[Oneshoot] {Last Series} Remember

1_1_by_oprisco-d5hanzy

BaekMinJi93’s Storyline

Starring with OC’s Choi Min Ji and EXO’s Oh Se Hun & Park Chan Yeol

– Angst – Family – Hurt – Romance

Inspired by APink – Remember and stroryline is purely mine…

Be a good readers and Don’t be plagiarism, guys~

>> Coffee Shop << >> Sehun Side << >> Minji Side <<

Aku tidak peduli entah kini kau masih menjadi seorang gadis atau tidak…

Kedua insan yang berbaring ditepi pantai itu masih saja tidak bergeming dari tempatnya. Mereka berdua tidak peduli dengan tatapan aneh yang diberikan oleh orang yang ada disekitar mereka.

Uljimma…”

Sang gadis masih terus saja sesenggukan didalam pelukan sang pria, sedangkan sang pria tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mengusap punggungnya dan terus membisikkan kata yang sama. Namun entah kenapa sang pria kini berubah pikiran dari apa yang dipikirkan sebelumnya. Pria itu tidak lagi membisikkan kata-kata menenangkan seperti sebelumnya, melainkan rangkaian kata yang lain dan hal itu membuat sang gadis yang ada dipelukannya itu terus mengeluarkan air matanya deras.

“Entah kenapa disaat seperti ini aku tiba-tiba teringat akan suatu hal,” ucap Sehun lirih.

Masih dengan tangis yang deras, gadis itu memotong perkataan pria yang ada dihadapannya itu.“Maafkan aku, Oh Sehun.”

Sehun menggeleng pelan. “Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf padaku karena aku akan menceritakan sebuah kenangan manis yang tidak pernah kulupakan sampai detik ini.”

Minji tidak terlalu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sehun, gadis itu masih saja menangis dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dengan sekali helaan napas berat dan pelukan yang semakin erat, Sehun memulai ceritanya. “Hari itu dimana setelah kita merayakan ulang tahunku yang ke-18, tepatnya delapan tahun yang lalu, kita pergi ke pantai ini dan mengukir sebuah kenangan termanis didalam hidupku –dan mungkin juga hidupmu–. Apa kau mengerti maksudku?”

Gadis itu masih terdiam.

“Waktu itu kau memintaku agar duduk di tepi pantai ini dan tidak melakukan apapun, namun aku menolaknya dan terus membujukmu agar kita bermain pasir dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Dan akhirnya kau menurutiku. Kita melakukan sama persis seperti yang kita lakukan sore tadi. Bermain air, membuat istana pasir dan apapun yang bisa kita lakukan di pantai ini. Namun dari semua kenangan itu ada satu tingkah kita yang kelewat batas tetapi hal itu terasa sangat manis didalam ingatanku. Kau ingat itu, Minnie?”

Minnie. Oh tidak panggilan itu lagi…

Tepat setelah Sehun menyelesaikan ucapannya, Minji segera melepaskan diri dari pelukan Sehun dan beranjak dari posisi berbaringnya. Gadis itu segera berlalu dengan cepat berniat untuk meninggalkan Sehun. Namun belum sampai dua langkah gadis itu berjalan, sebuah tangan menahan lengannya. Mau tak mau gadis itu berbalik dan menatap Sehun frustasi.

“Aku lelah, Sehun. Bisakah kau mengantarku pulang sekarang juga?”

“Tidak. Aku tidak akan mengantarmu pulang sebelum kau mendengarkan ceritaku terlebih dahulu.”

“Baiklah. Jika kau tidak mau mengatarku pulang, aku akan pulang dengan naik taksi.” Gadis itu mencoba menghempaskan lengannya kasar, namun gagal. “Lepaskan aku, Oh Sehun!”

“Tidak. Sekarang duduklah dan dengarkan ceritaku sampai selesai.”

“Aku membencimu!” rutuk Minji, namun tetap menuruti apa yang diperintahkan Sehun padanya.

Keadaan tetap sama seperti sebelumnya, namun yang berbeda adalah posisi Minji saat ini adalah duduk diatas atas pasir.

“Apakah kau ingat kita pernah duduk diatas pasir ini dengan sinar mentari senja yang menyinari kita? Apakah kau ingat kau pernah terjatuh dan tubuhmu penuh debu dan kau mendiamkanku selama seminggu seolah itu semua adalah kesalahanku? Apakah kau ingat aku pernah menciummu dan kau membalasnya dengan lembut? Bahkan seingatku kita menghabiskan waktu sedikit lebih lama daripada biasanya untuk menyelesaikannya? Apakah kau ingat itu semua?”

Minji mengusap air matanya kasar dan berujar datar, “Itu bukan cerita, Oh Sehun. Itu pertanyaan. Apa kau kelewat bodoh untuk membedakan arti dari dua kata yang berbeda itu?”

Sehun tertawa kecil, namun hal itu semakin membuatnya terlihat menyedihkan dan begitu putus asa. “Huh! Kau benar. Aku memang bodoh dan kebodohan terbesarku adalah melepaskanmu hanya karena si Chanyeol brengsek itu.”

Sebulir air mata meluncur bebas di wajah kulit putih susu milik pria itu dan ia segera menghapusnya dan menatap ceria –yang membuatnya terlihat semakin menyedihkan– pada gadis itu. “Namun aku harap kau mengingatnya, Minji.”

“Separah itukah keadaanmu setelah aku meninggalkanmu? Bukankah kau sudah tahu dari dulu, bahwa aku hanya menyukai Chanyeol oppa dan bukannya dirimu? Kau terlihat sangat mengenaskan, Tuan Oh,” balas Minji dingin dan terkesan tidak peduli, namun didalam hati terdalamnya gadis itu sangat menyesal mengatakan itu semua.

“Benarkah seperti itu? Tapi aku tidak peduli. JAWAB PERTANYAANKU SEKARANG, CHOI MINJI DAN BERHENTI MENGALIHKAN PEMBICARAAN!” teriak Sehun frustasi, bahkan saat ini Sehun merubah posisinya dan terduduk menghadap gadis itu.

“AKU INGAT SEMUANYA, SEHUN! APA KAU SUDAH PUAS?! TANPA KAU PERLU MENJELASKANNYA PUN, AKU INGAT SEMUANYA SECARA JELAS. BERHENTI MENCERCAKU DENGAN PERTANYAAN TIDAK BERGUNA SEPERTI ITU!”

“Kau tahu? Aku merindukan semua itu! Setiap malam aku selalu bermimpi jika aku dapat merebutmu kembali dari Chanyeol dan melamarmu di pantai ini.”

Minji mengalihkan pandangannya kearah laut dan mencoba untuk menyembunyikan air matanya. “Sayangnya, mimpimu kali ini tidak akan pernah terwujud untuk selamanya.”

Hati Sehun lagi-lagi harus terjatuh kedasar jurang karena ucapan terakhir gadis itu. “Kenapa? Karena kau masih menyukai pria brengsek sepertinya? Huh! Kau bodoh, Choi Minji. Sejak aku mendengar kabar tentang kau akan kembali ke Seoul, aku selalu berharap bahwa aku dan kau bisa kembali seperti dulu. Bahkan sepertinya kau tidak akan sudi lagi untuk memanggilku dengan nama Hunnie. Kau tahu, aku mengharapkan panggilan itu keluar dari bibirmu seperti dulu, aku ingin mendengarnya sekali saja. Namun kini aku tahu, aku tidak akan bisa menggapai semua itu, karena saat ini hanyalah ada Chanyeol si brengsek itu di hatimu dan aku hanyalah sekedar masa lalumu saja. Dan satu lagi, sepertinya kau sudah lupa dengan janjimu di coffee shop waktu itu. Kau mengatakan jika-…”

“CUKUP, SEHUN! CUKUP!”

Minji berteriak keras dan menutup mata serta telinganya rapat-rapat. Oh tidak, sepertinya Sehun kini telah kelewat batas. Gadis itu kembali diserang oleh depresi beratnya lagi. Sehun menatap iba dan ikut meneteskan air matanya melihat keadaan Minji yang begitu menyedihkan dibandingkan dirinya, bersamaan dengan itu, Sehun segera merengkuh tubuh kecil milik Minji.

“Aku ingat semuanya,” Minji kembali terisak dan memukul dada bidang Sehun. “Tanpa kau mengatakannya sekalipun aku ingat janjiku padamu. Tapi sekali lagi maafkan aku, aku tidak bisa menepatinya karena sekarang aku bukanlah seorang gadis seperti dulu. Sudah ada Youngshin di dunia ini dan aku harus menerimanya. Sekalipun aku terus mencoba, aku tidak bisa memungkirinya, Oh Sehun. Jadi, maafkan aku. Sungguh maafkan aku.”

“Kau pikir aku peduli dengan semua itu?” sahut Sehun berbisik dan Minji-pun kembali terdiam, kini hanyalah isakannya yang terdengar semakin keras. “Bahkan ada atau tidaknya Youngshin didunia ini, menjadi seorang gadis atau tidak, aku tidak peduli. Sungguh. Yang kupedulikan saat ini hanyalah, aku mencintaimu dan aku harus mendapatkanmu kembali bagaimanapun caranya.”

“Percayakah kau, aku bisa kembali seperti dulu? Apakah kau mau membantuku?”

“Tentu saja, aku percaya. Dengan senang hati aku akan membantumu, Minnie.”

Keduanya tersenyum hangat satu sama lain. Sehun mencium kening Minji dengan perasaan yang tidak bisa ia rangkai dengan kata-kata, sedangkan gadis itu memejamkan matanya dan menikmatinya.

“Ulurkan tanganmu,” ujar Sehun.

Bingung dengan apa yang diucapkan oleh Sehun, Minji hanya menatap dan berujar heran, “Untuk apa?”

“Sudahlah. Cepat lakukan.”

Mau tak mau, gadis itu mengulurkan tangan kirinya dan ternyata pria itu memberikan cincin emas putih dengan permata kecil ditengahnya. Sangat sederhana dan terlihat begitu indah ketika gadis itu memakainya.

“Hampir saja aku merasa tidak percaya diri dengan semua ini. Ternyata cincin itu terlihat cantik ketika kau memakainya.”

Senyum Minji sedikit mengembang melihat benda berkilau yang melingkari salah satu dari jemarinya itu. “Bodoh,” gumamnya pelan.

“Apa?!”

“Kau bodoh, Oh Sehun. 8 tahun itu adalah waktu yang sangat lama untuk menunggu suatu hal yang tidak pasti. Dan kau sangat payah.” Sehun hanya bisa membungkam dan menunggu Minji untuk melanjutkan perkataannya. “Bahkan dengan anugerah ketampanan yang kau miliki, seorang Oh Sehun –si populer waktu di sekolah menengah dulu– tidak bisa menarik perhatian wanita cantik manapun.”

Minji terkikik geli mendengar ucapannya sendiri, sedangkan Sehun menatapnya kesal dan mengacak rambut gadis itu gemas. Tepat seperti didalam ingatan Sehun, gadis itu masih saja marah jika ada yang merusak tatanan rambutnya.

Eh?! Siapa bilang aku tidak bisa? Bahkan banyak wanita cantik yang menganteri untuk menjadi istriku. Namun itu semua terdengar sia-sia, karena bagiku wanita tercantik didunia ini hanyalah kau dan eommaku, Minnie.”

Rona merah mulai menghiasi pipi gadis cantik itu dan membuatnya sedikit salah tingkah. “Sudahlah, berhenti berucap menjijikan seperti itu. Ayo kita pulang.”

Sehun cemberut mendengarnya, “Kenapa kita harus pulang sekarang? Aku masih ingin bersenang-senang denganmu, Alexa.”

Minji menghentakkan kakinya kesal, “Berhenti memanggilku dengan nama itu. Ayo kita pulang sekarang juga. Aku ingin segera mengenalkan Youngshin dengan ayah barunya.”

Air muka Sehun seketika berubah menjadi ceria, “Benarkah? Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang sekarang. Park –oh tidak… Oh Youngshin, ayah datang….”

Minji mendengus remeh, “Memang kau pikir mengganti marga semudah mengganti makanan kucingmu? Dasar pria bodoh!”

Dan sayangnya hal itu hanya ditanggapi tawa kecil khas Oh Sehun.

***

“Sehun… hari ini aku akan menyatakan perasaanku pada gadis itu.”

Sehun yang saat itu sedang serius mengerjakan soal matematika-nya, mau tak mau harus menghentikan kegiatannya dan mendengar ocehan dari sahabatnya yang saat ini sedang berbaring diatas kasur dengan motif spiderman yang menyelimuti kasur empuknya.

“Gadis itu? Siapa?” tanya Sehun heran.

Chanyeol terduduk seketika dan menatapnya kesal, “Tentu saja Minji. Memang siapa lagi gadis yang kusukai selain dirinya?”

Entah kenapa Sehun merasa terkejut mendengarnya. “Apa? Kau serius dengan ucapanmu?”

Chanyeol mengangguk pelan, “Ya. Kenapa kau terkejut seperti itu?”

Tenggorokan Sehun terasa tercekat seketika saat mendengar ucapan Chanyeol barusan. “Hah?! Terkejut? Untuk apa aku terkejut?” elaknya seraya kembali mencoba menyibukkan diri dan berperang dengan soal-soal matematikanya. “Huh! Kenapa soal-soal ini begitu sulit?!”

Bohong. Hal itu hanyalah kedoknya semata.

“Ya, kau terkejut mendengar ucapanku tadi. Apa kau keberatan jika aku melakukan ini? Atau… kau menyukai gadis itu?”

Tiba-tiba Sehun terbatuk kerena tersedak air liurnya sendiri dan berbalik menatap Chanyeol kembali. “Eh?! Menyukainya? Tidak mungkin. Kau, Minji, dan aku adalah sahabat. Mana mungkin aku menyukai sahabatku sendiri. Benar kan?”

Entah apa yang membuat Chanyeol terkikik geli mendengar ucapan Sehun barusan. “Kau benar. Kita bertiga adalah sahabat. Dan seharusnya aku tidak boleh memiliki perasaan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Semakin kutahan, aku semakin merasa untuk menginginkannya lebih dari ini. Bagaimana ini?”

“Mau bagaimana lagi. Kau harus menyatakannya sebelum terlambat,” sahutnya acuh, namun menghela napasnya pelan.

“Kau yakin dia akan menerimaku?” tanya Chanyeol dengan nada ragu.

“Mungkin saja.”

***

BBRRAAKK…

“SEHUNNN…”

Sehun yang merasa tidurnya terganggu tanpa sengaja berteriak kesal. “YAK!! SIAPA YANG BERANI MENGGANGGUKU, EOH?!”

Tanpa Sehun sadari sebelumnya, seseorang yang ada dihadapannya kali ini menundukkan kepalanya dalam. “Kenapa kau membentakku?”

Sehun kenal suara itu. Suara itu milik… MINJI?!

Seakan mendapat daya penuh secara mendadak, rasa kantuk Sehun saat ini tergantikan rasa khawatir bercampur menyesal. Entah mengapa suaranya kini menjadi melunak.

“Ji-ya, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk-…”

“Ah sudahlah… sepertinya kau tidak ingin diganggu untuk saat ini.”

Minji berniat untuk beranjak, namun Sehun menahannya. “Maafkan aku. Sungguh. Aku tahu kau kesini pasti kau sedang ingin bercerita sesuatu padaku. Apa itu?”

“Tidak jadi,” sahut gadis itu ketus.

Sehun mengusap wajahnya kasar. Dengan sekali helaan napas, pria itu kembali mencoba untuk membujuk sahabatnya itu.

“Ayolah. Ceritalah sekarang. Aku sudah lama tidak mendengar ceritamu. Aku rindu ceritamu.”

Tidak. Aku rindu kau, Minji. Sangat rindu.

Minji sedikit tersenyum begitu juga Sehun, hati pria itu sedikit lega melihat senyum itu mengembang.

“Kau tahu?!” Minji memulai ceritanya dengan semangat. Sehun sudah bisa menebak apa yang akan gadis itu katakan, namun kali ini ia mencoba untuk diam dan bersikap seolah ia tidak mengetahui apa-apa. “Malam ini Chanyeol mengajakku pergi ke taman kota. Chanyeol mengatakan ada yang harus ia katakan padaku nanti. Sangat penting katanya. Apa kau sudah mengetahui akan hal itu?”

“Tentu saja tidak,” dusta Sehun.

Air muka Minji berubah seketika, “Padahal aku berharap lebih padamu.”

“Sungguh. Aku tidak tahu. Maafkan aku.”

Wajah ceria itu kembali lagi menghiasi wajah cantik gadis itu. “Untuk apa kau meminta maaf? Huh! Sudahlah lupakan, mari kita coba menebak apa yang akan Chanyeol katakan nanti.”

Sehun mulai berakting seolah-olah ia sedang berpikir keras. “Mungkin saja ia akan mengutarakan perasaannya padamu.”

Minji terlihat tersipu mendengar Sehun berucap seperti itu. “Perasaan apa? Cinta? Haha… itu tidak mungkin. Mungkin saja ia mengajakku pergi ke taman kota untuk menanyakan jawaban pr matematikaku. Benar, bukan?”

Sehun tertawa kecut, “Iya, mungkin saja.”

Ya, aku harap seperti itu, pikir Sehun menenangkan dirinya.

***

TOK… TOK… TOK…

“Eoh?! Sehun?”

Tepat setelah ia mendapati wajah Sehun yang berdiri didepan rumahnya seperti pagi-pagi sebelumnya, air muka Minji seketika berubah menjadi gelisah. Dan tanpa dijelaskan sekalipun Sehun tahu maksud dari perubahan raut wajah itu, namun ia segera menepisnya.

“Ji-ya, kau sudah siap?”

Pertanyaan sama yang selalu Sehun utarakan setiap harinya dan pertanyaan itu juga akan selalu Minji tanggapi dengan senyum cerianya dan anggukannya. Namun hari ini terlihat sangat lain daripada biasanya.

“Se-sehun… maafkan aku. Hari ini aku tidak bisa berangkat sekolah bersamamu, karena hari ini aku akan-…”

“Mulai hari ini, Minji akan selalu berangkat bersamaku setiap harinya.”

Belum selesai Minji menyelesaikan kalimatnya, suara berat yang berasal dari arah belakang Sehun pun terdengar. Dengan segera kedua insan yang awalnya berhadapan itu kini mengarahkan pandangannya kearah sumber suara dan saat itu juga, senyum manis Minji seketika merekah.

“Chanyeol oppa…”

Sehun sedikit tersentak mendengar ucapan gadis itu menyebut Chanyeol dengan akhiran ‘oppa’. Namun lagi-lagi dia harus menahan emosinya dan akhirnya senyum penuh paksaan itulah yang keluar dari wajah putih susunya.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu.”

Tanpa sempat Minji ataupun Chanyeol membalas salamnya, pria itu segera berbalik dan melangkah pergi menjauhi rumah gadis itu. Namun saat ia akan melewati postur jangkung milik sahabatnya itu, Sehun sempat membisikkan sesuatu di telinganya.

“Aku percayakan Minji padamu. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan sampai kau melukai hatinya sedikitpun, karena jika kau berani melakukannya sedikit saja, kau akan mengetahui akibatnya.”

***

Untuk kesekian kalinya, Sehun membolos dari kelas matematika dan pergi menuju ke rooftop tepat disaat bel pergantian pelajaran berbunyi. Ia pikir tidak ada pengaruhnya jika ia masuk kelas atau tidaknya, toh materi dalam pelajaran tersebut sudah ia kuasai diluar kepala. Dan sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan untuk membuatnya kabur dari kelas mata pelajaran favoritnya itu, saat ini ia hanya sedang menghindari seseorang yang telah membuat hatinya menjadi porak poranda seolah telah diserang oleh badai salju yang sangat dibencinya.

Sudah terhitung dua jam sejak awal ia membolos, namun ia tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting saat ini adalah bagaimanapun caranya agar hatinya bisa kembali utuh seperti semula. Dan mungkin Tuhan sedang menguji kesabarannya dengan berat saat ini. Dari atas atap seperti ini, pria itu bisa melihat keadaan yang sedang terjadi dengan leluasa. Tetapi dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan oleh teman-temannya, hanya satu kegiatan yang tertangkap di indera penglihatannya.

Minji dan Chanyeol sedang… berciuman di taman belakang sekolah.

Oh… itu cukup membuat hati Sehun hancur berkeping-keping sepenuhnya. Jujur saja, ia benci melihat adegan yang baru ia tangkap beberapa detik yang lalu. Ia benci dan sangat membencinya. Ia berpikir andai saja sang pelaku prianya adalah dirinya, bukan Chanyeol, mungkin itu terlihat lebih baik dan membahagiakan untuknya –tapi belum tentu membahagiakan untuk Minji–.

Satu keputusan yang tercetak di benaknya sekarang.

Lupakan Choi Minji dan pergi dari sini sekarang juga.

***

“Sehun…”

Derap langkah itu masih saja mencoba mengejar langkah gontai pemilik nama lengkap Oh Sehun itu. Namun sang pemilik nama itu masih saja enggan untuk berhenti dan tetap meneruskan perjalanannya menuju halte dekat sekolahnya. Dan ia baru berhenti ketika sampai di tempat tujuan. Tak lama setelah ia menempatkan diri di salah satu bangku panjang yang terbuat dari aluminium itu, seorang gadis juga menempatkan dirinya tepat disebelahnya.

Dengan napas sedikit terengah-engah, gadis itu meluapkan emosinya. “YAK, Oh Sehun! Kenapa kau terus saja berjalan dan tidak menghiraukanku, eoh?!”

Sehun melepaskan salah satu sisi earphone nya dan menatap gadis itu malas. “Maafkan aku.”

Dan di detik selanjutnya bus dengan arah tujuan rumah kedua remaja itu datang, dengan segera Sehun beranjak dari duduknya dan mulai memasuki bus itu, dibelakang pemuda itu, Minji melangkah mengikutinya. Keadaan bus di jam pulang sekolah seperti saat ini selalu saja ramai penumpang, terpaksa Minji maupun Sehun harus berdiri. Suasana hening kembali menyelimuti mereka, hanya suara deruman bus saja yang menemaninya. Sehun masih saja memakai earphone nya dan menikmati alunan lagu slow –yang entah kenapa sangat ia gemari akhir-akhir ini– yang mengalir dari ponselnya, sedangkan Minji menatap sang sahabat dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” ujar Sehun tiba-tiba, namun pandangannya masih saja kearah lain dan tidak menatap gadis itu.

“Kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini? Apakah aku berbuat salah padamu? Jika benar seperti itu, maka aku akan meminta maaf padamu.”

Tidak. Kau tidak perlu minta maaf padaku, Ji-ya. Aku hanya menghindarimu karena aku tidak mau jika hati ini terlanjur sakit dan sulit untuk mengobatinya.

“Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Entah kenapa aku hanya ingin sendiri untuk saat ini,” sahut Sehun dengan nada sedikit ragu.

Benarkah aku ingin sendiri saat ini?

“Nada bicaramu juga selalu dingin ketika bersamaku. Kau bukan Oh Sehun yang kukenal selama ini.”

Terdengar tawa Sehun yang terkesan remeh sekaligus geli, yang tentu saja membuat gadis itu bingung dengan perlakuan aneh pemuda itu.

“Bukankah nada bicaraku memang seperti ini? Sudahlah, ayo kita turun. Kita hampir sampai.”

Oh Tuhan… sekali lagi, kumohon kuatkan hati ini.

***

“Sehun, kau tahu kabar Chanyeol saat ini? Entah kenapa setiap aku meneleponnya, ponselnya selalu saja tidak aktif. Ada apa dengannya, Oh Sehun?!”

Minji masih saja berceloteh seraya terus mengganti kompres di dahi Sehun. Sudah tiga hari Sehun berbaring malas diatas kasur spidermannya. Suhu tubuhnya meninggi dan Minji tidak tahu apa yang membuat pria aneh itu menjadi lemah tak berdaya seperti ini. Seperti yang mereka lakukan dari dulu, sebagai sahabat yang baik, Minji selalu menyempatkan diri untuk merawat Sehun ketika pria berkulit putih susu itu demam. Dan sialnya juga, pria itu tidak akan mau makan sebelum Minji yang menyuapinya. Dan hal itu sudah biasa bagi seorang Choi Minji dalam menghadapi pria kekanakkan bernama Oh Sehun itu.

“Bisakah sehari saja kau tidak membahas tentang Chanyeol? Aku bosan mendengarnya,” ujar Sehun seraya membalik badannya menjadi menghadap gadis itu.

Minji merasa bingung dengan kalimat yang dilontarkan oleh pria itu. “Kenapa kau berkata seperti itu? Wajar bukan, jika aku mengkhawatirkan kekasihku sendiri yang saat ini sedang tidak ada kabar? Kau ini kenapa sih? Selalu saja bersikap sensitif jika aku menyebut nama Chanyeol.”

“Benarkah kau mengkhawatirkannya? Bagaimana jika yang kau khawatirkan itu tidak peduli lagi denganmu?”

“Apa maksudmu?”

Yah… mungkin saja Chanyeol sudah mendapatkan penggantimu dan mulai mencampakkanmu. Semua itu bisa saja-…”

PLAK…

Baik Minji maupun Sehun tidak menyangka hal ini akan terjadi. Gadis itu dikuasai emosinya sehingga tidak sadar jika ia melakukan hal yang diluar batasnya, sedangkan Sehun? Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

Minji menutup mulutnya dan menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat ini. “Aku tidak menyangka jika kau tega mengatakan hal itu padaku. Chanyeol sahabatmu, Oh Sehun. Dan Chanyeol-lah yang menjadi kekasih sahabatmu saat ini. Kau tahu aku begitu mencintainya, tapi kau tega mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya. Aku membencimu, Oh Sehun!”

Dan di detik selanjutnya, Minji segera beranjak dan angkat kaki dari kamar itu.

Sebulir kristal bening meluncur indah di pipi pria itu. “Ji-ya, maafkan aku.”

***

Raut wajah Minji hari ini terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu terus saja tertunduk dalam dalam langkahnya menuju deretan loker sekolahnya. Sesampainya di loker yang isinya dominan dengan warna ungu dan pink tersebut, Minji hanya mengambil beberapa buku catatan dan mengganti sepatunya saja. Saat menutup pintu loker, gadis itu masih terlihat seperti sebelumnya meskipun ia tahu ada seseorang yang berdiri tepat dibelakang pintu lokernya, namun gadis itu berusaha menghiraukannya.

“Ji-ya…”

Gadis itu menghentikan langkahnya sejenak sekedar untuk menghempaskan tangan yang menahannya tersebut dan kembali berjalan menuju kelasnya. Derap langkah itu masih saja mengikutinya. Minji tahu orang itu, dia adalah seseorang yang menahan lengannya barusan.

“Ji-ya, maafkan aku. Sungguh, aku menyesal karena-…”

Ucapan orang itu –yang tak lain adalah Sehun– terhenti saat gadis itu memasang headphonenya dan mulai sibuk dengan ponselnya guna mencari lagu yang menarik untuknya saat ini. Merasa terabaikan, Sehun menarik Minji kembali dan melangkah cepat menuju atap sekolahnya.

“Lepaskan aku, Oh Sehun!”

Gadis itu terus saja meronta, namun bukan Oh Sehun namanya jika ia menurutinya begitu saja. Pria itu terus saja mengenggam tangan Minji begitu erat dan baru melepaskannya ketika mereka sudah sampai tujuan. Namun bukan tanpa sengaja Sehun melepaskan tautan itu, melainkan sebuah pemandangan yang membuat Sehun ataupun Minji terpaku di tempatnya.

Pemandangan itu adalah…

Park Chanyeol sedang berpelukan dengan seorang gadis dari tingkat satu.

Minji terpaku di tempatnya. Minji kenal kedua sosok itu dan Minji juga kenal siapa sosok yang sedang dipeluk oleh seorang pria yang ia klaim sebagai kekasihnya itu, Han Sarang. Han Sarang adalah seorang gadis lugu dan anggun. Han Sarang adalah murid terpopuler di sekolah. Han Sarang adalah adik kelas kesayangannya. Dan terakhir, Han Sarang adalah gadis perebut kekasihnya.

Sungguh, Minji tidak ingin untuk mempercayai hal ini. Bagaimanapun juga Minji tidak ingin mempercayai apa yang ditangkap indera penglihatannya saat ini, dan akhirnya gadis itu lebih memilih untuk berbalik arah dan berjalan cepat menuju kelasnya. Dari arah belakang, Sehun tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mengikuti langkah gadis itu. Sehun benci keadaan seperti ini, Sehun merasa jika ia bertingkah seperti seorang pengecut.

“JI-YA! MINJI! CHOI MINJI!”

Meskipun Sehun terus berteriak memanggil nama gadis itu sampai suaranya habis, gadis itu tidak berniat sedikitpun untuk memalingkan tubuhnya kearah pria itu. Namun apadaya, langkah Sehun lebih besar daripada gadis itu dan akhirnya…

GREB…

Sehun berhasil memeluk tubuh kecil gadis itu. Minji terus saja meronta namun seperti telinga Sehun saat ini sedang mengalami gangguan seketika. Pukulan bertubi-tubi pun dilayangkan Minji ke dada bidang pria itu.

“Lepaskan aku, Oh Sehun!”

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu lagi.”

Ya, aku takut jika aku melepasmu itu akan berdampak buruk seperti saat ini.

***

“Ji-ya, buka pintunya. Ayo kita makan malam sekarang juga. Oppa sudah menunggu diluar.”

Minri –saudara kembar Minji– masih saja setia mengetuk pintu kamar sang adik kesayangannya itu, namun Minji tetap tidak memberi tanggapan seperti yang diharapkannya. Merasa tidak enak dengan perasaannya, gadis itu kembali mengetuk pintu berwarna ungu muda itu untuk kesekian kalinya.

“Minji… apa kau baik-baik saja?”

Minri masih saja tidak mendengar shrill-voice khas adiknya dan hatinya mengatakan jika ada yang sedang disembunyikan oleh adik manjanya tersebut. Tidak kekurangan akal, Minri melangkah menuruni tangga rumahnya dengan cepat dan menghampiri kakak laki-lakinya yang sudah duduk dengan tenang di meja makan.

Minho –kakaknya– menatap Minri dengan tatapan heran. “Dimana Minji? Kenapa dia tidak turun bersamamu?”

Minri menatap Minho dengan tatapan panik. “Oppa. Minji sedang tidak baik saat ini.”

“Apa maksudmu?”

“Minji tidak membuka pintunya ketika aku mengetuk pintu kamarnya dan bahkan jika aku tidak salah dengar, aku mendengar suara isakan yang kuyakin itu suara Minji.”

“Kau yakin?”

Minri mengangguk cepat dan masih menatap Minho dengan tatapan panik. “Ayo, oppa. Kita ke kamarnya dan bujuk dia. Aku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.”

Minho segera beranjak menuju kamar adik bungsunya tersebut. Entah kenapa tiba-tiba ia juga merasakan apa yang dirasakan Minri saat ini. Sesampainya disana, Minho mengetuk pintu dan memanggil adiknya dengan lembut. Namun seperti sebelumnya, gadis itu masih saja tidak merespon. Merasa jengah, akhirnya dengan sekuat tenaga Minho mencoba mendobrak pintu ungu tersebut dan berhasil… pintu itu terbuka dan memperlihatkan suatu pemandangan yang membuat kakak beradik itu sedikit tercengang.

Seorang gadis tengah terbaring diatas kasur dengan motif polar bear-nya beserta sedikit bercak darah disekitarnya.

Mereka berdua kenal dengan sosok itu. Bagaimana tidak? Karena sosok itu adalah sosok yang membuat mereka panik saat ini, dia adalah… Choi Minji.

***

Seseorang berkulit putih susu dan bertubuh jangkung itu membuka pintu yang dikenali sebagai pintu kamar sang sahabat dengan ragu. Kedua tangannya saat ini tengah menggenggam erat sebuah buket bunga lili berwarna putih yang dibelinya saat pulang sekolah tadi. Pria itu mengedarkan pandangannya dan mendapati seseorang tengah berbaring dengan tenang di kasurnya –oh… dan jangan lupakan perban yang membalut lengan kanannya.

Pria itu berjalan mendekati tubuh itu. Pria itu –yang tak lain adalah Sehun– menatap sosok yang tertidur itu dengan tatapan sedih, tak pelak setetes air mata mulai jatuh dan tidak sengaja terkena pipi sang gadis. Merasa tidurnya terganggu, perlahan gadis itu membuka matanya. Reaksi pertama yang diberikan gadis itu sedikit membuat Sehun terkejut. Gadis itu terlonjak dari tempat tidurnya dan berjalan mundur menjauhi Sehun dengan tatapan takut. Minji menutup mata serta telinganya rapat-rapat. Dia terlihat sangat kacau saat ini.

“SIAPA KAU?! UNTUK APA KAU DATANG KE KAMARKU?! OPPAEONNIE… TOLONG AKU. AKU TAKUT PADA ORANG ASING INI!”

Minji terus berteriak histeris dan melangkah mundur menjauhi Sehun, tanpa disadari gadis itu tidak menyadari pembatas balkon kamarnya telah bersiap menyapanya. Sehun menatap sedih sahabatnya, air matanyapun kini sudah mulai membanjiri wajahnya. Tak tahan lagi, pria itu segera merengkuh tubuh kecil itu kedalam pelukannya. Minji terus meronta untuk dilepaskan.

“Minji… ini aku Oh Sehun,” isak Sehun seraya menenggelamkan wajahnya diarea bahu Minji.

Merasa tersadar akan suatu hal, gadis itu melepas pelukannya dan menatap Sehun dengan teduh. Perlahan Minji mengulurkan kedua tangannya dan menangkap wajah tirus itu guna menghapus air mata yang membanjirinya.

“Maafkan aku,” lirih Sehun masih dengan isakan kecilnya, kini kepalanya tertunduk dalam.

Minji tersenyum samar, “Kenapa kau harus meminta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan sedikitpun padaku.”

Hati Sehun semakin terenyuh ketika mendengar suara lirihan lemah itu. Lagi-lagi ia merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya dan kembali meledakan emosinya.

Tidak, Minji. Aku meminta maaf karena sudah melepaskanmu hanya karena pria brengsek itu.

— THE END —

APA INI??!!
Akhirnya utangku udah selesai semua... /hela napas lega/, saatnya siap-siap packing buat hiatus ^^

Gimana last series ini? Semakin GJ kah? Gantung kah?
Aku tau semua itu hahaha... emang sengaja aku buat kaya gini hoho...
In actually, "Block idea" virus attack me suddenly...

Maafkan saya jika ini terlalu aneh dan nggak sesuai harapan...
Dan yang di akhir cerita plus tulisan yang penuh Italic tersebut, itu cerita masa lalunya Minji, Odult, sama si Tiang yaa...
Aku gabung jadi satu... 

Udah deh, aku bingung mau bilang apa lagi...
Baiklah sampai ketemu dengan postku yang berikutnya... 🙂

Note : Mungkin kali ini aku hiatusnya sedikit agak lama soalnya aku sekalian mau fokus ke UAS... Jadi kemungkinan 
baru bisa nge-post FF lagi pas liburan semester 1 hoho...

Regards,

-- BaekMinJi93 --
Iklan

8 thoughts on “[Oneshoot] {Last Series} Remember

  1. finally mereka berdua juga 🙂 mereka berhasil bersatu. yeay! ^^

    aku puas sama ceritanya be. ga sia2 kamu jadi author favorit aku hehe :p

    oiya, maap soal late respon aku di twitter. aku maklum sama late respon kamu, soalnya sekarang kita sama2 sibuk 🙂

    Suka

    1. Ah… Masa sih? Aduh aku jadi malu…
      Haha abaikan…
      Ya, akhirnya mereka berdua bersatu karena jujur aku nggak tega liat Sehun sendirian kaya gitu haha…
      Oke kak, makasih ya pengertiannya 😊

      Suka

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s