Espresso Kiss

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

 

giphy.gif

ESPRESSO KISS

 

Pecandu kopi.

Mungkin julukan di atas cocok untuk gadis yang kerap disapa dengan nama Amanda itu. Gadis itu bahkan sempat mengatakan jika ketergantungannya terhadap kopi sama halnya dengan ketergantungan Bumi terhadap sang Mentari. Bagaikan insan di dunia yang tak bisa hidup tanpa kehadiran sinar sang surya, maka Amanda juga akan berlaku sama jika saja secangkir kopi tak hadir di kehidupannya barang sehari saja.

“Ini kopi yang anda pesan sebelumnya, Nona.”

“Terima kasih,” sahutnya seraya menampakan lengkungan manis di wajahnya dengan sengaja.

Selepas pelayan cafe itu berlalu, Amanda kembali melayangkan fokus pada layar laptopnya. Seiring sekon waktu berjalan, maka saat-saat itulah Amanda dapat menikmati dunia yang ia ciptakan sendiri. Raut senang hingga serius pun tak segan ia pahat di wajahnya sembari jemari telunjuknya menari di atasan barisan huruf yang tak urut berdasarkan abjad itu. Mungkin Amanda akan terus bersikap seperti itu jika saja sebuah suara bariton tak bertamu di kedua rungunya.

“Luwak lagi?”

Tanpa perlu repot-repot melihat siapa pelaku yang menyapanya dengan nada sarkastis tersebut, Amanda sudah yakin jika perkiraannya tidak akan meleset. Bahkan ia sempat mendecakkan lidahnya kesal, tanda jika dirinya tergganggu dengan kehadiran sosok itu.

“Seiring berjalannya waktu, aku tidak menyangka jika ternyata seleramu masih sama seperti dulu,” lanjut sosok itu tak peduli apakah sang lawan bicara menanggapi perkataannya atau tidak. “Hei, Nona! Sepertinya kau tidak bodoh untuk menebak siapa yang aku ajak bicara sekarang dan setidaknya dia masih mampu untuk menjawab bukannya memilih bungkam seperti patung.”

Kedua cuping Amanda seketika terasa memanas kala ucapan menusuk itu berhasil ditangkap oleh sang gendang telinga.

“Memangnya kenapa jika aku memilih untuk menjadi patung dan tidak menanggapi semua ocehanmu? Apa dunia akan kiamat seketika karena hal itu?”

“Itu terdengar sangat mengerikan, Nona.”

Sontak Amanda mendelik kesal kala mendengar ucapan ringan sang lawan bicara, sedangkan yang—yang seharusnya—menerima tatapan sinis tersebut malah melempar pandang ke luar jendela cafe sembari menyesap kopi latte-nya dengan gaya santainya.

Amanda berdecih pelan, “Kau juga tak ada bedanya denganku. Masih bersikap pecundang untuk berhadapan dengan pahitnya espresso.”

Merasa dilecehkan, sosok yang dihadapan Amanda yang tak lain dan tak bukan berjenis kelamin lelaki itu merasa tak terima. “Aku bukan pecundang, asal kau tahu saja.”

Wow … santai, bro,” ujar Amanda disertai dengan kekehan geli di akhir kalimatnya. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. “Jika kau tak merasa menjadi pecundang, kenapa aku masih mendapati kandungan susu di sana, hm?” lanjutnya seraya mengendikan dagu ke arah di mana secangkir latte milik pemuda itu bertengger manis.

Pemuda itu seketika membungkam. Kala pemandangan itu tertangkap oleh sang netra, Amanda tak segan menampilkan senyum lebarnya.

“Sudah mengaku saja. Aku beri tahu, ya. Mengucap kata ‘ya’ tidaklah sesulit merencanakan sebuah kebohongan besar yang selama ini kau umbar kepada seluruh gadismu di luar sana. Mungkin mereka akan percaya pada ucapanmu begitu saja, tapi aku? Huh, jangan mencoba bermimpi terlalu tinggi, Jac!”

Setelah sekian lama percakapan mereka berjalan dengan panas, akhirnya Amanda sudi merapal sebuah nama yang begitu ia benci itu. Entah apa yang melintas di benak pemuda yang Amanda panggil dengan nama ‘Jac’ itu hingga akhirnya melontarkan sesuatu yang bagi seorang Amanda tak ada bedanya dengan sebuah pernyataan bunuh diri.

“Ayo kita taruhan!”

“Malas sekali jika pada akhirnya akulah yang akan memenangkannya.”

Jac mendengus kesal. “Bilang saja jika kau takut, Nona pecandu!”

Sial, dia meremehkanku rupanya, pikir Amanda merasa tertantang.

“Baiklah, ayo taruhan. Apa yang kau inginkan?”

Amanda sengaja berkata seperti itu agar ia tak terkesan serupa dengan sang lawan. Yang pada awalnya hanya ada raut mengeras di rahang pemuda itu, kini perlahan sebuah senyum mulai terukir di wajah yang terdapat kacamata minus menghiasinya.

“Kembalilah ke pelukanku.”

Mata membelalak dan mulut terbuka merupakan reaksi pertama yang diberikan Amanda untuk Jac. Terkesan bodoh memang, tapi toh itu kenyataannya.

“KAU GILA?!” pekik Amanda yang tentu saja menarik seluruh atensi pengunjung cafe mengarah padanya.

“Tidak. Aku masih termasuk dalam kategori waras untuk hal yang kau ucapkan barusan.”

“Tidak! Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu, Pecundang!

Tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, Jac hanya menghembuskan napas kasar kala sang otak seketika menyerah untuk meyakinkan sang mantan kekasih jika ia benar-benar tidak berbohong kali ini.

“Terserah kau mau percaya atau tidak, itulah keinginanku. Kau tidak bersedia? Baiklah, kemenangan mutlak milik—”

“OKE!” potong Amanda cepat sebelum pemuda bernama Jac itu benar-benar menyelesaikan ucapannya. “Aku menyetujuinya. Toh lagipula aku yakin aku pemenangnya, kau kan paling tidak bisa minum kopi.”

Tatapan remeh itu masih saja bersarang di wajah cantik Amanda dan membuat tekanan darah Jac semakin naik.

“Kau tidak menyatakan keinginanmu jika kau menang?”

Amanda tertawa kecil. “Untuk apa? Sudah kubilang, kaulah pecundangnya, Jac.”

Jac memilih bungkam dan lebih memilih untuk mengutuk sang mantan di batinnya. Pemuda itu menatap Amanda dengan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan dengan jelas. Rasa rindu dan kesal menjadi satu.

“Pelayan!” panggil Jac seraya mengangkat tangan kanannya ke arah pemuda dengan setelan putih dan hitam disertai apron bertuliskan nama cafe tersebut. “Kopi lanang sa—”

“Ah, sial! Kenapa kau memesan kopi itu? Tidak boleh.” Amanda menatap pemuda itu dengan tatapan kesal. “Satu espresso tanpa gula.”

Sekarang pelayan itulah yang merasa kebingungan.

“Tuan memesan kopi lanang dan nona memesan espresso. Maaf sebelumnya, tapi kopi apa yang sebenarnya anda—”

“Kau juga!” Decakan kesal pun bersumber dari sang gadis. “Kenapa kau sangat berisik? Cepat bawakan secangkir espresso kemari!”

Melihat wajah memerah dari sang gadis, tak pelak membuat Jac berpikir jika hal itu terlihat lucu.

Wow … kau tidak perlu emosi, Nona manis.”

“Kau gila!” Bukannya tersinggung, pemuda itu malah tertawa puas. “Kenapa kau malah tertawa, huh?!

Seketika itu juga tawa meledak milik pemuda itu lenyap dan yah … itu cukup membuat Amanda sempat terpaku dan berpikir jika pemuda di hadapannya ini benar-benar bodoh.

“Dasar bodoh,” umpat Amanda pelan sembari kembali melempar fokus ke layar laptopnya kembali.

Merasa kembali terabaikan, Jac kembali bersuara. “Apa itu? Project lagi?”

“Bukan urusanmu,” sahut Amanda sembari tak melepas pandang dari layar.

Jac lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal.

“Hei! Kopinya datang!”

“Tunggu apa lagi? Cepat minum dan buktikan jika kau benar-benar bukanlah seorang pecundang espresso.”

Entah apa yang ada di benak pemuda itu selama beberapa menit berjalan yang hanya dilaluinya dengan diam.

“Jac?” panggil Amanda yang berhasil membuyarkan lamunan pemuda itu.

Dengan tarikan napas dalam, pemuda berkacamata itu meraih cangkir tersebut. “Baiklah aku akan meminumnya seka—”

“Tunggu!” cegah Amanda sebelum kopi itu benar-benar Jac sesap. Gadis itu sempat memandang pemuda itu sejenak, sebelum kembali membuka suara. “Aku benci mengatakannya, tapi aku tidak mau membuat satu dosa yang semakin membuat tumpukan dosaku menggunung.”

Jac berdecih pelan mendengarnya.

“Tidak usah sok berdecih seperti itu, toh kujamin kau akan menyukai ucapanku setelah ini.”

Kedua alis Jac seketika menaut menandakan jika ia merasa penasaran dengan ucapan milik—mantan—gadisnya.

“Karena aku tahu kau benar-benar tidak tahan dengan kopi—tidak termasuk latte, tentunya. Maka seandainya kau tidak bisa menghabiskan secangkir espresso itu, aku tidak ingin kau memintaku agar menghabiskannya. Karena …. ”

“Karena apa?”

Jac mengangkat sebelah alisnya penasaran dan untuk kesekian kalinya gadis itu mendecakan lidahnya kesal—yang mungkin saja akan menjadi sebuah hobi barunya kali ini.

“Karena itu sama saja kau mengajakku berciuman denganmu, Bodoh!

 

FIN

Iklan

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s