaklah buruk seperti perkiraanku sebelumnya. Setidaknya tempat ini adalah tempat terindah yang dimaksudkan pamanku saat itu,” papar Sehun panjang lebar disertai tawa sedihnya diakhir kalimat.

Alexa sedikit tertegun dengan pengakuan yang Sehun berikan padanya. Diam-diam, setidaknya ia sedikit bersyukur saat ini ayahnya masih berada disampingnya, meskipun ibunya telah tiada. Hatinya sedikit terhenyak melihat reaksi Sehun saat ini, memandang kearah langit dengan wajah tanpa ekspresinya. Rasa bersalah pun mulai muncul ketika ia menyadari betapa bodohnya ia membuka luka lama yang ia yakini telah Sehun pendam sejak lama dihati terdalamnya.

“Alexa…”

Merasa namanya dipanggil kembali, gadis itu menoleh kearah sumber suara. “Ada apa?”

Sehun tidak langsung menjawab, jelas sekali jika pikirannya sedang sesak untuk saat ini. Entah apa itu. “Seharusnya kau bersyukur masih mempunyai orang tua yang ada disampingmu. Jangan sampai jika sudah seperti diriku, kau baru merasakan suasana hangat yang disajikan oleh mereka.”

Well… setidaknya itu yang aku pikirkan saat kau menceritakan masa lalumu,” balas gadis itu jujur.

Sehun tersenyum tipis mendengar ucapan gadis itu. Meskipun gadis itu terlihat kecewa dengan apa yang dialami oleh ayahnya saat ini, namun dari sorot mata yang pemuda itu lihat, Alexa tidak pernah menyesal memiliki seorang ayah seperti ayahnya yang membuatnya hadir di dunia ini.

“Jangan pernah marah dengan ayahmu karena masalah ini. Aku percaya ayahmu tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Kurasa ayahmu dijebak oleh seseorang.”

Lagi-lagi Sehun mencoba untuk memberi semangat pada gadis cantik berdarah Korea dan Inggris tersebut.

In actually, I never thought to hate my father. Because I know it’s not true and I love him so much.”

“Good girl.”

Sehun tersenyum bangga mendengar penuturan yang dilontarkan gadis cantiknya barusan. Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangannya berniat untuk mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut. Dan seperti dugaan yang ia buat didalam hatinya, Alexa menatap kosong usapan diatas kepalanya namun ia tidak mencegah ataupun menolaknya.

“Sehun.”

Suara lembut itu memasuki indera pendengaran Sehun dan membuatnya seketika tersadar dengan perlakuannya saat ini. Dengan segera, pria itu menarik tangannya dari puncak kepala gadis itu.

“A-ada apa?”

Sial. Kenapa aku jadi gugup seperti ini?

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku ingin memintamu untuk menemaniku ke kantor polisi besok sepulang sekolah. Apa kau ada acara?”

***

Daddy…” seru Alexa ceria setelah kedua matanya menangkap sosok paruh baya yang dikenal sebagai ayahnya.

Pria paruh baya itu tersenyum hangat melihat keadaan sang putri tercintanya yang jauh dari kata ‘baik-baik saja’. Alexa segera menghambur kedalam pelukan hangat sang ayah. “I miss you, daddy. Apa pak polisi disini menjaga daddy dengan baik seperti Alexa menjaga daddy?” tanya gadis cantik itu dengan nada merajuk, yang dibalas dengan tawa kecil ayahnya.

Alexa melepas pelukannya dan menyembunyikan air mata yang mencoba mendesak untuk keluar dari sarangnya. Kedua tangan rentan itu menangkup pipi halus milik gadis cantik itu. “Alexa, bagaimana keadaanmu? Pipimu semakin terlihat lebih kurus dari kemarin. Jangan mengatakan jika anak gadis daddy ini terlalu semangat belajar dan tidak memperhatikan pola makannya.”

Senyum manis terukir di wajah itu. Bahkan disaat-saat keadaan ayahnya seperti ini, beliau masih saja mengkahwatirkan keadaan puteri kecilnya. “Don’t worry, daddy. Aku tidak separah itu.”

Namun raut sedih ayahnya itu tidak bisa memungkiri jika ia merasa bersalah dengan keadaan anak gadisnya saat ini. “I’m sorry, dear. Karena daddy, kau tidak bisa hidup seperti dulu. Kau terpaksa berhenti dari kursus pianomu padahal daddy tahu jika kau sangat ingin menjadi pianist sejak kecil.”

“Aku tidak pernah ingin menjadi pianist, dad. Cita-citaku dokter sejak kecil,” ralat Alexa cepat.

“Ya… cita-cita utama menjadi dokter dan pianist hanyalah kerja sambilan. Hahaha…” tawa itu terdengar menyedihkan di telinga Alexa. “Dan sekali lagi maafkan daddy. Daddy menghancurkan semua impian besarmu itu. Daddy tidak bisa menjanjikanmu untuk sekolah dokter yang terbaik, karena daddy-…”

Satu tetesan air mata milik Tuan Choi sudah terjatuh dengan malangnya di lantai.

No problem, dad. Daddy tidak perlu mengkhawatirkan itu. Daddy percaya bukan jika aku bisa mendapatkan beasiswa untuk perguruan tinggi kelak?”

I’m sorry, dear.”

No, dad. Sudah kubilang ini semua bukan sepenuhnya kesalahan daddy. Tuhan hanya ingin menguji keluarga kita, karena Tuhan percaya kita berdua bisa melewati ujiannya dengan tabah. Seiring berjalannya waktu, semua itu akan hilang seperti angin lalu, dad.”

Lagi-lagi Alexa menghambur kedalam pelukan sang ayah. Air matanya kini tak bisa ia bendung lagi. Semua itu terasa mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Tak hanya Alexa, Tuan Choi pun juga ikut menitihkan air matanya karena terharu seklaigus merasa bersalah pada putri kecilnya.

Alexa melepas pelukannya dan sedikit menjauh berniat untuk menarik tangan seseorang yang tak jauh darinya. Gadis itu tersenyum lebar.

Daddy, perkenalkan ini Oh Sehun. Dia…” gadis itu tampak ragu melanjutkan perkataannya. Sedangkan yang diajak bicara menatap dnegan tatapan menunggu. Dengan sekali hembusan napas, gadis itu mulai melanjutkan dengan yakin. “Ini Oh Sehun. Dia adalah teman baruku sekaligus sahabat terbaikku, daddy.”

Sehun memberi hormat dihadapan Tuan Choi sebelum memperkenalkan dirinya secara formal. “Annyeonghaseyo, ahjussi… Jeoneun Oh Sehun imnida. Bangapseumnida.”

Oh Sehun.

Sepertinya aku melupakannya kali ini. Benar… sesuai pembicaraan mereka semalam, pemuda berkacamata bulat itu menemani Alexa hari ini. Dari raut wajah yang Tuan Choi berikan, sepertinya beliau sedikit familiar dengan nama tersebut. Seakan bisa membaca pikiran ayahnya, gadis itu kembali berujar, “Dia murid baru yang sering aku ceritakan pada daddy…”

Tubuh Sehun seakan melayang mendengar ucapan Alexa barusan, namun itu tidaklah bertahan lama karena gadis itu sudah kembali menjatuhkannya ke dasar karena lanjutan dari ucapannya. “Dia musuh terbesarku, daddy. Dialah orang yang merebut posisi terpenting itu dariku, daddy. Bukankah dia terlihat sangat menyebalkan?”

Alexa sengaja bersikap seakan-akan sedang merajuk pada ayahnya. Mendengar laporan gadis itu pada ayahnya, Sehun hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan ayah Alexa? Beliau hanya tertawa geli melihat tingkah kekanak-kanakkan putrinya dan juga sikap canggung temannya.

***

Waktu kian bergulir, tanpa terasa sudah setengah tahun Alexa tinggal bersama Sehun dan para malaikat kecil itu di panti asuhan. Dan kini sedikit banyak Alexa sudah bisa tersenyum lebar daripada sebelumnya. Yah… meskipun seiring berjalannya waktu, seiring juga penderitaan pembully-an yang dialami Alexa. Sejak hari dimana berita tentang ayahnya masuk penjara, berbagai hujatan pun diterima Alexa setiap harinya.

“Aku tidak menyangka ayahmu akan berbuat hal serendah itu. Kupikir ayahmu memiliki sifat anti-korupsi.”

Huh! Tentu saja orang sepertinya tidak akan menolak jika diberi uang sebanyak itu. Bukankah perkataanku benar, nona Choi?”

“Aku menyesal telah menerima semua pemberian yang diberikan olehnya. Padahal semua itu berasal dari hasil korupsi.”

“Kau benar, Yena-ya. Akhir-akhir ini entah kenapa aku menjadi berpikir akan satu hal. Apakah prestasi dan peringkat pertama yang diraih oleh putri kesayangannya ini hanyalah hasil dari suapan ayahnya untuk para guru? Jika benar seperti itu, wah… caramu benar-benar kotor, Alexa Choi.”

“Untung saja Sehun merebut posisi itu darinya. Mungkin jika tidak, sisa uang ayahmu akan habis hanya untuk memberi suapan pada para guru. Hahaha…”

Hujatan-hujatan itu terus saja tertangkap di indera pendengaran Alexa, namun gadis itu tidak menanggapinya dan hanya menatap kedua mantan sahabatnya itu dengan tatapan datar –sifat khas dari seorang Alexa Choi–. Kedua parasit –mungkin itu terdengar lebih baik– itu masih saja tertawa dengan lelucon menyedihkannya.

“Apakah kalian sudah puas menertawaiku?” ucap Alexa datar dan… dingin. Kedua gadis itu seketika menghentikan tawanya dan menatap Alexa dengan tatapan marah.

YAK! Apa maksudmu?!” ujar Yena dengan nada sedikit meninggi.

“Aku bertanya, apakah kalian sudah puas menertawaiku? Jika sudah, minggirlah. You block my way, dude,” sahut gadis itu tenang, namun sedikit ada nada menantang diakhir kalimatnya.

Tanpa basa-basi, Alexa segera melangkah dan melewati kedua gadis parasit itu dengan sedikit menabrak bahunya. Alexa terus melangkah santai dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun didalam hatinya terus merutuki dirinya karena telah mempercayai kedua gadis busuk itu sebagai sahabatnya. Namun langkah santai Alexa tidak bertahan lama setelah gadis itu merasakan sakit diarea kepalanya.

Kau benar, Yena dan Ahri lah pelakunya. Kedua gadis parasit itu bersama-sama menjambak rambut indah milik Alexa dengan keras. Alexa dijambak dan ditarik menuju ruang loker kembali. Gadis itu terus meronta, namun tetap tidak dihiraukan oleh mereka. Sesampainya di ruang loker, tubuh Alexa dihempaskan terdengar suara mengaduh dari bibir kecilnya. Yena maupun Ahri kembali mengepungnya dan menatapnya marah.

“Kau menantang kami?” seru Ahri dengan nada mengerikan, tak pelak membuat Alexa menutup matanya kaget.

Namun siapa sangka didalam keadaan terjepit seperti itu, Alexa masih saja membalas tatapan itu dengan tatapan tenang dan misteriusnya. “Aku tidak menyangka kalian akan tega berbuat seperti ini padaku. Aku juga tidak menyangka bahwa orang-orang yang selama ini aku anggap-…”

“Kami tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat!” potong Ahri yang membuat Alexa tertawa geli. Kedua gadis itu menatapnya aneh. Apakah gadis ini sudah gila?

“Baguslah kalau kalian menyadarinya,” senyum miring tercetak di bibir merah jambunya. “Apakah kau pernah berpikir bahwa saat ini Yena juga tersiksa karena sikap egoismu, nona Shin? Yena pernah bercerita padaku bahwa sebenarnya-…”

Belum sampai Alexa menyelesaikan kalimatnya, sebuah pekikan terdengar dari arah Yena. “Aku tidak pernah bercerita apapun dengannya. Dia bohong, Ahri-ya.”

Alexa semakin melebarkan senyumnya melihat reaksi panik milik Yena bercampur dengan tatapan bingung dari Ahri. “Benarkah? Bukankah kemarin malam kau bercerita padaku bahwa Ahri terus memerasmu dengan meminta barang-barang mewah padamu, nona Jang? Kemarin kau juga mengatakan jika tabunganmu saat ini hampir habis karena ulah sahabat kesayanganmu itu? Apa kau tidak merasa menyesal? Ingat, penyesalan datang diakhir, Jang Yena. Aku khawatir kau akan berubah secara tiba-tiba sepertiku karena dia. Aku tidak mau kau mengalaminya sepertiku, buddy.”

Alexa mengatur raut wajahnya seolah benar-benar terharu dengan ucapannya barusan. Yena masih menatapnya panik dan amarah Ahri kini mulai mencapai puncak terlihat dari wajahnya yang memerah.

“Ahri-ya, ini salah paham. Aku tidak pernah berkata seperti itu dengannya. Dia hanya membual dan mencari-cari alasan untuk membela dirinya. Kumohon percayalah padaku, Ahri-ya.”

Yena masih saja sibuk untuk membujuk Ahri, sedangkan yang dibujuk terdiam seribu bahasa dan menatap lurus pada Alexa –yang sayangnya, masih gadis itu balas dengan senyum kemenangannya–. Tanpa diduga sebelumnya, Ahri menampar pipi Alexa dengan keras sehingga tubuh gadis itu sedikit terhuyung dan hampir saja terjatuh, jika saja tidak ditahan oleh gerakan refleks milik Yena. Ahri yang melihat sahabatnya menolong musuh terbesarnya saat ini merasa cemburu dan kesal.

“Kenapa kau menolongnya, Yena-ya? Kau mengatakan jika aku harus mempercayaimu dan sekarang kenapa kau seolah-olah ada di pihaknya? Kau benar-benar gadis labil, Jang Yena!”

Keadaan sempat hening lama, sebelum terdengar suara isakan kecil yang bersumber dari pemilik nama lengkap Jang Yena itu. “Sebenarnya semua yang dikatakan Alexa benar. Aku muak dengan sikapmu yang selalu memeras uang tabungan kami. Dan kami tahu, kedua orang tuamu juga termasuk keluarga berada namun sangat perhitungan bila menyangkut keperluan pribadimu. Tapi kau tidak bisa seperti ini, Shin Ahri. Kau tidak bisa melampiaskan semuanya pada kami, seolah kami berdua adalah bank berjalan yang selalu sanggup menuruti permintaanmu. Bahkan asal kau tahu saja, dibandingkan barang-barang dirumah, barang-barangmu jauh lebih mewah daripada milikku. Aku hanya ingin meminta satu permintaan padamu, kumohon berhenti bersikap seperti ini.”

Yena kini sudah terisak dan menangis sepenuhnya dan Alexa tidak tahu harus berbuat apa selain hanya memeluknya. Sedangkan Ahri? Gadis hanya terdiam dan terpaku melihat ungkapan isi hati kedua temannya itu. Didalam hati kecilnya Ahri sedikit merasa bersalah, namun perasaan gengsi lebih mendominasinya.

“Aku membenci kalian!” tandas Ahri dan berlalu pergi.

Yena terduduk dan menangis dengan keras. Alexa mencoba menenangkannya, namun tetap saja itu tidak berhasil.

“Maafkan aku, Alexa. Sungguh maafkan aku. Aku tidak pernah berniat berbuat seperti itu padamu. Ahri yang memaksaku. Kumohon percayalah padaku.”

“Iya, aku percaya padamu. Sudahlah berhenti menangis,” hibur Alexa dan hal itu sedikit membawa pengaruh besar pada Yena, gadis itu tidak menangis secara berlebihan seperti tadi.

Disaat kedua gadis itu tenggelam dalam kesibukannya, tiba-tiba sebuah suara memanggil nama salah satu dari mereka. Dan Alexa sungguh mengenali suara itu. Dia adalah…

“Sehun? Ada apa?” tanya Alexa lembut, sedangkan Yena menatap gadis itu dengan heran. Ini pertama kalinya Yena melihat seorang Alexa berujar lembut pada seorang pemuda, terlebih lagi adalah seseorang yang Alexa anggap sebagai musuh terbesar dalam hidupnya.

Sehun melirik sekilas kearah Yena dengan tatapan dingin. Yah… Yena menyadarinya, Sehun pasti kecewa dengan apa yang dilakukannya bersama Ahri akhir-akhir ini pada Alexa. Sehun menarik lengan Alexa yang membuat gadis itu sedikit menjauh dari Yena. “Kenapa kau bersama dengannya? Apakah dia menyakitimu?” tanya Sehun khawatir.

Alexa tertawa geli, “Kau berlebihan, Sehun-ah. Aku tidak-…”

“Astaga kenapa pipimu memar seperti ini? Yak! Jang Yena, apa yang kau lakukan pada kekasihku?”

Baik Alexa ataupun Yena terdiam mendengar ucapan gila Sehun. Rona merah kini mulai menghiasi pipi gadis berponi depan itu. Gadis itu semakin salah tingkah ketika sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sahabatnya, “Hah?! Kekasih?! Yak! Alexa, kau berhutang satu cerita padaku.”

Alexa tergagap, “Hutang? Apa maksudmu? Ah… sudahlah. Ayo kita pulang sekarang, Sehun-ah. Aku lelah.”

“Tidak. Kita tidak bisa pulang sekarang juga,” sahut Sehun cepat dan tidak mengalihkan pandangan dinginnya pada Yena sedikitpun. Hal itu sedikit membuat Alexa menggigit bibirnya khawatir.

“Ke-kenapa?” tanya gadis itu lagi dengan nada gugup.

“Karena kau harus bertemu dengan kepala sekolah sekarang.”

“Untuk apa? Apakah aku-… Yak! Oh Sehun!

Belum sempat Alexa menyelesaikan kalimatnya, Sehun menarik lengannya dan berlalu dari ruang loker itu.

KAU BERHUTANG PADAKU, ALEXA!”

“Kau berhutang padaku, Strawberry girl.”

Satu kalimat yang sama namun berbeda intonasi dan sebutan. Satu dari Jang Yena dan satu dari Oh Sehun. Oh tidak… Entah kenapa Alexa terserang migrain mendadak saat ini.

***

Alunan melodi itu terus saja terdengar dan bersumber dari sumber yang sama. Alexa. Ya, gadis itu sedang meluangkan hobbinya pada piano yang ada di panti asuhan tempat ia tinggali saat ini. Entah apa yang membuatnya begitu rindu dengan moment seperti ini. Tuts-tuts itu terus melantunkan irama lagu yang mewakili perasaannya saat ini, First Love yang dipopulerkan oleh penyanyi asal negeri seberang, siapa lagi kalau bukan Utada Hikaru. Gadis itu tahu, jika lagu itu sebenarnya memiliki makna yang berbeda dengan apa yang dirasakannya saat ini, namun ia tidak peduli. Yang terpenting saat ini rasa rindunya terlepaskan begitu saja.

Disaat gadis itu tenggelam dalam permainannya, tiba-tiba ia merasakan kedua tangan yang melingkari pinggangnya dengan lembut dan disusul dengan sebuah kecupan yang diberikan di pipi kanannya. Seketika ia menghentikan permainannya dan menatap sekitarnya. Aman. Satu kata itulah yang tercetak di benaknya.

Alexa berbalik dan memukul pelan tubuh pelaku dari semua itu seraya berbisik pelan, “Kenapa kau terus saja melakukan semua itu? Bagaimana jika ada orang yang tahu? Terlebih lagi jika ibu tahu, kita akan terkena ceramah panjangnya, Bubble!

Sehun terkikik geli dan mencium sekilas pipi gadis itu untuk yang kedua kalinya. “Tenang saja, keadaan aman. Ibu dan anak-anak sudah tidur sejak sore tadi. Jadi aku bebas bersamamu, kan?”

Pipi Alexa lagi-lagi memerah setiap Sehun melontarkan aksi rayuan tidak mutunya itu, gadis itu berbalik dan menghadap piano kesayangannya kembali guna menyembunyikan rona merah itu. Jemari lentiknya memainkan tuts-tuts itu dengan asal dan tidak berniat sedikitpun untuk melanjutkan melodinya yang sempat terganggu itu.

“Alexa.”

Hm.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu saja.”

Keadaan sempat hening sejenak, namun meskipun begitu tautan yang Sehun berikan pada pinggang gadis itu masih saja tidak berubah dan masih enggan untuk ia lepaskan.

“Apa yang dibicarakan kepala sekolah sore tadi padamu?”

Jemari itu seketika menghentikan aktivitasnya. Sehun yang melihat reaksi gadis itu, menampakkan raut sedihnya.

“Tidak ada apa-apa,” sahut Alexa cepat, namun terdapat nada menahan tangisnya didalam sana.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu padaku. Kumohon ceritakan padaku.” Alexa menggeleng pelan sebagai jawabannya. “Apa itu tentang tawaran beasiswa ke London yang kau bicarakan padaku tempo hari lalu?”

Tubuh Alexa seketika menegang. Bagaimana ia bisa tahu?, pikirnya tak percaya.

“Alexa, jawab aku,” tuntut Sehun lagi dan mau tak mau Alexa mengangguk kecil karena memang itulah kebenarannya.

“Maafkan aku, Sehun,” lirihnya kecil dan kali ini bercampur isakannya.

Sehun membalik badan gadis itu dan memeluknya erat. “Hei. Kenapa kau harus meminta maaf. Bahkan aku belum bertanya padamu, apakah kau menerima tawaran itu atau tidak.”

“Maafkan aku. Sungguh maafkan aku.”

Hanya itu yang bisa Alexa katakan saat ini. Sehun bisa menyimpulkannya sendiri, gadis itu menerimanya meskipun ia tidak mengatakan secara langsung padanya. Tak bisa dipungkiri, Sehun juga merasa sedih sekaligus bahagia mendengar kabar ini. Satu tetes kristal bening itu mulai jatuh. Sehun tidak sanggup membayangkan ia akan berpisah dengan gadis yang ia cintai untuk kedua kalinya.

“Sudah kubilang, bukan? Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Bukankah kau memang sudah menginginkannya dari dulu?”

Sehun mencoba tegar, tetapi ternyata gagal.

“Tapi, aku sedih harus berpisah denganmu, Bubble. Kumohon mengertilah perasaanku.”

Aku juga, Alexa. Aku juga sedih karena harus berpisah lagi denganmu.

Sehun melepas pelukannya dan mengusap air mata Alexa. “Sudahlah berhenti menangis. Aku tidak ingin strawberry girl-ku yang cantik ini berubah jelek karena menangis.”

“Kau juga menangis, Bubble,” rajuk Alexa manja seraya memeluk Sehun erat. “Biarkan aku memelukmu seperti ini. Aku suka aroma perfume mu.”

Sehun tertawa kecil melihat sikap manja kekasihnya. Pemuda itu mengusap lembut surai kecoklatan milik gadisnya.

Bagaimana caranya agar aku tidak berpisah dengannya untuk kedua kalinya?

Sehun memutar otaknya dan sampai akhirnya sebuah senyuman misterius terukir di bibir merah mudanya.

“Alexa.”

“Sudah kubilang jangan bergerak. Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya.”

“Siapa bilang kau akan memelukku untuk yang terakhir? Kau bisa memelukku sepuas yang kau mau, dear.”

Alexa menampakkan wajah bingung yang sekaligus membuat senyum misterius itu semakin mengukir lebar.

“Bagaimana jika aku mengajak kepala sekolah untuk bernegosiasi agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu dan menemanimu sekolah di London? Bukankah ide itu terdengar bagus?”

— FIN —

Yeay... utangku tinggal satu...
Ini sudah dan tinggal Remember last chapt aja ya....

Singkat aja ya, aku lagi males bikin sambutan akhir... 
See ya~ and Thanks...

Love, 

-- BaekMinJi93 --
Iklan

8 thoughts on “[Twoshoot – 2] My Rival Is The Real Bestfriend

  1. ini sih namanya happy ending banget nget nget! 😀

    dari rival-sahabatan-pacaran. aku pikir cuma jadi sahabat doang. bebe emang paling bisa nyenengin hati reader :))

    aku dah lupa sama komenan ku yg error dulu. jadi aku baca lagi trus komen deh.. maap ya lama banget 😦

    Suka

    1. Gantung dong kalo seumpama sahabatan aja??? Kasihan karena aku tau kok rasanya digantungin oleh seseorang /oke ini privasi 😞 /
      Iya nggak papa, yang penting sering mampir lah di FF anehku ya, kak…
      Makasih 😊

      Suka

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s