[Vignette] The Old Ring

12615316c44a00bca3b90a64da69fa3c.jpg

THE OLD RING —

©2017, BaekMinJi93

.

Starring with

Produce 101 Maroo Ent. Trainee’s Park Jihoon OC’s Cassie Hwang

.

| AU! Comfort Friendship Romance Slice Of Life | Vignette | Teenagers |

.

Disclaimer

This plot and OC purely mine!

Happy reading 🙂

.

Get inspired from

Prompt from Pinterest

.


Kepalan jemari lentik Cassie mengetuk pintu berbahan kayu jati itu sekali lagi. Guling gepeng-nya ia peluk semakin erat sembari menunggu sang pemilik kamar menunjukkan eksistensinya.

“Masuklah!”

Cassie lantas memutar kenop pintu kala seruan bernada perintah tersebut merasuk ke dalam rungunya. Pamandangan yang pertama kali sepasang fokusnya tangkap saat tungkai kanannya menciptakan sebuah langkah ialah sosok Park Jihoon—sahabatnya—bertelanjang dada, yang sontak membuat sang gadis memekik keras.

Cih! Yang benar saja.

“SIAL! CEPAT GANTI BAJUMU, BODOH!”

Kendati menuruti, entah mengapa senyum di wajah Jihoon seketika melebar. Dengan gerakan santai seolah tak mempunyai dosa barang secuil pun, Jihoon mengenakan kaos pororo-nya.

“Dasar,” gumamnya sambil terkekeh. “Buka matamu. Tenang saja, semua sudah aman kok.”

Cassie membuka matanya ragu sebelum akhirnya melempar gulingnya tepat di wajah pemuda Park tersebut dengan kesal.

“Dasar gila!” selorohnya sembari kembali merajut langkah dan menghempaskan diri di atas ranjang Jihoon. “Aku akan menginap di sini malam ini.”

Hm.

Tanggapan singkat yang baru saja Jihoon berikan seketika membuat kedua alis Cassie tertaut. “Kenapa? Kau tidak suka?”

“Siapa yang bilang seperti itu?” balas Jihoon balik bertanya. Pemuda itu lantas menghempaskan diri di atas ranjangnya jua. “Bahkan ibu sudah menyiapkan setoples cookies untuk malam panjang kita.”

Malam panjang?

Oh siapapun di sana, tolong hentikan fantasi liar milik Cassie Hwang seorang.

Jihoon lagi-lagi terkekeh melihat reaksi polos sahabatnya. “Astaga, apa yang sedang kau pikirkan, Cass? Maksudku, aku tahu kau akan mengoceh panjang lebar malam ini, jadi ibu menyiapkan setoples cookies untuk menemani perbincangan kita. Kita akan pesta cookies! Yuhu! Kau senang?”

Alih-alih bersemangat, dara Hwang itu hanya tersenyum samar. “Entahlah, aku tidak yakin.”

Mengerti akan arti isyarat tubuh yang Cassie berikan barusan, Jihoon seketika bangkit dari acara berbaringnya. “Atur posisi tidurmu, Cass. Aku akan mengambilkan cookies-nya,” ujarnya lembut sambil mengacak surai kecoklatan sang gadis sekilas.

Jihoon paham jika Cassie benar-benar membutuhkan dirinya saat ini.

Menuruti ucapan Jihoon sebelumnya, kini Cassie berbaring dengan nyaman di atas ranjang Jihoon. Ingatan di benak akan kejadian siang lalu seketika terputar tanpa pernah ada niatan sedikit pun darinya. Luka di hati semakin terasa seolah ada seseorang yang sengaja menaburkan garam di atasnya. Bahkan sungai di pelupuk matanya hampir saja meledak jikalau suara lembut Jihoon tak bertandang di kedua telinganya.

“Ibumu sudah tidur?” Cassie sengaja melontarkan pertanyaan tak penting tersebut guna menyembunyikan nada sedih yang kental di dalam suaranya.

Jihoon menggeleng pelan dan meletakkan setoples cookies yang baru saja diambilnya di atas nakas. “Belum. Katanya ia tidak akan pergi tidur sebelum kau benar-benar terlelap.”

“Oh Tuhan …,” secuil rasa bersalah kini bersarang di hati Cassie. “Tapi rencananya aku akan berbagi cerita banyak denganmu, Jihoon-ah.”

Entah mengapa, Jihoon sontak tergelak. “Aku hanya bercanda, Cass. Tenang saja, ibuku sudah damai dengan alam mimpinya. Jadi kau bisa bercerita selama yang kau mau.”

“Ah, kau benar-benar menyebalkan, Jihoon-ah!” rutuk Cassie kesal, sedangkan sang lawan bicara meneruskan tawa puasnya. Namun sedetik kemudian tawa Jihoon seketika terhenti saat mendengar nada suara Cassie berubah serius. “Berbaringlah.”

Meski merasa bingung dengan semua ini, namun Jihoon tetap saja menuruti permintaan si dara.

“Bolehkah aku memelukmu?”

Jihoon membuka lengannya lebar. “Tentu.”

Tanpa membuang waktu, Cassie pun lantas tenggelam dalam bahu bidang milik sang sahabat. Kumohon kau tak perlu berpikiran macam-macam. Sudah menjadi sebuah tradisi sejak kecil bagi mereka berdua untuk menginap di kala salah satu di antara mereka berdua dilanda masalah, menurut mereka dengan begitu beban di hati akan sirna akibat kenyamanan yang diberikan satu sama lain.

Entah mengapa, kristal bening yang susah payah ia simpan sebelumnya luruh seketika. Meskipun banyak tanda tanya besar yang tercipta, Jihoon lebih memilih bungkam dan menunggu sang gadis membuka suara dengan sendirinya. Untuk kesekian kalinya ia memilih untuk mengusap rambut sang sahabat sebagai alternatifnya.

“Menangislah jika kau ingin menangis. Aku di sini untukmu, Cass.”

Dan tangis Cassie semakin parah ketimbang sebelumnya, namun Jihoon berharap setidaknya hal itu dapat mengurangi beban si gadis meskipun hanya sedikit.

“Haknyeon …,”

Satu nama yang terlontar dari bibir Cassie tanpa sadar membuat kepalan tangan Jihoon seketika mengerat. Alih-alih bereaksi, Jihoon masih memilih bungkam dan menanti lanjutan ucapan sahabat kecilnya tersebut.

“Aku melihatnya berciuman dengan Mina.”

BOOM!

Emosi Jihoon sontak meledak tepat di saat kalimat Cassie berakhir diiringi dengan tangisan pilu. Ia seakan dapat merasakan rasa kecewa Cassie saat ini dan entah mengapa hatinya terasa sakit melihat Cassie terlihat begitu rapuh.

“Lupakan dia.” Jihoon membuka suara, sedangkan Cassie sontak melepas pelukannya dan menatap Jihoon dengan tatapan tak percaya. Dengan gerakan lembut, pemuda Park tersebut menyeka sisa air mata si gadis. “Lupakan dia, Cass. Dia tak pantas bersanding dengan gadis sesempurna dirimu. Aku yakin banyak pemuda yang jauh lebih baik di luar sana yang menunggumu untuk membuka hati.”

“Tapi aku sangat menyukainya, Jihoon. Aku tak ingin kehilangannya.”

“Aku juga tak ingin kehilangan dirimu. Jadi kumohon jangan hancur hanya karena pemuda brengsek seperti dirinya.”

Cassie mengerjapkan kedua kelopak matanya pelan, seolah mencerna apa yang baru saja Jihoon katakan padanya.

“Jihoon …. ”

Namun Jihoon lebih dulu bangkit dari tidurnya dan merajut langkah ke arah nakasnya. Ia membuka laci dan meraih sesuatu. Meski samar, namun Cassie yakin Jihoon tengah mengukir senyum sekarang. Lebih tepatnya senyum penuh harapan.

Well …,” Jihoon sempat memberi jeda sejenak serta berdeham kecil. “Aku tahu ini terkesan jauh dari kata tepat waktu. Namun aku sudah tak dapat menahannya lagi. Aku tak ingin melihatmu hancur berkeping-keping dan menangis hanya karena pemuda yang tak pernah memalingkan atensinya padamu. Kau cantik, Cass. Jadi percayalah kau berhak mendapat pemuda yang lebih baik dari Joo Haknyeon.”

Demi kaus kaki merah jambu berbau milik Park Jihoon seorang, Cassie berani bersumpah jika ia benar-benar tak mengerti akan makna dari ucapan Jihoon yang baru saja ia dengar.

Kini Cassie terduduk di tepi ranjang. Dengan tatapan polosnya, ia kembali bersuara. “Jihoon, aku sungguh tak mengerti maksud ucapanmu.”

Kendati menjelaskan lebih lanjut, Jihoon bersimpuh di hadapan Cassie seraya membuka kotak kecil yang ternyata berisi sebuah cincin. Bohong jika Cassie tak mengenal cincin itu. Bagaimana tidak? Cincin itu adalah cincin buatan tangan Jihoon untuknya. Meski berbahan dari tangkai tanaman sirih, Jihoon mengatakan jika cincin itu ia buat sepenuh hati dan istimewa untuk Cassie sepuluh tahun yang lalu.

Oh Gosh, waktu benar-benar berjalan secepat kilat.

“Jihoon, cincin itu—”

“Aku melamarmu, Cass.” Dan Cassie pun semakin bingung dibuatnya, namun sepertinya Jihoon tak menyerah. “Tak ingatkah kau jika kita adalah sepasang suami istri?”

Cassie menepuk dahinya tak habis pikir. Ia pun tergelak seakan ucapan Jihoon adalah hal terkonyol di dunia.

“Tapi Jihoon, itu hanyalah candaan sepasang anak kecil berumur sembilan tahun. Tidak lebih.”

“Tapi jika aku menganggapnya lebih, bagaimana?” tukas Jihoon yang seketika membuat Cassie kembali bungkam.

“Tapi Jihoon, kita masih—”

“Aku tahu itu. Tanpa kau jelaskan sekalipun aku mengerti jika kita hanyalah sepasang remaja berusia sembilan belas tahun. Tapi waktu berjalan cepat dan di saat itulah aku akan benar-benar mengikatmu untuk menjadi milikku, Cass.”

“Jihoon—”

Cup!

Jihoon menghentikan semuanya. Ia sengaja melakukannya karena Jihoon pikir jika ini adalah satu-satunya jalan guna membuat Cassie percaya padanya dan jangan lupakan bagaimana senangnya Jihoon di kala Cassie mulai membalas ciumannya.

“Jika perkiraanku tak meleset, ini ciuman pertamamu ‘kan?”

Tanpa dikomando sebelumnya, semu merah sontak menghiasi kedua pipi sang dara Hwang.

“Bilang saja jika kau juga baru merasakannya, Park!”

Jihoon tersenyum sumringah. “Ternyata rasanya manis juga, ya?”

Mendengarnya, refleks Cassie memukul bahu Jihoon keras yang tentu saja membuat sang korban mengaduh.

“Berlebihan!” gerutu Cassie, tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya.

“Senang melihatmu kembali tersenyum,” ujar Jihoon tiba-tiba yang seketika membuat Cassie kembali diam. “Jadi bagaimana? Kau mau menerimaku?”

Cassie masih saja bungkam dan tak berani menatap ke arah Jihoon tepat di kedua maniknya. Layaknya jemuran, perasaan Jihoon kini terombang-ambing bagaikan diterpa angin musim gugur hanya demi mendengar jawaban dari Cassie.

Namun senyum Cassie tiba-tiba mengembang. “Kenapa begitu serius? Tentu saja aku menerimamu, Jihoon-ah. Terima kasih untuk semua yang kau berikan padaku selama ini.”

Untuk kesekian kalinya, Cassie menghambur ke dalam pelukan Jihoon. Seakan menular, Jihoon pun lantas mengukir senyum lebarnya.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga,” balas Cassie. Seakan teringat sesuatu, gadis itu melepas pelukannya tiba-tiba. “Entah mengapa aku merasa horor saat ini.”

Dengan alis tertaut, Jihoon menatap Cassie yang meraih gulingnya tergesa. “Kenapa?”

“Aku tidak jadi menginap malam ini. Aku pulang, Jihoon-ah. Sampaikan salamku pada ibumu, oke? Selamat malam.”

Dan siluet Cassie menghilang setelah ia melewati pintu kamar Jihoon. Sedangkan pemuda Park itu hanya dapat tertawa kecil melihat tingkah polos sang sahabat—err … ralat, sang kekasih maksudnya.

Jihoon kembali menghempaskan diri di atas ranjangnya masih dengan senyum yang ia pasang di wajahnya. “Dasar gadis polos. Tapi itu yang kusuka darinya. Selamat malam, Cassie sayang.”

FIN

Some notes from me:

  • HAPPY BIRTHDAY, MY FIRST BIAS ON PRODUCE 101’s JIHOON OPPA :* :* :* Wish you all the best and God bless you!
  • Happy debut fict with my new couple, Park Jihoon x Cassie Hwang. Let you say hi for them :))

Last, thank you and see ya!

 

Warm Regards,

—BaekMinJi93

Iklan

4 thoughts on “[Vignette] The Old Ring

  1. Oke. Oke. Oke.
    Aku ndak bilang aku ingin menjadi cassie hwang becoz aku pun ga siap kalo winkeu boy ku gercep gini jg. But indeed it’s a cute fic!

    Pertama, izinkan aku berkata jujur bahwa ketika aku baca jihoon lg topless, yg muncul di pikiranku adalah perut embul dia.

    Kedua. Fic ini mengingatkanku akan fic chaniku. Juga di hari ultah dedek itu.

    Ketiga… Park jihoon… Aaaa be sisain org kek dia… Why aku suka cara dia ngehibur… Pengiburan yg berakhir dgn lamaran ya astaga siapa yg ga baper kalau digituin…
    Terus… How can he manage to keep a tiny thing from 7 years ago without losing it? Apakah cincin mainannya sengaja dia taro di kotak beludru? /pulangce

    Happy bornday to my winkeu boy, my talented man, my sunshine PARK JIHOON… I will always love u no matter what ❤
    Dan be… Tks udh bkin baper pagi2 /melipir bersama winkdeep

    Suka

    1. Jangankan Kace, aku sendiri pun tak kuat buat gak baper bikin fiksi ini kak /maafkan aku karena telah melupakanmu sejenak, Bae 😘/

      Pertama, tak perlu seperti itu. Adakah pepatah yang mengatakan jika, “Perut embul adalah awal dari keindahan abs?” 😂😂😂 /oke ini ngaco abis 🤣 maaf/

      Kedua, hahaha seketika aku ingat adegan ‘malam itu’ 😁😁😁

      Ketiga, kalo aku ilmuwan yang bisa nyiptain orang cem jihoon, aku bakalan kasih lebih dari satu deh buat Kace 😊 karena aku juga menginginkannya dan seperti ada ralat sedikit, Jihoon nyimpen cincin itu sepuluh tahun kak 😊. Iya dia nyimpen di kotak bludru atau semacamnya, jadi awet 😁

      Last, thanks udah sempetin mampir kemari dan sekali lagi HAPPY BIRTHDAY BUAT KAKAK COGANKU 😘. But, itu itu si ‘deep’-nya jangan dibawa, biarin dia melipir sama aku aja, Kak 🤗🤗🤗

      Suka

Please take your bill here, dear ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s