[Vignette] (Special Minho’s Birthday) The Beautiful Guise

tumblr_m7hzx7dfqv1qee517o1_500

The Beautiful Guise

Choi Minho – OC’s

Oh Sehun – OC’s

Ficlet – General

There is not anything doesn’t have guise in the world…

Whatever it’s bad guise or beautiful guise…

“Aku kemari hanya bertujuan untuk memberikan ini saja. Kuharap kalian bersedia datang.”

Sepasang gadis dan pemuda itu menatap pria dihadapannya ini dengan tatapan bingung, sebelum akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang dibawa oleh pria itu. Benda itu memiliki bentuk persegi panjang dan bersampul seorang pria yang sedang melamar sang gadis dengan berbalut kostum serba putih itu. Mereka berdua mengenal sosok di sampul depan benda persegi panjang yang sering orang-orang sebut dengan undangan pernikahan itu.

“Ternyata kau benar-benar serius saat mengatakan bahwa kau ingin menikahinya, oppa. Apa kau yakin jika gadis itu benar-benar mencintaimu dengan tulus? Kupikir dia hanya ingin memanfaatkanmu untuk keuntungannya saja,” ujar gadis dengan nama lengkap Choi Minji itu. Nada bicaranya yang begitu dingin menggambarkan bahwa dia benar-benar membenci gadis yang berpose bersama dengan kakaknya disampul itu.

Sang pria yang disebut oppa olehnya itu hanya menanggapi perkataan adik bungsunya itu dengan helaan napas berat. Pria bernama Choi Minho ini sangat mengerti mengapa reaksi yang diberikan oleh Minji begitu dingin saat melihat undangan pernikahannya itu. Karena gadis yang akan dinikahinya 2 minggu kedepan pernah mempunyai masalah serius dengan adik kecilnya tersebut. Dan Minho mengerti bahwa tidak seharusnya dia bersikap egois seperti ini dan seharusnya juga ia menepati janjinya pada Minji untuk tidak akan pernah berhubungan lagi dengan gadis bernama Jung Hanna itu. Tapi apadaya, dia terlalu lemah dengan perasaannya sendiri dan dia terlalu pengecut jika ia mencoba untuk memungkiri perasaannya pada kekasihnya tersebut yang berakibat hubungan dirinya dengan adiknya menjadi renggang karena satu permasalahan sederhana.

Ji-ya, kau tidak boleh berbicara seperti itu pada kakakmu. Bagaimanapun itu semua sudah menjadi masa lalu dan kenyataannya sekarang sudah berbanding terbalik dengan masa lalu. Kau harus menerimanya. Minho hyung terus merasa tersiksa karena sikapmu yang begitu egois seperti-…”

“Kau mengataiku egois? Tidak ingatkah kau apa alasanku begitu membencinya hingga saat ini? DIA MENYUKAIMU, OH SEHUN! DAN DIA INGIN MEREBUTMU DARIKU!” pekik Minji tepat dihadapan suaminya itu. “Dan kau seharusnya tahu, mungkin ini hanyalah modusnya untuk mendapatkanmu kembali. Dia menikahi kakakku dan kemudian dia akan menggodamu-…”

“JAGA UCAPANMU, NONA CHOI!” bentak Sehun pada Minji.

Dia tidak sadar jika ulahnya itu akan membuat luka di hati istrinya itu kembali membuka lebar dan dia baru menyadarinya saat netranya menangkap sebulir kristal bening yang perlahan jatuh di permukaan pipi istrinya. Hatinya begitu sakit melihat akibat dari apa yang diperbuatnya barusan. Baru saja pemuda itu berniat memeluk gadis kecilnya, tapi reaksi yang diterimanya begitu bertolak belakang.

Minji berlari menuju kamar dan mengunci pintunya.

Kali ini bukan Minho saja yang menghela napas beratnya melainkan Sehun juga. Kepalanya begitu pening memikirkan sifat keras kepala yang dimiliki oleh gadis kecilnya itu.

“Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan ini dan seharusnya aku memendam perasaanku pada Hanna karena mungkin dengan cara itu hubunganku dengan Minji tidak akan separah ini,” lirih Minho seraya menundukkan kepalanya menyesal.

Gwenchana, hyung. Aku tahu kau begitu mencintai Hanna dan apa yang kau lakukan saat ini adalah keputusan yang tepat karena jika kau terus-menerus memendam perasaanmu, itu akan berakibat buruk pada diri hyung sendiri. Tenanglah, aku akan membujuk Minji agar ia mau datang ke pesta itu. Kau bisa memegang janjiku, hyung.”

Setidaknya saat ini perasaan Minho tidaklah begitu sakit seperti apa yang dirasakan sebelumnya. Hatinya sedikit tenang. Ya, dia harus mempercayai Sehun saat ini.

Dan Minji… maafkan oppa karena telah membuatmu begitu membencinya ataupun diriku sendiri. Jeongmal mianhae, nae dongsaeng.

***

“Bagaimana, oppa? Apakah Sehun dan Minji akan datang di pesta pernikahan kita?” tanya seseorang saat Minho kembali memasuki mobilnya. Yap, dia adalah Jung Hanna.

“Kuharap seperti itu,” balas Minho lemah. Melihat itu, seketika raut wajah Hanna yang pada awalnya begitu antusias berubah menjadi sedih.

“Ini semua kesalahanku,” lirih Hanna dengan nada menyalahkan dirinya sendiri. “Akulah dalang dari semua keretakan hubungan oppa dengan Minji. Maafkan aku.”

Tak lama setelah kalimat itu keluar, terdengar sebuah isakan kecil yang begitu pilu. Membuat Minho yang pada awalnya hanya menatap luruh kearah depannya seketika merubah arah pandangnya kearah samping kirinya. Dan didetik itu juga ia menghentikan laju mobilnya berniat untuk menenangkan sang kekasih.

“Tidak… tidak. Ini semua bukan kesalahanmu. Sudahlah jangan menangis. Aku akan tetap menikahimu meskipun Minji tidak akan pernah merestuinya, karena rasa cinta yang kumiliki untukmu begitu besar. Bukankah kau juga merasakan hal itu? Kita harus menikah karena kita saling mencintai bukan?”

Isakan kecil Hanna perlahan mulai mereda. “Iya, aku mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, oppa.”

Minho mengusap lembut surai coklat milik Hanna dan terus membisikkan kata-kata menenangkan. Dan sekali lagi ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bersikap pengecut.

Maafkan oppa, Minji… Sungguh maafkan oppa…

Untuk kesekian kalinya ia meminta maaf pada sang adik melalui hati kecilnya, berharap sang adik dapat merasakan telepati yang diberikan olehnya. Bukankah ikatan sepasang kakak-adik begitu kuat?

***

“Minji…”

“Keluar! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!”

Namun bukannya menuruti apa yang diperintahkan sang istri padanya barusan, Sehun malah tetap merajut langkahnya mendekati tubuh Minji yang terbalut selimut berwarna creamnya itu. Sehun mendudukan dirinya tepat disamping gadisnya. Tangannya begitu hati-hati mengingat sikap Minji yang begitu anti-touching dengan seseorang yang dibencinya saat marah besar.

“Sudah kubilang jangan sentuh aku! Bahkan si kecil pun tidak ingin disentuh oleh ayahnya sendiri.”

Sebenarnya Sehun ingin tertawa mendengar ucapan konyol milik istri manjanya itu, namun ini bukan saatnya untuk bercanda.

“Minji, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada-…”

Minji refleks mendudukkan dirinya diatas kasur. Matanya begitu sembap dan Sehun tahu ia telah melukai hati istrinya begitu dalam.

“Seharusnya kau mengerti perasaanku, Sehun. Bukannya malah membentakku seolah aku adalah orang asing bagimu. Kau bahkan memanggilku dengan nama marga asliku. Bukankah itu tandanya jika kau menganggapku sebagai orang asing?”

Sehun menggelengkan kepalanya pelan. “Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku menganggapmu orang asing, jika sangat aku mencintaimu?”

Minji tidak peduli dan membaringkan tubuhnya kembali. Sehun melakukan hal yang sama, dia pun memeluk istrinya dari belakang dan berbisik lembut.

“Aku tahu sebenarnya kau tidak pernah membenci orang sebesar itu. Dan aku tahu kejadian itu membuatmu menjadikan alasan untuk membenci Hanna. Tapi kau seharusnya juga tahu bahwa aku hanyalah milikmu, bukan yang lain. Terbukti dari semua apa yang kulakukan saat ini. Aku memilihmu untuk menjadi istri dan ibu untuk anak kita kelak, bukannya dirinya. Dan aku selalu ada disampingmu disaat kau membutuhkanku. Aku mencintaimu, nyonya Oh, sangat mencintaimu.”

Isak kecilpun kembali terdengar dari bibir manis Minji, “Tapi aku takut kehilanganmu, maka dari itu aku bersikap seperti ini. Aku juga tidak pernah berniat untuk membenci oppa. Aku menyayanginya dan aku ingin dirinya mendapatkan gadis yang lebih baik dari Hanna. Itu saja, selebihnya aku tidak pernah mempunyai pikiran untuk membenci oppaku sendiri. Sungguh.”

Sehun mengeratkan pelukannya dan mencium leher bagian belakang Minji sekilas. “Tapi Minho hyung hanya mencintai Hanna, begitupun sebaliknya. Bagaimanapun kita harus menghargainya.”

Minji membalik tubuhnya menghadap wajah sang suami, “Tapi-…”

“Kau mempercayaiku, kan?”

Gadis itu mengangguk kecil yang membuat senyum Sehun terukir jelas.

“Jadi, tidak ada alasan untuk tidak datang di acara penting itu, bukan? Bukankah gadis kecilku ini ingin melihat oppanya bahagia?”

***

Acara pemberkatanpun selesai dan kini saatnya acara ramah tamah bersama para tamu pun dimulai. Senyum milik sang mempelai pria maupun wanita tidak pernah sekalipun luntur di wajah menawannya meskipun hati mereka kini sedang berbanding terbalik dengan semua itu. Semua itu hanyalah kedok agar para undangan tidak merasa kecewa dengan sambutan yang diberikan sang pelaku utama di pesta ini.

Netra kedua mempelai itu masih saja menelusuri tiap sudut gedung guna mencari pasangan itu. Namun sepertinya itu semua sia-sia karena apa yang mereka harapkan saat ini tidak kunjung datang. Hanna –sang mempelai wanita–, mulai menunjukkan raut wajah sedihnya.

“Sepertinya mereka berdua benar-benar tidak akan datang.”

Minho mulai mengeratkan genggaman tangannya menenangkan. “Tidak, aku yakin mereka pasti akan datang.”

Oppa, maafkan aku.”

“Aku bosan mendengar ucapan maafmu,” balas Minho dengan nada jenaka, yang dibalas sebuah pukulan kecil di lengannya.

Disaat mereka tenggelam dengan lelucon singkat mereka, sebuah dehaman kecil membuat mereka tersadar kembali dan seketika mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Akhirnya apa yang mereka harapkanpun mulai tertangkap oleh netra mereka.

“Sehun? Minji? Kalian datang?” ujar Minho antusias. Senyumnya pun kembali terukir di wajah tampannya, begitu juga dengan Hanna.

Namun apa yang dilakukan Minji tidak sebanding dengan apa yang dilakukan kedua mempelai itu. Dengan datar, gadis itu mengulurkan tangannya berniat untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai itu.

“Selamat atas-… Huek…” belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, rasa mual tiba-tiba menyerang perut gadis itu.

Dengan raut wajah khawatir, Sehun merangkul tubuh istrinya dengan sayang. “Yeobo, apa kau baik-baik saja?”

Oops… sepertinya bukan hanya Sehun saja yang khawatir melainkan dua orang dihadapan mereka saat inipun menampilkan raut serupa.

Hm… aku baik-baik saja. Sepertinya-… Huek… aku harus ke toilet sekarang.”

“Apa kau ingin aku antar?”

“Tenang saja, aku bisa sendiri,” Sehun masih menatapnya khawatir sebelum akhirnya gadis itu mencium kilat bibir suaminya guna menenangkan hatinya. “Baiklah aku pergi dulu.”

Dengan langkah sedikit cepat, Minji pun mulai merajut langkahnya menuruni stage. Masih dengan raut wajah khawatir, Hanna mengatakan dia harus mengikuti Minji ke toilet. Mau tidak mau, akhirnya kedua pria itu mengijinkannya, meskipun salah satunya merasa ada yang aneh dengan dirinya saat melihat sikap Hanna.

Sesampainya di toilet wanita, raut wajah khawatir yang terpampang jelas awalnya kini berubah menjadi raut wajah dingin seorang Jung Hanna. Tepat disaat gadis itu baru saja masuk ke dalam, netra gadis itu sudah disambut dengan sosok yang sedang sibuk dengan kegiatannya bersama westafel di dalam toilet itu. Ia melipat kedua tangannya didepan dada dan tidak melakukan apapun untuk membantu sosok itu seperti apa yang dikatakan olehnya barusan. Bahkan raut wajahnya yang dingin itu tersirat raut wajah benci akan kehadiran sosok itu.

Tak lama kemudian, sosok itu –yang tak lain adalah Minji–, telah menyelesaikan kegiatannya dengan baik. Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin dan dapat ia lihat jika wajahnya sedikit lebih pucat dari sebelumnya. Dan ia mendapati dirinya tidak lagi sendiri di dalam sini, namun gadis itu tidak begitu peduli dengan hal itu.

“Sudah selesai dengan kegiatan menjijikanmu, nyonya Oh?”

Minji masih saja bungkam dan menganggap seolah itu hanyalah angin lalu.

“Melihatmu seperti ini, sepertinya bayimu tidak senang akan kehadiranku,” sindir Hanna tajam.

“Tanpa aku mengatakannya padamu sekalipun, sepertinya kau sudah mengetahuinya,” balas Minji tak kalah tajam.

“Sebenarnya tujuanku kemari tidak untuk berbasa-basi ria denganmu. Aku ingin memberitahu sesuatu penting untukmu.”

“Apa itu? Sepertinya itu menarik.”

Hanna tersenyum miring. “Tentu saja. Karena sesuatu ingin kusampaikan ini adalah suatu hal yang pernah terjadi dalam hidupmu dan perlahan aku akan mengulangnya kembali. Jadi bersiaplah.”

Minji berbalik dan menatap Hanna tajam. “Oh… sepertinya ini menarik dan sepertinya juga aku mengetahui siapa yang akan menangis di akhir cerita yang kau buat ini. Aku akan setia menunggunya, nona Jung.”

“Dan itu adalah dirimu, Choi Minji. Kali ini kau tidak hanya akan kehilangan satu sosok penting dalam hidupmu, melainkan ada dua. Suamimu dan Calon anakmu.

Minji tertawa sinis mendengar ucapan Hanna barusan. Dia kembali menghadap cermin untuk merapikan penampilannya kembali, sebelum akhirnya melangkah pelan dan menabrak bahu gadis penggoda itu dengan keras.

Tidak akan. Kali ini bukan aku yang akan menangis di akhir cerita, melainkan kau, nona Jung!

 

— FIN —

Well... I know it's my first fanfiction with Choi Minho as the main character..
Ehm... seperti biasa aku sisipi adegan romance JiHun disini...
Karena aku hari ini lagi males bikin A/N panjang, jadi langsung ke inti aja ya...

PLEASE, TRY TO BE A GOOD READERS

Aku tau kalian itu sebenernya baik, jadi bisa kan kasih aku feedback yang membangun setelah baca ini...
Okelah, aku ini author baru jadi aku masih butuh feedback dari kalian untuk kemajuan ceritaku mendatang...

Mungkin segitu aja dariku...
Oh ya, hampir lupa...

FF ini special birthday buat ma beloved Choi Minho...
Happy Birthday and I love you...

Warm Regards,

BaekMinJi93
Iklan

4 thoughts on “[Vignette] (Special Minho’s Birthday) The Beautiful Guise

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s